Tag

, , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Soetomo (1933) pernah berpesan agar Panjebar Semangat bisa “menjebarkan batjaan bagi rakjat”. Pesan itu dilaksanakan dengan penerbitan buku-buku “bermutu” tapi “murah”. Puluhan buku terbitan Panjebar Semangat ada di lemari: mengingatkan sejarah sebaran “batjaan bagi rakjat” di masa lalu. Aku sering memang dan memegang seolah merasai sejarah bersama kata dan gambar.

Panjebar Semangat menerbitkan seri “Buku Melati” di masa 1950-an. Keterangan resmi: “Risalah ini ditudjukan untuk batjaan rakjat guna kemadjuan lahir batinnja, sebagai sumbangan pembangunan djiwa bangsa jang telah merdeka.” Misi idealistik saat Indonesia harus memartabatkan diri dengan melek aksara. Kaum pembaca di Indonesia telah terbentuk sejak lama. Pembaca seri “Buku Melati” tentu turut memberi rangsangan atas “kemadjuan” dan “pembangunan”.

Aku ingin “terlena” dalam buku seri “Buku Melati” berjudul Kuntji Sukses: Pembuka Pintu Kemadjuan karangan Iman Supardi. Penerjemah ke bahasa Indonesia adalah Amak Sjarief. Buku kecil dan lugu. Sukses? Ungkapan ini sering jadi pengesah dari karier kerja, kepemilikan harta, popularitas…. Sukses berasal dari bahasa Prancis. Publik terbiasa mengartikan sukses “menjauh” dari pengertian “asli”. Imam Supardi menerangkan: “Ketegasan dari arti jang lebih terang, sukses itu: hasil baik dari terlaksananja apa jang dikerdjakan. Lebih terang lagi: hasil usaha atau perdjoangan jang telah dilaksanakan dengan berhasil baik, itu disebut: sukses.”

Ungkapan sukses di masa lalu mengisahkan dambaan publik mengubah nasib dan membesarkan Indonesia. Ungkapan ini masih bertahan selama puluhan tahun. Aku tak tahu sebab ungkapan sukses diawetkan. Barangkali awet oleh kamus atau omongan jutaan orang. Sukses ada di kamus, buku pelajaran, iklan, brosur, spanduk, televisi… Aku sudah bosan dan risih jika mengartikan sukses berlatar pekerjaan, uang, rumah, mobil, jabatan…

Aku tergoda untuk mengutip ajaran sukses melalui kesusastraan Jawa. Mangkunegoro IV dalam Darmalaksita dianggap mengajarkan kesuksesan dalam kehidupan. Ajaran sukses tak melulu dari politikus, pengusaha, motivator, ulama, artis… Iman Supardi menjelaskan: “Njatanja ada djuga pudjangga lama kita jang dalam hal mentjari kebahagiaan hidup, memberi berbagai petundjuk. Tetapi hampir semua peladjarannja dirangkum dalam bahasa kesusasteraan, pula tidak setjara berterus terang apapula radikal. Sebab itulah sedikit sekali jang memetik hasil baik tadi.”

Imam Supardi mengingatkan bahwa para pedamban sukses bakal kesulitan jika mencari ajaran sukses melalui sastra. Mereka tentu memilih bacaan-bacaan ringan dan

Berlimpah motivasi. Buku-buku tentang rumus, strategi, langkah menuju sukses justru bertebaran di toko, perpustakaan, sekolah, kampus, rumah. Buku-buku itu mendapat umat pembaca dan “mengubah” impian publik dengan mantra dan ilusi. Aku pun cuma bisa berdoa agar para pembaca buku-buku wagu itu lekas bertobat sebelum harga garam mencapai sejuta rupiah untuk 1 kilogram.

Buku Kuntji Sukses: Pembuka Pintu Kemadjuan mencantumkan anjuran-anjuran mujarab: “Kebalikan daripada sukses itu: gagal. Djadi kalau saudara ingin mentjapai sukses harus mendjauhi tindakan-tindakan jang menjebabkan kegagalan. Kalu sungguh-sungguh hendak menemukan kuntji sukses agar dapat membuka gerbang kebahagiaan, – harus dapat menjingkiri tindakan-tindakan jang menjebabkan kegagalan.”

Kalimat itu bakal deras mengalir di mulut para pengumbar motivasi di televisi, kampus, hotel… Aduh! Sukses adalah candu kata. Aku terlalu bercuriga dengan keputusan orang untuk mengikuti seminar tentang sukses atau membeli-mengoleksi ratusan buku tentang sukses. Ungkapan sukses semakin moncer di kampus melalui perkuliahan kewirausahaan. Para mahasiswa fasih mengucap sukses dan meninggikan angan-angan sebagai manusia sukses. Mereka membaca dan menghafalkan ungkapan-ungkapan sakral dalam buku. Ikhtiar dilanjutkan dengan berkhotbah pada orang lain mengenai sukses dalam sekarung kalimat klise.

Petuah-petuah para tokoh dimuat dalam buku Kuntji Sukses: Pembuka Pintu Kemadjuan agar semakin melenakan pembaca. Para tokoh berasal dari Timur dan Barat. Kalidasa berpetuah: “Mengingat-ingat hari kemarin, seperti mimpi mendapat kentjana, – melamunkan hari esok seperti melihat tjahaja pengharapan. Maka jang penting: pikir dan nikmatilah hari ini.” Josodipuro II berpetuah: “Kalau engkau ragu-ragu dan bimbang, akan mendapatkan sengsara, – sebaliknja kalau tekadmu kautempa djadi satu, segala apa kehendakmu akan terlaksana.”

Herbert N. Casson berpesan: “Sukses itu bukan terletak pada soal jang melulu kita sendiri jang harus mewudjudkan, tetapi jang penting sukses itu hendaknja dibuat oleh orang lain untuk kita.” Dale Carnegie berpesan: Kemadjuan orang lain, pudjilah dan hargailah sampai pada soal-soal jang remeh. Agar mudah mendapatkan persetudjuan dan gampang menerima bantuan mereka dengan rasa gembira.”

Aduh! Aku terlalu sering mengutip kalimat-kalimat berkhasiat untuk menjadi orang sukses. Kalimat-kalimat dari para tokoh itu mungkin gampang diingat ketimbang puluhan halaman di awal. Pembaca memiliki hak memilih halaman-halaman paling memikat dan melupakan puluhan halaman lain demi kecanduan motivasi. Aku telah mengkhatamkan buku Kuntji Sukses: Pembuka Pintu Kemadjuan tanpa kehendak untuk menjadikan diri sebagai motivator kelas lokal. Aku pasti malu. Begitu.

Iklan