Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku mengingat nama Sanoesi Pane sebagai penggubah Madah Kelana (1931). Buku kumpulan puisi pernah membuatku penasaran selama sekian tahun. Aku terpikat dengan judul: madah dan kelana. Dua kata mengantar ke pengertian puitis, religius, pengembaraan. Aku paling suka dengan penggunaan kata “madah”. Aku pun berpikiran kelak menulis esai atau menggarap buku menggunakan judul dengan kata “madah”. Sanoesi Pane juga mengingatkan buku-buku sandiwara berlatar sejarah di Jawa: Airlangga, Kertadjaja, Sandjakala ning Madjapahit.

Ingatanku bertambah saat menemukan-membaca buku garapan Sanoesi Pane berjudul Sedjarah Indonesia (Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K, 1955). Buku ini sudah mengelami cetak ulang keenam. Tampilan sampul bersahaja dan menggoda: merah dengan tulisan-tulisan terang. Sampul buku sejak semula memberi panggilan mata dan ingatan.

Sanoesi Pane pantas dihormati sebagai tokoh “pembelajaran” sejarah di Indonesia. Aku meragukan nama Sanoesi Pane ada di ingatan publik sebagai penentu sebaran sejarah sebagai ilmu untuk dipelajari di sekolah dan kampus. Sanoesi Pane telah berperan mengajukan buku meski tak semumpuni garapan para ahli-ahli sejarah tentang Indonesia. Buku membuktikan ada kehendak mengurusi (ilmu) sejarah.

Buku setebal 256 memuat penjelasan-penjelasan singkat mengenai bab-bab Sejarah Indonesia. Aku tertarik dengan bab 15 mengenai “Agama, Tjandi dan Seni”. Sanoesi Pane mengajak pembaca mengembara ke peninggalan-peninggalan sejarah: candi. Monumen batu ini bakal menguak pengetahuan tentang anutan agama dan ejawantah seni di masa silam. Candi mengandung panggilan-panggilan sejarah. Sanoesi Pane  memberi keterangan: “Pada mulanja seni tjandi di Nusantara tidak berbeda benar dengan di India, meskipun tidak ada tjandi Nusantara jang sama betul dengan tjandi India. Makin lama makin banjak zat-zat Nusantara masuk kedalamnja, meskipun pusat-pusat seni India berganti-ganti pengaruhnja. Pada umumnja tjandi-tjandi itu makin ramping. Di Djawa Tengah tjandi jang terutama berduru ditengah-tengah, tetapi di Djawa Timur dibelakang dan djadi achir kumpulan tjandi-tjandi.”

Sanoesi Pane menelusuri jejak-jejak sejarah dengan mengajukan bukti-bukti untuk bisa diterima sebagai referensi. Sejarah tak cuma politik, agama, candi, raja, perang, arca. Sejarah juga bergerak dengan bahasa. Sejarah tercatat di oalahan kata alias kesusastraan. Sanoesi Pane tentu bergairah menggarap bab kesusatraan di arus sejarah Indonesia. Aku pun merasa ada undangan-undangan mengingat sastra lama untuk menilik sejarah. Sanoesi Pane menulis: “Kakawain jang tertua dapat diketahui masanja ialah Arjuna Wiwaha, jang dikarang oleh Mpu Kanwa pada zaman Airlangga. Dalam kakawin itu ditjeritakan bagaimana Arjuna bertapa di Indrakila, dapat pertjobaan dari Supraba dan enam orang bidadari jang lain dan dapat anuegrah panah pashupati dari Shiwa… Barangkali kakawin ini mengibaratkan riwajat kehidupan Airlangga, jang dipudji oleh pudjangga pada awal dan achir karangannja itu. Pokok tjerita itu diambil dari Mahabharata, tetapi kakawinnja itu sebenarnja karangannja sendiri.”

Aku jadi teringat dengan terjemahan berjudul Arjuna Wiwaha (1940). Sanoesi menerjemahkan itu dari bahasa Kawi. Aku memiliki buku itu meski tak bersampul. Buku keren dan impresif. Aku membaca Arjuna Wiwaha saat mau mengakhiri masa bersekolah di SMA. Aku cuma membaca buku tanpa berkehendak jadi Arjuna. Buku itu sulit dipahami tapi pantas dinikmati. Aku bisa mengerti dan memberi pujian atas ikhtiar Kurnia Jr mengulas buku itu melalui esai kecil di Kompas (31 Marer 2013).

Aku membaca buku-buku tanpa paksaan untuk mempertemukan mereka sebagai  mozaik mempelajari sejarah atau sastra. Buku Sedjarah Indonesia berkaitan dengan kerja sastra Sanoesi Pane. Aku justru merasa terlambat memiliki keinsafan bahwa para pengarang sastra di masa lalu adalah para penulis buku-buku sejarah: Sanoesi Pane, Armij Pane, Muhammad Yamin…. Oh! Aku malah mengingat peristiwa perbantahan di Borobudur (Magelang). Hajatan tentang sastra dan sejarah merangsang orang-orang mengajukan perspektif sejarah meski tak berargumentasi. Aku diundang di acara besar itu selaku “penikmat” sejarah. Agenda diskusi dan bincang buku setiap hari memberi ajakan mengurusi sejarah melalui peran para pengarang. Aku sempat berpidato sekian menit di hadapan pengarang kondang untuk memberi kritik atas kompetensi bersastra dan pengetahuan sejarah. Pengarang kondang itu tak menduga bakal dapat serangan. Acara di malam itu jadi emosional. Ah! Aku ingin menepikan peristiwa malam-perdebatan di Borobudur tapi teringat juga saat si pengarang kondang menulis esai di koran: menginformasikan perdebatan dan mengurusi diriku sebagai tokoh. Aduh!

Buku Sedjarah Pane aku ajukan sebagai referensi: sastrawan mengurusi sejarah. Buku ini memang mengesankan dan membuktikan kerja bersastra mengantar selisik sejarah. Sanoesi Pane tak sekadar menulis sastra. Pengarang asal Sumatra Utara ini justru tekun mempelajari sejarah Jawa dan menulis sastra bernafas sejarah Jawa. Sanoesi Pane pantas menjadi ingatan publik sastra dan sejarah. Sanoesi Pane tak cuma nama dalam mata pelajaran di sekolah. Sanoesi Pane adalah pemberi makna untuk sastra dan sejarah di Indonesia. Begitu.

Iklan