Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

11 April 2013, aku belanja majalah Tempo dan Zaman edisi lawas: 1970-an dan 1980-an. Aku melihat tumpukan majalah Tempo dan Zaman seperti melihat “tarian kata” dari masa silam. Aku terpikat tak berjeda: bersegera memegang dan menatap halaman demi halaman. Aku ingin membawa Tempo dan Zaman pulang. Pedagang cuma memandang bingung atas ulahku menumpuk Tempo dan Zaman setinggi 1,5 meter. Percakapan singkat. Aku memberi uang dan setumpuk majalah itu pulang bersamaku. Adegan romantis di sepanjang jalan!

Aku membaca majalah demi majalah. Berita, iklan, foto, sampul, surat pembaca mengingatkan situasi-situasi di masa lalu. Majalah Tempo dan Zaman sering diceritakan sebagai majalah berkhasiat. Aku sejenak merenung saat membaca Tempo edisi 4 Oktober 1971. Ada gambar H.B. Jassin berlatar petikan-petikan Al Quran. Judul di bawah gambar: HB Yassin Menterjemah Quran. Aku melanjutkan ke halaman satu di rubrik “Fokus Kita”. Ada foto H.B. Jassin berjalan kaki menenteng tas. Redaksi memberi informasi: “Meskipun hari turunnya Qur’an sudah agak lama  diperingati, tapi dalam bulan puasa yang segera berakhir ini kiranya cocok menyajikan satu cerita tentang H.B. Jassin yang menterjemahkan Qur’an.” H.B. Jassin dan agenda menerjemahkan Al-Qu’an jadi laporan utama. Pilihan tema ini keren!

Aku jadi ingat masa lalu saat SD. Belajar membaca Al-Qur’an aku jalankan di masjid. Model pembelajaran itu dinamakan TPA: Taman Pendidikan Al-Qur’an. Aku termasuk rajin ikut TPA. Sekian bulan belajar dengan keluguan bocah. Aku dan teman-teman sempat dibuatkan acara wisuda di pelataran masjid. Wisuda itu ramai dihadiri bapak-ibu santri dan umat Islam di kampung. Aku mengenakan jubah hitam dan topi bertali. Ustadz memberi lembaran ijazah sebagai tanda tamat Iqra’ dan salaman. Keluargaku tampak bangga dan bersukacita. Aku dianggap termasuk bocah bisa mengaji Al-Qur’an. Acara wisuda diramaikan dengan ceramah, lantunan musik, berfoto, makan bersama. Ah! Masa lalu itu membuatku gemetar dan meneteskan airmata.

Pengurus TPA sering mengajukan diriku dalam pelbagai perlombaan tingkat kecamatan dan kabupaten: pidato, shalat, membaca Al-Quran, adzan…. Aku sering mendapat juara. Piala-piala itu masih disimpan di rumah pengurus masjid. Sekian piagam mungkin masih ada di tumpukan dokumen masa lalu. Prestasi di lomba-lomba membuatku mesti membuktikan kemampuan di hadapan publik. Aku kadang dipersilakan memberikan ceramah atau kultum di kampung. Kebiasaan itu berlanjut sampai SMP dan SMA. Aku masih sering ikut lomba-lomba. Kenangan tak terlupakan adalah kemenanganku dalam lomba pidato. Aku mendapatkan hadiah berupa uang. Aku gunakan uang itu untuk membeli Al-Quran di Sriwedari (Solo). Kitab bersampul merah dengan judul Al-Qur’anul Karim: Bacaan Mulia (1982). Aku bergerak dari rumah ke Sriwedari menggunakan sepeda onthel. Aku berhasil pulang dengan Bacaan Mulia. Adegan romantis di sepanjang jalan! Aku memang belum mengerti utuh tentang HB. Jassin dan Bacaan Mulia. Aku membeli dengan keterpanaan. Kitab suci itu mesti ada bersamaku.

Kenangan muncul lagi setelah aku bisa merampungkan membaca puitisasi terjemahan Al-Qur’an oleh H.B. Jassin di Bacaan Mulia. Pengertian diimbuhi dengan membaca buku Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi (Pustaka Utama Grafiti, 1995) susunan H.B. Jassin. Tumpukan ingatan merekah lagi saat mendapatkan majalah Tempo lawas. Aku bertambah gemetar dan takjub. Kenangan itu semakin terang saat teman-teman di Solo ikut mengaji Bacaan Mulia. Mereka pernah berkeputusan untuk mengadakan taddarus Bacaan Mulia di rumahku meski belum terlaksana.

H.B. Jassin di Tempo memberi pengakuan: “Bagaimanakah asal mulanya saya tergerak membaca Al-Qur’an setiap hari sehingga menjadi kegemaran dan kebutuhan yang tak bisa saya tinggalkan lagi?” H.B. Jassing memberi kisah tentang kematian istri (12 Maret 1962) dan peristiwa pengajian di rumah selama tujuh hari. Pengisahan lanjutan: “Pada malam ke delapan, sepilah rumah, tidak ada lagi yang datang mengaji. Maka timbullah fikiran pada diri saya, mengapa saya tidak teruskan sendiri pengajian? Lalu saya cobalah mengaji dengan suara perlahan, makin lama makin nyaring, dengan suara beralun, terbawa oleh rasa haru yang terkandung di dalam hati.” Kisah ini mengharukan.

Keinginan H.B. Jassin melakukan puitisasi terjemahan Al-Qur’an menimbulkan polemik heboh. Para ulama dan tokoh publik turut memberi komentar: membela dan mencela. H.B. Jassin tak pernah mundur. Penerjemahan terus dijalankan tanpa jemu dan putus asa. Penerbitan Bacaan Mulia menjadi pembuktian meski bergelimang polemik selama sekian tahun.

Buku Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi turut jadi dokumentasi tentang ikhtiar-ikhtiar H.B Jassin. Polemik-polemik tentang Bacaan Mulia adalah ingatan panjang. Publikasi Bacaan Mulia ingin dilanjutkan oleh H.B. Jassin dengan sajian Al-Qur’an berwajah puisi. Keinginan ini semakin menumpuk polemik dalam biografi “paus sastra Indonesia”. Polemik H.B. Jassin sering berkaitan dengan sastra dan iman. Aku merasa H.B. Jassin adalah manusia lugu dan tabah. Polemik terus diladeni tanpa bosan.

H.B. Jassin (1995) meniatkan diri bahwa agenda kontoversial itu demi “meningkatkan penghayatan dan pemahaman firman-firman-Nya.” H.B. Jassin menjelaskan: “Timbul pertanyaan, mengapa Al-Qur’an yang beredar, baik di Indonesia maupun di luar negeri tidak ditulis dalam susunan puisi? Mengapa Al-Qur’an yang begitu indah bahasa dan isi kandungannya, tidak ditulis pula secara indah perwajahannya?” Keinginan dan polemik itu telah berlalu. Orang-orang mulai melupakan tanpa alasan terang. Aku justru sulit melupakan. Begitu.

Iklan