Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Peristiwa saat bersekolah di masa silam masih teringat. Aku cuma mengingat peristiwa berliterasi. Ingatan tentang perempuan atau asmara tak ada. Aku tak ada kesanggupan melamunkan perempuan atau berpacaran. Wajah jelek, tubuh kurus, pakaian kumal tak bisa jadi godaan untuk asmaranisme. Lelaki bersepeda onthel juga jarang mendapati nasib baik berkaitan getar-getar asmara. Ah! Aku rikuh jika mengenang saat SMA seperti lagu lawas: “Nostalgia SMA kita…”

Aku sering mengingat kebiasaanku masuk perpustakaan: membaca dan bercakap dengan si lelaki gondrong selaku pengurus perpustakaan. Aku biasa mendatangai rak sastra dan sejarah. Buku tebal dengan sampul berwarna hitam membuatku tergoda dan menimbulkan perasaan tak keruan. Buku! Aku tak ragu untuk melihat dan menaruh buku itu di meja. Membaca di keheningan. Buku itu berjudul Kalangwan garapan P.J. Zoetmulder. Buku tebal memuat uraian-uraian tentang sastra Jawa kuno. Fantastis! Zoetmulder adalah manusia ampuh. Buku Kalangwan turut mengantarku menjalani hari-hari dengan menulis geguritan. Lembaran-lembaran berisi geguritan masih tersimpan sampai sekarang meski sebagian telanjur jadi bungkus makanan di warung.

Ingatan tentang Kalangwan dan Zoetmulder di masa SMA muncul saat aku membaca buku tipis berjudul panjang: Risalah Sejarah dan Budaya, Seri Biografi Tokoh Cendekiawan dan Kebudayaan (Balai Penelitian Sejarah dan Budaya Yogyakarta, 1979-1980). Tiga penulis menggarap biografi pendek tiga tokoh ampuh: P.J. Zoetmulder, S. Sudjojono, B.P.H. Surjodiningrat. Aku telah memiliki referensi-referensi mengenai Zoetmulder dan Sudjojono. Aku membaca untuk mengingat dan mengimbuhi keterangan.

Zoetmulder kelahiran Belanda tapi memberi pengabdian besar di Indonesia. Misi sebagai dosen dan peneliti sastra terbukti dengan kebersahajaan tapi mulia. Agenda mengurusi Jawa diakui oleh publik melalui sayembara terjemahan Serat Wedhatama. Sayembara ini diselenggarakan oleh Mangkunegara VII. Zoetmulder dinobatkan sebagai pemenang. Tulisan berjudul Prijsvraag: Bekroonde Vertaling Serat Wedhatama diterbitkan di majalah Djawa (1941).

Suhatno selaku penulis biografi Zoetmulder memberi keterangan: “Ketika diinternir Jepang, P.J. Zoetmulder sempat membawa bekal naskah Adiparwa, yang ditelitinya selama dalam interniran itu. Hasil penelitian ini akhirnya diterbitkan di Bandung pada tahun 1950 berjudul De Taal Van he Adiparwa dan kemudian disadur ke dalam bahasa Indonesia dengan bantuan I.R. Poedjawijatno berjudul Bahasa Parwa yang diterbitkan pada tahun 1954 oleh penerbit Obor di Jakarta dan dicetak ulang pada tahun 1961.”

Zoetmulder adalah manusia-tekun. Aku membaca pelbagai informasi mengenai kebiasaan membaca-menulis Zoetmulder. Peristiwa-peristiwa berliterasi itu dijalani mirip peribadatan: hening dan sakral. Zoetmulder tak cuma mengurusi kitab-kitab lawas. Manusia ampuh ini juga pembaca novel-novel detektif. Aku pernah membuat esai mengenai Zoetmulder dan novel detektif meski belum bisa tampil di koran dan majalah.

Zoetmulder memang pesona tak biasa. Aku berulang membaca Kalangwan tanpa jemu. Membaca buku itu sejak SMA menimbulkan perbedaan. Peristiwa membaca di masa lalu ibarat perkenalan tak biasa meski tak ada juru penerang. Aku cuma terlena dengan membaca sampai selesai. Kalangwan selesai terbaca tapi tak tuntas terpahami. Aku membaca lagi di masa-masa berbeda dengan bekal-bekal tambahan mengenai sastra Jawa kuno dan biografi Zoetmulder. Majalah Basis (Jogjakarta) kadang jadi rujukan untuk mengerti Zoetmulder. Dick Hartoko berperan sebagai juru penerang dari hasrat mengerti Zoetmulder. Dick Hartoko juga menjadi penerjemah mumpuni untuk buku-buku Zoetmulder.

Kekagumanku berlanjut ke S. Sudjojono. Pelukis kondang dan penggerak sejarah seni rupa modern di Indonesia telah memikatku sejak lama. Aku mulai mengenal Sudjojono dari majalah-majalah seni lawas dan kegandrungan mengoleksi lembaran-lembaran seni rupa di Tempo. Sudjojono adalah nama bersejarah bagi pertumbuhan ide-ide dan praksis seni rupa di Indonesia sejak masa kolonialisme. Pengetahuanku tentang Sudjojono bergerak bersama perjumpaan buku-buku dan majalah-majalah tentang seni rupa. Aku memang tak bisa melukis tapi ada ratusan buku tentang seni rupa di rumahku. Aku membaca sekian buku dan menulis sekian esai tentang seni rupa meski wagu.

Aku terakhir membaca tentang Sudjojono melalui esai Agus Dermawan T. di Koran Tempo. Esai itu ingin mengingatkan tentang peran Sudjojono dan ajakan memperingati seabad Sudjojono (1913-2013). Aku juga menulis tentang Sudjojono tapi tak disetor ke koran atau majalah. Aku menulis untuk dokumentasi ingatan dan pemenuhan hasrat mengerti dunia seni rupa. Pamrih sepele saja. Oh!

B. Sularto selaku penulis biografi Sudjojono menginformasikan: “Sudarsono Sudjojono berhasil membentuk rumah tangga dengan keluarga bahagia bersama Mia selama 13 tahun lamanya. Mereka dikaruniai 8 orang anak. Yaitu: Tejo Bayu, Nasti,  Gunung, Sekar Tunggal, Doyo, Gawe, Rino, Sino. Dua diantaranya, Doyo dan Sino adalah anak kembar.” Informasi ini berkaitan dengan bacaanku atas memoar Mia Bustam. Aku pernah berairmata saat membaca memoar Mia Bustam dan jengkel atas ulah Sudjojono. Airmata dan jengkel itu tak membatalkan diriku menghormati-mengagumi Sudjojono. Begitu.

Iklan