Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku berhasil mencium matahari tadi pagi. Ciuman dengan mata dan kata. Kita sering bercumbuan meski tak romantis. Doaku saat hendak memejam mata adalah merindui wajah matahari tanpa panas dan marah. Aku pun sering menemukan wajah matahari sendu dan kalem. Tubuhku bakal girang usai mencium matahari. Wah! Aku tak ingin menghadirkan cerita picisan tanpa mengikutkan peristiwa-peristiwa sepele di pagi hari. Aku menapaki hari ini dengan menulis esai tentang Kartini dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Perempuan dan lelaki ampuh dalam sejarah “kemadjoean” di Indonesia. Aku menulis bersama gerakan lamban matahari. Kencan hampir romantis: lelaki dan matahari.

Aku jadi ingat posisi tubuhku sering menghadap ke timur jika ingin mencium matahari. Timur. Kata ini lekas memunculkan sejarah literasi di masa 1940-an. Aku telah membaca dan mengoleksi buku, majalah, brosur di masa penjajahan Jepang. Koleksi berkaitan seni dan sastra adalah “boekoe-berkala” Keboedajaan Timoer terbitan Keimin Bunka Shidosho (Kantor Besar Poesat Keboedajaan). Aku membaca terbitan ini dengan sokongan referensi buku-buku tentang Indonesia di masa 1940-an. Ingatanku mengarah ke buku berjudul Mobilisasi dan Kontrol: Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945 (Grasindo, 1993) garapan Aiko Kurasawa. Pembahasan tentang sastra memang tak panjang tapi buku itu bisa jadi latar untuk membaca Keboedajaan Timoer seri 1.

Pidato P.T. Sendeboetjo menerangkan propaganda adab: “Pengaroeh keboedajaan Barat jang soedah berabad-abad lamanja meradjalela di Asia mengakibatkan kita bangsa Asia, lantaran di ‘ninabobokkan’, soedah tidoer njenjak, hingga kita hampir-hampir sadja menghadapi kebinasaan. Djika pada sa’at ini kita tidak sadar dan bangkit, bagaimanakah kita akan melihat matahari lagi? Disitoelah, kami dapat membajangkan, terletaknja kewadjiban toean-toean, ahli dikalangan kesenian dan soko-goeroe peradaban, jang berarti membimbing dan menoentoen rakjat, kewadjiban jang penting.” Aku suka dengan penggunaan ungkapan “soko-goeroe peradaban”. Kalimat-kalimat P.T. Sendenboetjo mirip dengan elite di Indonesia saat mengejek dan menolak dominasi Barat. Propaganda itu malah memunculkan anggapan  ganjil bahwa Indonesia dan Asia tampak ada di telapak kaki Barat. Ha!

Aku tertarik dengan pidato Sanoesi Pane selaku Ketoea Besar Poesat Keboedajaan. Jabatan agung meski jarang dikenang oleh para pembaca sastra Indonesia. Sanoesi Pane mengungkapkan: “Kami bersoempah setia kepada Pemerintah Balatentara Dai Nippon, kami bersoempah akan toeroet memperkoeat rakjat lahir dan batin, kami bersoempah toeroet berdjoeang dengan sepenoeh-penoeh tenaga hingga kemenangan jang achir tertjapai.” Sumpah ini muncul saat Jepang menjanjikan kemuliaan bagi Indonesia. Para pengarang dan seniman bisa terbujuk melalui janji-janji dan represi. Aku sulit mengimajinasikan wajah dan gerak tubuh Sanoesi Pane saat mengucap sumpah.

Keboedajaan Timoer seri 1 tak cuma memuat pidato-pidato para pejabat. Pembaca tentu bisa mampus jika membaca seratus pidato. Mereka bakal mengutuk dan memberi ludah. Oh! Pembaca bisa menemukan puisi, cerpen, naskah sandiwara, esai, pengumuman.
Ada dua naskah sandiwara. Puluhan halaman berisi dialog tokoh. Sandiwara berjudul Pandoe Pertiwi digarap oleh Merayu Sukma. Naskah ini mendapat hadiah pertama dalam “Sajembara Asia Raja-Djawa Shinbun. Naskah sandiwara kedua berjudul berjudul Bende Mataram garapan Arifin K. Oetojo. Keterangan singkat: “Chajal drama pembelaam tanah air dikala peperangan Diponegoro, goebahan oentoek radio-tonil dalam 5 bagian.” Urusan sandiwara dan film propaganda mendapat penjelasan mengesankan oleh Aiko Kurasawa di buku Mobilisasi dan Kontrol: Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945 (1993). Aku juga pernah membuat tulisan berjudul Sandiwara Itu Propaganda terkait dengan peran sandiwara di masa penjajahan Jepang. Sandiwara mengingatkan kerja teater sekian tahun lalu. Aku menulis sembilan naskah teater. Tujuh naskah telah dipentaskan di sekian kota. Aku kadang jadi sutradara.

Aku berhenti di halaman 98. Ada “sadjak anak-anak” berjudul Sekolah Kita gubahan M.D. Alif. Puisi bersahaja dalam tiga bait. Aku tergoda dengan bait terakhir:

Sekolah Rakjat, sekolah kita
Tempat kita ajah serahkan:
Toentoet ilmoe, djangalah alpa
Kelak tidak djadi sesalan
Sekolah kita, Sekolah Rakjat
Toentoetlah ilmu penoeh semangat!

Puisi ini memang propaganda pendidikan. Ajakan bersekolah tentu berkaitan imperatif-imperatif Jepang untuk menguasai Indonesia. Sekolah di masa penjajahan Jepang sering menimbulkan konflik dan tragedi. Penguasa menganjurkan ritual-ritual aneh: upacara, membungkuk, berseragam…. Aku jadi ingat tindakan melawan Soedjatmoko atas tata tertib sekolah. Soedjatmoko pun mesti meninggalkan sekolah di Jakarta demi prinsip. Intelektual kondang itu pulang ke Solo: membaca buku dan bermenung diri.

Keboedajaan Timoer seri 1 setebal 120 halaman. Aku membaca bersama ingatan-ingatan tentang apa dan siapa. Terbitan ini menjadi penjelasan tentang posisi seni dan sastra di telapak kaki kekuasaan di masa 1940-an. Seniman dan pengarang sulit mengelak dari perintah penjajah. Mereka justru jadi kaum ambigu. Propaganda di seni dan sastra menampilkan penguasa tampak beradab berdalih “Timoer” harus melawan Barat. Propaganda wagu tapi bisa menimbulkan darah dan kematian. Begitu.

Iklan