Bandung Mawardi

Perempuan di kota kejauhan memberi kabar: “Aku bakal menikah.” Kabar ini melegakan dan mengejutkan. Kalimat tak biasa saat aku menganggap perempuan itu masih “bertarung” untuk kewarasan. Aku memberi jawab dengan doa. Aku rikuh untuk mengajukan selusin hal berkaitan agenda menikah di ujung April. Menikahlah! Orang lawas sering menganjurkan bahwa menikah itu amalan mengandung kesucian dan konsuekensi. Aku tak membantah meski ada lantunan lagu Nike Ardilla di rumah tetangga: “Izinkan cintaku berbunga di hatimu biar terus mekar… Ku tak akan bersuara walau dirimu kekurangan…. setiamu itu… “ Aku tidak hafal lirik lagu itu meski pernah melihat teman melantunkan dengan suara lirih dan wajah sendu. Aku rikuh jika terseret ke lirik lagu-lagu romantis. Lagu-lagu jazz lekas aku jadikan iringan kata-kata. Para pelantun jazz adalah kaum perempuan: bersuara merdu dan berlirik bahasa Inggris. Aku terselamatkan sebab tak mengerti bahasa Inggris. Jazz tetap jazz meski tak tahu cerita dalam lagu. Oh!

Aku sulit memilih persembahan bagi perempuan saat menikah alias bersuami. Pilihanku adalah mempersembahkan kata-kata bergelimang doa dan petuah. Ha! Aku bukan lelaki picisan tapi pantas memberi petuah. Suguhan petuah itu merujuk ke buku berjudul Petundjuk Bersuami garapan Arsul Temenggung (Madju-Medan, 1957). Buku wagu dan sederhana tapi penting jadi bacaan sebelum perempuan di kota kejauhan resmi bersuami.

Buku ini dimulai dengan kutipan berbahasa asing: “Tratar de ayudar a otras gentes… Usahakanlah memberikan petundjuk kepada orang jang sesuai kehendaknja…” Arsul Temenggung menjelaskan: “Di sini kami terangkan alam kaum suami, dan dengan mengetahui alam itu sang isteri dapat gambaran jang njata dan sikap apa jang harus dimiliki. Begitupun didalam ini kami bawa pembatja ketudjuan rumah tangga jang harmonis, bagaimana tjara mentjapainja.” Buku ini penting jika mengikuti penjelasan penulis. Buku berisi petunjuk-petunjuk agar….

Aku mulai rikuh mengutip petunjuk-petunjuk berkaitan dengan pemaknaan istri dan suami di keluarga. Orang bisa menuduh ada diskriminasi atau menempatkan perempuan tak sejajar dengan lelaki. Orang menggunakan dalih agama atau adat. Aku tak memiliki ilmu mumpuni tentang suami-istri tapi mengerti dengan keterbatasan. Petunjuk untuk istri: “Mengetahui kewadjiban-kewadjiban jang mesti dilaksanakan sebaik-baiknja dan bila perlu bertindak sebagai pembantu istimewa suami dalam penglaksanaan pekerdjaannja dan perusahaannja, menempatkan diri domata suami sebagai penghibur jang ramah tamah dan dimana perlu melipu dukalara jang sering dialaminja dalam pekerdjaan…” Tugas-tugas perempuan meladeni suami demi kemuliaan dan kehormatan. Aku malah sering ada bantahan: istri sering diperbudak oleh suami. Lho! Aku tak mau berdebat. Titik.

Penulis memerlukan kutipan puitis dari sabda Nabi Muhammad: “Apabila seorang isteri melaksanakan kewadjiban jang ditentukan oleh Tuhannja, serta mematuhi suaminja, maka djika pada satu sendja di memasak, seolah masakan itu dapat mencutjikan djiwa anak-anaknja dan buih masakan itu dapat menghapuskan segala kesalahan-kesalahan jang mungkin pernah dibuatnja.” Sabda ini impresif. Perempuan di kota kejauhan itu bakal menjadi isteri. Aku tak tahu bahwa perempuan itu ahli memasak atau ahli menghabiskan makanan. Aku cuma tahu jika perempuan di kota kejauhan itu pernah berpuisi senja.

Petunjuk tentang adegan suami-istri di pagi hari membuatku tertawa kecil. Arsul Temenggung seolah memberikan petunjuk-petunjuk bagi pasangan dengan taraf kehidupan mapan. Adegan pagi hari pun perlu mendapat petunjuk agar tidak menjadi tragedi atau luka. Petunjuk ini harus diperhatikan oleh perempuan di kota kejauhan: “Bila matahari sudah terbit, biasanja suami saudari menginginkan minum kopi bersama-sama dengan bertjengkerama memperlihatkan kasih sajangnja. Sediakanlah air minum, dan duduklah berdekat-dekatan sambil meneguk the susu panas atau kopi panas.” Tambahan petundjuk: “Apabila saudari menjukai buku-buku dan madjalah, maka susunlah sebaik-baiknja ditempatnja, agar suami saudari dapat pula sama mengikuti isi batjaan itu bersama saudari.” Pagi romantis. Pagi bertaburan kata, tatatpan mata, sentuhan tak biasa.

Halaman-halaman terakhir memuat menu masakan untuk disajikan pada suami selama seminggu. Perbedaan menu menentukan kadar romantis. Lho. Istri memang dianjurkan ahli memasak dan ahli kata agar suami tak dilanda kejenuhan dan lungkrah. Aku membaca buku Petundjuk Bersuami dengan pelbagai curiga dan bantahan. Aku perlu membandingkan dengan buku Petundjuk Beristeri meski aku belum mendapatkan. Suami mesti mengerti dan rajin memberi pujian untuk makanan suguhan isteri agar ada keromantisan. Suami juga tidak boleh memakan semua makanan sampai habis tapi lupa memberi jatah untuk istri. Suami tak boleh rakus! Suami gendut tentu bisa dicurigai sebagai pelahap jatah santapan untuk istri. Aduh!

Buku Petundjuk Bersuami ini tentu tak pantas aku jadikan hadiah untuk perempuan di kota kejauhan. Buku lawas mungkin tak pantas menjadi bacaan untuk perempuan di abad XXI. Aku masih ingin menemukan buku lawas lain berjudul Pedoman Berumah Tangga (Madju-Medan, 1957) susunan M. Hasbi A. untuk melengkapi referensi-referensi mengenai suami-istri. Aku tak merasa malu jika membaca buku-buku wagu. Buku-buku itu justru memberi ingatan tentang sejarah bersuami di Indonesia pada masa silam. Bersuami itu memerlukan referensi dan ingatan sejarah. Begitu.

Iklan