Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

14 April 2013, aku  bersama 40-an orang belajar bersama di Balai Soedjatmoko Solo. Aku mengajak mereka mengurusi esai bermula dari kata. Pertemuan awal tanpa berkenalan. Aku cuma memandangi mereka dengan pengharapan ada getaran-getaran tak biasa berkaitan kerja kata. Ruang itu perlahan bertaburan kata. Aku mengajak teman-teman mengobrolkan kata, esai, alinea, paragraf. Perdebatan sengaja aku adakan untuk menilik gairah mereka mengurusi esai. Mulut-mulut berceloteh dan mengeluarkan kata-kata. Mereka belum jera berurusan dengan kata. Adegan-adegan itu turut dipengaruhi oleh suguhan makanan di piring. Lima menit cukup untuk merampungkan makanan sebagai modal menulis dan berdebat.

Teman-teman memerkarakan pohon. Mereka menulis pohon. Sekian orang membacakan alinea-alinea pohon. Esai memang bermula dari kata. Pohon ditulis dengan pemaknaan asmara, korupsi, bisnis, politik, ekologi, biologi…. Aku sering melafalkan ucapan-ucapan kelegaan. Mereka sanggup menulis dan berbagi. Aku pun menghaturkan sekian Koran Tempo untuk menghormati penulis dan pembaca alinea-alinea pohon. Koran itu memuat esaiku berjudul Kesatria! Aku ingin mereka turut membaca-menanggapi esai waguku. Oh!

Senja berhujan. Tamu agung datang ke rumahku. Obrolan tak mengenal arah. Tamu itu perlahan mengisahkan tentang pohon. Aku tak menduga bakal mendapat cerita tentang pohon di saat senja berhujan. Tamu itu bercerita: tetangga di depan rumah telah tega membabat pohon-pohon berpamrih susana jadi terang. Halaman rumah tak berpohon. Panas. Panas. Panas. Peristiwa sekian hari lalu memunculkan keinsafan tentang pohon sebagai makhluk hidup. Manusia mesti menghormati pohon. Manusia tak boleh berlaku otoriter atas nasib pohon! Obrolan pohon terus berlanjut saat teman-teman datang ke rumah. Mereka mengurusi pohon saat malam berhujan deras. Obrolan pohon merujuk ke iklan sehalaman di Kompas. Iklan itu disajikan oleh perusahaan rokok berkaitan ajakan menanam pohon di sepanjang pesisir Jawa.

Aku belum selesai berurusan dengan pohon. Ingatanku mengarah ke buku lawas berjudul Boenga Meloer I: Boekoe Batjaan Bahasa Melajoe oentoek Sekolah Samboengan Dipoelau Djawa (J.B. Wolters Uitgevers-Maatschappij, 1941) karangan Soeria Diradja. Buku setebal 100 halaman ini juga menghadirkan gambar-gambar dari Rd. Kamil. Aku sengaja mengoleksi-membaca buku bacaan di sekolah untuk menemukan imajinasi-imajinasi murid di masa lalu. Buku bacaan menentukan pengenalan murid terhadap pelbagai hal melalui suguhan-suguhan cerita.

Aku tertarik cerita berjudul Keboen Radja di halaman 78-81. Cerita ini tentang liburan bocah-bocah ke Bogor. Mereka takjub dan menikmati liburan di Keboen Radja. Adegan keluar dari stasiun kereta api membuat mereka tercengang. Takjub semakin terasa saat mereka berjalan kaki di Keboen Radja. Aku sajikan kutipan sealinea: “Lalu berdjalanlah kami berempat melihat keboen boenga jang bagoes itoe. Didalam keboen boenga atau taman itoe, banjak pohon tjemara dan pohon jang lain-lain. Semoeanja teratoer; pohon-pohon itoe rendah lagi rimboen, amat bagoes kelihatannja. Roempoetnja hidjau warnanja dan rata karena selaloe dipelihara baik-baik. Sajang rasanja mengindjak roempoet itoe. Kami berdjalan itoe didjalan ketjil didalam keboen itoe.”

Mereka takjub memandang pohon. Mereka enggan menginjak rumput. Aku jadi ingat papan-papan larangan menginjak rumput di sekian taman di Solo. Kebijakan tamanisasi di Solo diikuti pengumuman: “dilarang menginjak rumput”. Aku justru merasa bahwa kehormatan rumput itu jika diinjak. Kehormatan rumput juga tampak dari keberserahan menjadi santapan binatang. Rumput selalu bertumbuh meski diinjak dan disantap. Pemahamanku ini pantas diralat jika tak sesuai dengan ilmu rumput. Aku mesti belajar mengenai rumput agar ada keinsafan. Ilmu rumput penting untuk mengurusi taman, sawah, kebun, lapangan. Barangkali aku mesti belajar ilmu rumput pada para pemain sepakbola. Mereka akrab dengan rumput untuk membuat jutaan orang di dunia terpana dan kecewa.

Aku juga harus berlajar ilmu kelapa. Soeria Diradja menghadirkan cerita berjudul Berkeboen Kelapa di halaman 98-99. Cerita ini memiliki tokoh lelaki pensiunan. Masa tua dinikmati dengan berkebun. Simaklah: “Toean Soelaiman soedah lama mendjadi goeroe di Tasikmalaja. Tahoen ini ia meletakkan djabatannja, dengan mendapat pensioen. Toean itoe soedah kaja. Gedoengnja besar dan bagoes. Gedoeng itoelah jang terbagoes dikota Tasikmalaja. Setelah berhenti djadi goeroe, toean itoe mendjadi orang tani. Kerapkali ia pergi ke kampoeng Tjiwalan. Disana dibelinja beberapa bidang tanah. Kata orang tanahnja itoe lebih dari seratoes bahoe loeasnja. Tanahnja itoe separoeh ditanaminja pohon boeah-boeahan, dan separoeh lagi ditanaminja kelapa.”

Toean Soelaiman menghendaki berkebun kelapa dengan pamrih mendapat penghasilan melimpah. Aku jadi minder jika mengurusi kelapa cuma merujuk ke uang. Aku ingat tamsil mubaligh di pengajian. Pohon kelapa memiliki manfaat dari akar sampai buah. Pohon menjadi metafora religiositas. Orang-orang di Jawa juga mengerti kelapa sebagai referensi atau tamsil  kultural-kerohanian. Kelapa berkaitan dengan urusan memasak, sapu lidi, tiang, mainan, atap, minuman…. Aku pun ingat cerita peminum air kelapa muda menentukan kemunculan penguasa di Jawa. Pohon kelapa bergelimang makna. Begitu.

Iklan