Tag

, , , , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Kaum sastrawan mengumumkan penentuan Hari Sastra Indonesia di Bukittinggi, 24 Maret 2013. Aku membaca berita-berita tentang peristiwa ganjil itu di Kompas dan Republika. Indonesia bakal bertambah “hari keramat” atau “hari peringatan”. Mereka menginginkan Hari Sastra Indonesia mengacu ke tanggal kelahiran Abdoel Moeis, 3 Juli 1883. Pilihan tanggal dan tokoh dianggap sudah merepresentasikan pemaknaan sastra di Indonesia. Aku mulai ragu dan bingung.

Berita-berita dari Bukittinggi menimbulkan reaksi: menulis 2 esai dan disetorkan ke koran. Pikiranku tak runtut untuk menanggapi maklumat selebrasi Hari Sastra Indonesia. Buku-buku lawas aku gunakan sebagai referensi: permainan ingatan dan argumentasi. Maklumat itu hampir tanpa efek. Para pengarang di Solo tak bergairah mempercakapkan Hari Sastra Indonesia. Aku cuma mendengar ada gugatan dari kaum sastrawan mengenai pilihan tanggal. Pengumuman di lakukan di Solo, 23 Maret 2013. Para penggugat ini mengumumkan Hari Sastra Indonesia mesti menggunakan tanggal kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Aduh! Pengumuman ini juga membuatku ragu dan bingung.

Aku memilih untuk mengurusi buku lawas saja. Aku tergoda oleh buku berjudul Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? (Bhratara, 1964) susunan Ajip Rosidi. Pengarang ini telah memikatku sejak lama melalui novel, cerpen, puisi, esai. Novel Di Tengah Keluarga telah lama ada diingatanku saat mulai menapaki jalan sastra. Pemberian judul buku mengenai waktu dan sastra justru mengundang penasaran. Ajip Rosidi memang tak sekadar mengajukan perkara waktu. Buku ini memuat puluhan esai dan korespondensi antara Ajip Rosidi dengan Roestam Effendi.

Ajip Rosidi mengawali keterangan waktu-kelahiran sastra Indonesia dengan alinea menggugat: “Setiap orang jang hendak membitjarakan kesusastraan Indonesia setjara historis, tentu pertama-tama akan berhadapan dengan pertanjaan: ‘Pabilakah bermulanja kesusastraan Indonesia itu?’ Hingga sekarang pertanjaan itu seakan-akan dengan sengadja dihindari oleh kebanjakan para penelaah sastra Indonesia, sehingga dalam membitjarakan sedjarah kesusastraan Indonesia mereka dengan gampang sadja bermula dari kesusastraan Melaju dan dengan tidak tergugah nuraninja sedikitpun, mereka memasukkan dan mengaku Abdullah bin Abdulkadir Munsji, pengarang Semenandjung kelahiran Tamil sahabat karib Raffles jang hidup abad jang lalu itu sebagai tokoh pembaharu sastra Indonesia.”

Aku menerima gugatan itu sebagai ikhtiar “mengganggu” penulisan sejarah resmi mengenai kesusastraan di Indonesia. Buku-buku pelajaran dan kuliah masih sering mencantumkan sastra Indonesia bermula dari “sastra Melaju” dengan ketokohan Abdullan bin Abdulkadir Munsji. Pengetahuan ini bertahan selama puluhan tahun. Para kritikus sastra dan peneliti sastra juga masih kebingungan mencari waktu-kelahiran dan argumentasi-argumentasi untuk “menentukan” sastra “berjiwa” Indonesia.

Ajip Rosidi melanjutkan keterangan: “Bagi saja sastra Melaju dan sastra Indonesia berbeda, jang dipertjiri oleh suara dasarnja, jakni nasionalisme. Sastra Melaju tanpa nasionalisme Indonesia kedudukkannja sama dengan sastra daerah klasik jang lain, jang ditulis dalam bahasa-bahasa daerah Djawa, Sunda, Bali, Bugis, Batak, Atjeh, dan lain-lain.” Pengertian ini bisa jadi alasan menulis ulang sejarah kesusastraan di Indonesia.

Abdoel Moeis menulis novel Salah Asoehan (1928) beraroma “nasionalisme” meski menggunakan “bahasa Melaju” dan mengisahkan “Indonesia” di masa kolonialisme. Novel Salah Asoehan terbitan Balai Pustaka tentu tak termasuk deretan “sastra daerah” atau “sastra Melaju tanpa nasionalisme Indonesia”. Lho! Aku ingin mengingat lagi Abdoel Moeis dan Salah Asoehan agar tak gampang melupa sastra di masa silam. Ingatan kaum sekolah atau kuliah sering mengenang sastra modern (di) Indonesia adalah novel-novel terbitan Balai Pustaka di masa 1920-an. Ada novel-novel garapan Abdoel Moeis, Merari Siregar, Maras Roesli, Nur Sutan Iskandar….

Aku ingin membelok sejenak ke halaman-halaman berisi surat Roestam Effendi dan Ajip Rosidi. Pemuatan dua surat ini di buku Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? memiliki arti penting untuk menelisik peran Roestam Effendi dalam sejarah kesusastraan di Indonesia sejak masa 1920-an. Nama pengarang ini melekat dengan dua buku berjudul Pertjikan Permenungan dan Bebasari. Buku Bebasari aku sudak membaca dan mengoleksi sejak SMA. Buku Pertjikan Permenungan masih belum “memanggilku” untuk jadi bacaan mengesankan.

Surat Roestam Effendi, 18 Maret 1962, memuat pengakuan diri dan pandangan atas sejarah sastra di Indonesia. Roestam Effendi menulis: “Ditindjau dari zaman saja menulis buku-buku saja itu, sebetulnja pengeluaran Bebasari dan Pertjikan Peremenungan adalah suatu ‘revolusi’ dalam dunia kesastraan. Tidak seorang penerbit jang mau atau berani mengeluarkan buku-buku saja itu, karena menganggap tulisan saja itu bukan ‘sjair atau pantun’ jang dibiasakan orang, melainkan ‘tulisan anak muda kepedasan’ jang tak kenal hara! Mendobrak gerbang kelaziman jang telah berurat-berakar dalam anggapan masjarakat memanglah tidak pekerdjaan jang mudah! Ahirnja saja terpaksa menerbitkan buku-buku tersebut atas ongkos dan risiko sendiri!”

Surat ini membuatku tergoda ketimbang mengurusi Abdoel Moeis dan Hari Sastra Indonesia. Roestam Effendi tak sekadar pengarang. Tokoh ini pernah beraliran kiri dan berpolitik di Belanda. Abdoel Moeis juga tak cuma pengarang novel. Buku-buku sejarah sering mencantumkan nama Abdoel Moeis di kesejarahan Sarekat Islam dan Volksraad. Dua tokoh sastra itu berpolitik. Aku ingin menulis tentang Roestam Effendi dulu untuk meniliki intimitas sastra dan politik di masa silam. Abdoel Moeis telah diurusi oleh puluhan sastrawan kondang untuk selebrasi Hari Sastra Indonesia. Aku harus tekun membaca dan mempelajari buku-buku Roestam Effendi tapi tak harus berniat mengajukan usulan peringatan Hari Sastra Indonesia atau Hari Pengarang Indonesia. Begitu.

Sastra 1

 

Iklan