Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Pendidikan mengajak orang sanggup berkeputusan. Konklusi ini diajukan Daoed Joesoef untuk mengomentari agenda pendidikan oleh Kartini. Usulan pendidikan bagi perempuan bermisi menempatkan perempuan sebagai pembuat-pelaku keputusan tanpa dominasi feodalisme dan diskriminasi-kolonialistik. Kartini ingin perempuan di negeri terjajah bernafas “pembebasan” dan “pemartabatan”. Aku menganggap pendidikan untuk membuat manusia berkeputusan memang tepat diacukan ke misi pendidikan Kartini.

Daoed Joesoef menulis tentang “keputusan” itu di halaman pengantar buku berjudul Satu Abad Kartini 1879-1979 (Sinar Harapan, 1979). Buku setebal 180 halaman ini memuat tulisan-tulisan tentang biografi dan makna Kartini di Indonesia. Aku mendapati pengulangan meski diperlukan agar pembaca tak lupa. Penulisan tentang Kartini memang sering ada dalam repetisi tematik. Buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Panggil Aku KartiniSaja (1962) dan esai kecil garapan Goenawan Mohamad adalah ikhtiar membedakan diri dari tendensi-tendensi repetitif.

Lagu sering membuat jemu: “ putri sejati…, pendekar bangsa…, pendekar kaum…” Sebutan-sebutan untuk Kartini terasa agung dan heroik. Aku justru menginginkan pengisahan-pengisahan sentimental dan kerapuhan Kartini agar tampil sebagai tokoh manusiawi. Kartini juga perlu dikenang melalui pengisahan kamar, meja-kursi, kamar mandi, makanan-minuman… Hal-hal itu jarang disajikan ke publik sebagai narasi  manusiawi. Kartini telanjur menjadi tema besar meski…

Harsja W. Bachtiar menulis: “… Kartini dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.” Kalimat tak lengkap ini bisa memicu lacak sejarah dan sengketa argumentasi mengenai arti Kartini bagi penguasa-kolonial dan Indonesia. Kartini hidup di alam kolonial. Pengharapan atas pendidikan, kebebasan, literasi, modernitas ada di latar kultural Jawa dan godaan Barat. Keterpilihan Kartini oleh penguasa-kolonial sebagai lambang tentu pantas jika menilik efek Kartini di amalan Politik Etis dan embusan nasionalisme awal abad XX.

Kartini sering ditampilkan sebagai perempuan Jawa modern. Surat-surat memuat testimoni-testimoni kehendak menjadi modern. Abdurrachaman Surjomihardjo memerlukan mengutip kalimat di sepucuk surat Kartini (12 Januari 1900) untuk menggambarkan zaman baru: “Alangkah berbahagia hidup di zaman ini! Zaman perubahan, zaman kuno beralih ke zaman baru.” Zaman baru menurut persepsi Kartini tentu berbeda dengan jutaan orang di Jawa atau Hindia Belanda saat menanggungkan nasib sebagai kaum terjajah. Mereka belum mengartikan zaman seperti afirmasi Kartini atas tanda-tanda perubahan melalui bacaan dan pergaulan dengan elite kolonial. Kartini bergerak 10 kilometer di depan ketimbang jutaan orang tanpa kemelekhurufan dan kesanggupan berbahasa Belanda.

Kartini adalah sulut perubahan di kalangan elite terpelajar. Ide-ide dan impian-impian Kartini berbahasa Belanda. Publik sulit mengerti atau mengamalkan. Kaum pergerakan perlahan menafsirkan-menerjemahkan Kartini berlatar arus nasionalisme. Tjipto Mangoenkoesoemo di De Expres (4 Mei 1912) menulis bahwa Kartini menghendaki rakyat “bangun dari tidur pulas”. Kehendak itu terejawantah melalui Boedi Oetomo, Indische Partij… Abdurrahman Surjomihardjo pun mencatat pengaruh surat-surat Kartini merambah ke pers erempuan: PoetriHindia (1909), Wanito Sworo (1913), SoentingMelajoe (1912), Poetri Mardika (1919). Tema Kartini telah memikat sejak awal abad XX.

Aku telah menulis sekian esai tentang Kartini. Esai-esai itu belum selesai untuk mengisahkan Kartini. Ratusan esai masih mungkin dituliskan jika sanggup mencari rujukan-rujukan tentang Kartini dari pelbagai perspektif. Penerbitan buku-surat dan biografi Kartini bisa melegakan keinginan membaca keampuhan seorang perempuan Jawa di masa lalu. Keampuhan itu mesti digenapi dengan pengisahan tragedi-tragedi. Aku belum jemu menulis Kartini. Aku cuma jemu dengan selebrasi Hari Kartini oleh negara. Kejemuan itu ditambahi oleh ulah komersialisasi. Aku sering mendapati iklan atau spanduk ironis. Toko, supermarket, hotel, salon sering memberi potongan harga berdalih peringatan Hari Kartini. Mereka mengajak kaum perempuan berbelanja dan berdandan dengan memperalat Kartini. Tega!

Buku Satu Abad Kartini 1879-1979 juga memuat esai dari seorang pemikir tanggung: Sutan Takdir Alisjahbana. Judul esai mengesankan konfrontasi nasib: Kebesaran dan Tragedi. Sutan Takdir Alisjahbana menulis bahwa Kartini adalah “mukjizat”. Perempuan asal Jawa ini sanggup melihat dengan terang pesona Barat. Kartini tak sekadar tokoh. Kartini adalah roman besar untuk Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana menganjurkan agar publik membaca buku Panggil Aku Kartini Saja (1962) garapan Pramoedya Ananta Toer dan Kartini: Sebuah Biografi (1977) Sitisoemandari Soeroto. Aku telah memiliki dua buku itu sejak lama dan mengkhatamkan meski berbeda resepsi dengan Sutan Takdir Alisjahbana.

Buku Satu Abad Kartini 1879-1979 mesti mendapati jilid-jilid lanjutan. Aku merasa masih ada bab-bab belum tergarap. Agenda mengumpulkan tulisan-tulisan tentang Kartini di abad XXI tentu bakal memunculkan kesadaran perbedaan waktu untuk menaggapi Barat atau modernitas. Kartini di masa lalu adalah pemula: mengisahkan diri dan zaman. Kartini menghadirkan kisah berbahasa Belanda. Perempuan-perempuan di Indonesia sekarang justru fasih mengisahkan diri dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris. Perbedaan bahasa telah menjelaskan sejarah memerlukan pilihan bahasa. Begitu.

Abad Kartini

 

Iklan