Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku tak memiliki daftar kenangan panjang tentang Rendra. Puisi-puisi Rendra terbaca sejak SMA. Aku membaca dengan kagum: berulang meski sering terlena di buaian kata. Rendra memang pujangga agung dan kondang. Aku pun berkeinginan jadi pujangga. Peristiwa menulis puisi mirip dramatisasi diri dan hidup. Aku menulis puisi-puisi tak serupa Rendra. Dokumentasi puisi-puisi wagu itu masih ada di dalam kardus. Aku masih malu untuk membaca ulang. Aku tak meniru menulis puisi mirip Rendra tapi berkehendak jadi pujangga.

Kenangan mengesankan justru aku alami saat membaca naskah-naskah drama Rendra  dan terjemahan drama-drama Sophokles oleh Rendra. Aku membaca dengan mata ketakjuban. Rendra adalah manusia-kata. Pembaca sering menemukan kata-kata Rendra berpijar kharisma. Kata-kata bisa sakral, megah, gagah, lembut, sendu oleh olahan Rendra. Rendra adalah tokoh.

Aku membaca Sadjak-Sadjak Sepatu Tua (Pustaka Jaya, 1972) seperti membaca kisah-kisah bersahaja tapi mengena. Buku ini jarang jadi rujukan kemonceran Rendra. Publik sering mengingat buku puisi Balada Orang-Orang Tercinta (1957) dan Blues untuk Bonnie (1971) ketimbang Sadjak-Sadjak Sepatu Tua. Aku sengaja ingin menghormati Rendra melalui buku kurang terkenal. 38 puisi disajikan mengandung godaan puitik dan dramatik.

Sadjak Seorang Tua untuk Istrinja sejak lama ada di ingatanku. Aku pernah mendengar suara Rendra membaca puisi ini di radio. Aku menikmati dengan memejamkan mata. Puisi lembut bagi diriku saat masih berusia 18 tahun. Puisi ini berpetuah meski melenakan.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

Aku paling ingat dengan bait terakhir. Bait ini mirip pengulangan bait awal tapi membuat diriku ada di situasi mencekam. Rendra mengolah kata dari lembut ke kejut.

Aku tulis sadjak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan entjokmu

kenangkanlah pula

Bahwa kita ditantang seratus dewa

Rendra membaca puisi ini dengan mengangumkan. Aku pernah melafalkan tapi tak mengena di telinga dan perasaan. Aku mencukupkan membaca tanpa suara. Puisi Rendra memang cenderung “bersuara”. Aku selalu mengangeni suara itu mengantarkan puisi ke diriku.

Rendra lahir dan tumbuh di Solo. Kemonceran justru terbentuk di Jogja dan Jakarta. Solo mungkin pengantar untuk biografi kapujangga. Rendra menaruh dua puisi tentang Solo. Aku membaca dengan pengharapan merasakan mata kapujangga Rendra saat ada di Sriwedari dan Gereja St. Antonius.

Puisi berjudul Pasar Malam Sriwedari, Solo pernah aku jadikan kutipan untuk esai di Solopos sekian tahun silam. Aku sengaja mengutip puisi itu agar sentuhan imajinasi tak biasa menghampiri penglihatan atas nasib Sriwedari di masa sekarang. Puisi ini deskriptif dan impresif.

Di tengah lampu aneka warna,

balon mainan bundar-bundar

rok pesta warna,

dan wadjah-wadjah tanpa djiwa,

kita djaga sendiri hati kita,

setelah telinga djadi pekak

dan mulut terlalu banjak tertawa

dalam dusta jang murah

dan budjukan jang hampa.

Puisi itu tentang keramaian dan bising berbeda dengan nuansa di puisi berjudul Geredja St. Antonius, Solo. Puisi religius: merasai diri ada dalam kasih Tuhan. Aku membaca sebagai hamba Tuhan. Puisi ini mengajak diri mengalami peribadatan suci. Aku membaca puisi mirip berdoa.

Ja, Bapa,

kulihat wadjahMu

kulihat wadjahku

ketika orgel berbunji

kan dosa bersuara

Burung Dara Rochulkudus

terbang di tingkap bunda

di atas altar.

Puisi ini memuncak dengan gemetar. Aku turut merasai puisi: mengalami ada di gereja untuk menghadap Tuhan. Rendra menulis puisi dengan bersahaja tapi membuatku gemetar.

Ja, Bapa.

Ketika Kau djamah dahiku

gemetarlah aku.

Aku tak meneteskan air mata. Puisi ini telah mengantar diriku ke peribadatan. Air mata justru menetes saat aku menggarap puisi Rendra berjudul Pesan Pencopet kepada Pacarnja. Aku menjadikan puisi ini sebagai referensi naskah teater. Aku menggarap tanpa kehendak meniru dramatisasi Rendra. Puisi-teater itu dipentaskan oleh Teater Kidung (Solo) di Mangkunegara. Aku sebagai penggarap naskah sering menemani sutradara dan aktor saat latihan. Aku sudah merasa diriku gemetar dan sendu. Puncak rasa itu membuncah saat di Mangkunegaran. Aku menangis saat melihat adegan dan dialog tentang asmara tak terlunaskan. Sedih. Sendu. Cengeng.

Rendra adalah pesona. Aku juga memiliki kenangan tentang Rendra dalam bentuk esai. Kematian sang pujangga aku tanggapi dengan suguhan esai berjudul Mempertimbangkan Rendra. Esai ini tampil di Suara Merdeka dan diterbitkan dalam buku tebal berjudul Rendra Berpulang 1953-2009. Aku terus ingin membaca puisi-puisi Rendra sampai diriku menua dan berpetuah dengan kata-kata. Begitu.

Iklan