Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Kartini (24 Julis 1903) menulis surat ke perempuan Belanda: Abendanon. Alinea-alinea di surat itu mencantumkan nama Agoes Salim. Surat pendek tapi mengharukan. Kartini menulis permohonan agar Abendanon berkenan mengusahkan mencarikan dana studi bagi Agoes Salim ke Belanda. Agoes Salim adalah pelajar pintar tapi gaji bapak tak mencukupi untuk bersekolah ke negeri penjajah. Kartini berempati dan mengusahakan cita-cita Agoes Salim terkabulkan meski sulit.

Kartini menulis: “Kami tahu apa arti merasakan sesuatu hidup dalam sukma. Kami mengerti, Salim mengandung hasrat membara di dada. Wahai, jangan biarkan jiwa hidup dan indah itu mati di kuncup! Jangan biarkan tenaga segar hilang percuma! Ia harus dirawat dan digerakkan dengan baik untuk kebajikan rakyat sebab gandrung pada tenaga-tenaga langka ini!” Di ujung halaman surat Kartini menulis pengharapan: “Berilah kami rasa mujur demi nikmat…” Kartini telah berikhtiar meski Agoes Salim tetap tak bisa melanjutkan sekolah ke Belanda.

Surat Kartini ibarat ramalan atas peran dan makna Agoes Salim bagi Indonesia. Agoes Salim memang jadi penggerak Indonesia, suluh kemerdekaan, intelektual moncer. Biografi Agoes Salim bergerak bersama Sarekat Islam, Volksraad, Fadjar Asia… Agoes Salim (1884-1954) bertubuh kecil tapi peledak ide dan pemikir ampuh di jagat politik, agama, keilmuan. Tubuh kecil dan berjanggut itu memuat Indonesia sebagai gagasan besar. Agoes Salim mengamalkan diri demi pembentukan dan pemaknaan Indonesia sejak masa kolonialisme.

Agoes Salim adalah manusia kata: rajin membaca dan menulis. Agoes Salim juga manusia-pidato. Aku ingin mengenang Agoes Salim melalui buku kecil berjudul Meningkat ke Kemerdekaan 100 % terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Buku setebal 40 halaman berisi gelisah dan pengharapan atas Indonesia saat menghadapi perjanjian dengan Belanda. Nasib Indonesia bakal ditentukan oleh retorika, lembaran kertas dan tanga tangan, meja perundingan. Agoes Salim menulis risalah agar ada kesadaran berpihak untuk kemerdekaan Indonesia. Perjanjian mesti memuliakan Indonesia.

Agoes Salim menulis: “Dari sehari kesehari tambah ramai orang memperbintjangkan rentjana persetoedjoean Indonesia-Belanda. Dan tambah hari tambah keras, tambah tadjam soeara jang tidak setoedjoe. Dipihak penolak pihak Belanda tambah hari tambah pedih sakit hati, tambah menjala hawa-nafsoe, oleh karena tambah djelas tampak lepas dan loepoetnja tanah djadjahan, poesaka riwajat toeroen temoeroen dari zaman kebesaran keradjaannja dimasa laloe itoe, jang diharapkannja sebagai dasar kemewaan negara dan bangsanja oentoek selama-lamanja.” Aku tak lekas berpikiran tentang politik. Aku terlena oleh penggunaan kata-kata: aneh dan puitis.

Kalimat-kalimat Agoes Salim romantik untuk berpolitik. Tulisan tentang politik jadi berperasaan dan mengajak pembaca bermenung diri. Aku pun menikmati tulisan Agoes Salim mirip pembaca puisi-politik: lembut mengandung sengat. Aku mulai mengingat peran Agus Salim dalam urusan berbahasa. Bahasa “Melaju” telah dipergunakan sejak menjadi anggota Volksraad (1921-1924). Bahasa menentukan misi berpolitik dan berintelektual.

Agoes Salim berbeda dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir dalam urusan tulisan. Bahasa Agoes Salim tak bersegera meledak saat ada di tatapan mata tapi bergolak usai pembaca bermenung diri. Agoes Salim dalam buku Meningkat ke Kemerdekaan 100 % memberi uraian sejarah Indonesia. Pengisahan tentang Belanda sebagai penjajah juga ditampilkan untuk menguatkan pengharapan bahwa hasil perjanjian bakal memartabatkan Indonesia. Agoes Salim mengingatkan keapesan Belanda saat dikalahkan oleh Jerman dan Jepang. Belanda kalah dan dihinakan. Nasib itu tak mengajarkan keinsafan saat mengurusi “Hindia Belanda” sebagai tanah jajahan. Belanda tak pernah rela melepas Indonesia meski proklamasi telah dikumandangkan. Nafsu penguasaan terus diwujudkan di masa 1940-an sebagai masa revolusi bagi Indonesia. Aku mengerti dengan “serangan-serangan” Agus Salim terhadap pamrih Belanda menguasai Indonesia. Cerita berlatar Perang Dunia I dan II membuatku bisa “meremehkan” ulah Belanda dalam misi “membatalkan” kemerdekaan Indonesia.

Aku menganggap buku Meningkat ke Kemerdekaan 100 % bukti dari kerja kata untuk sokongan agenda-agenda politik. Agoes Salim menggerakkan Indonesia dengan kata-kata. Aku tertarik dengan untaian kata tentang nasib Belanda saat bernasib apes: “Di Indonesia, belanda jang dikalahkan Djepang, dikoeroengnja berkampoeng-kampoeng, ditawannja diperhambakannja didalam dan diloear daerah Indonesia. Perlawanan semboenji tak dapat dilakoekan disini seperti dinegeri Belanda, sebab pemerintah djadjahan Belanda menjerahkan tanah dan bangsa Indonesia kepada Djepang dalam keadaan kotjar-katjir…”

Buku kecil ini pantas dibaca sebagai warisan-kata dari lelaki kecil. Agoes Salim tak sekadar berkata. Agoes Salim rajin menulis untuk amalan-amalan hidup. Aku pernah kagum tak rampung saat membaca artikel-artikel Agoes Salim. Aku membaca artikel-artikel itu di buku Seratus Tahun Agus Salim (Sinar Harapan, 1984). Agoes Salim adalah nama dan antologi kata. Aku mengingat Agoes Salim sebagai manusia agung di abad XX. Aku ragu ada politikus di Indonesia abad XXI memberi pernghormatan atas Agoes Salim dengan agenda berpolitik dan berliterasi. Begitu.

Iklan