Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Majalah Tempo edisi 5 Maret 1977 sajikan esai kecil tak berjudul. Tulisan di atas rubrik: CATATAN PINGGIR. Nama penulis tak tercantum. Esai itu mengisahkan Werkudara dan mengudari cerita Dewa Ruci. Pembaca di masa itu mungkin menganggap esai itu tak biasa. Esai di halaman 8 mirip renungan sekejap. Redaksi memberi judul “Catatan Pinggir” menggantikan “Fokus Kita”.

Caping 1

Esai-esai terus ditulis tanpa lelah. Kumpulan esai itu terbit menjadi buku tebal berjudul Catatan Pinggir 1 (Grafiti, 1982). Buku ini mengalami cetak ulang: bukti digandrungi pembaca. Edisi Catatan Pinggir 1 (2006) memuat penjelasan kecil: “Rubrik ‘Catatan Pinggir’ dalam majalah Tempo bukanlah tajuk rencana… Isinya dimaksudkan sebagai semacam komentar, tapi juga semacam gumam, seperti kalau kita berbicara sendiri atau mencoret-coretkan kalimat di kertas kosong di tengah suara orang ramai… percikan pikiran pendek dan cepat di lalu lintas ide dan peristiwa-peristiwa.” Aku menerima penjelasan ini dengan kemengertian tak tuntas. Aku sering membaca buku Catatan Pinggir tapi tak mesti selalu merujuk ke keterangan-keterangan resmi dari penerbit.

Aku bermula dari “Catatan Pinggir” atau “Caping” untuk belajar menulis esai. Pengenalan dengan majalah Tempo saat di SMA telah menimbulkan keterpanaan saat membaca “Caping”. Aku mengalami permenungan dan tergoda untuk paham. Tema-tema sering melenakan. Referensi-referensi membuatku berikhtiar mencari-menemukan agar bisa membaca meski agak terpengaruhi perspektif si penulis “Caping”. Aku sering mencatat buku-buku referensi di “Caping”. Aku harus mendapatkan dan mengoleksi.

Penerbitan buku Catatan Pinggir semakin merangsangku untuk membaca. Ibadah lanjutan aku jalankan: menulis. Aku menulis esai. Pilihan ini tak mengabaikan penulisan puisi, cerpen, naskah teater. Aku cuma termenung rikuh saat menengok masa lalu. Tulisan-tulisanku mengarah ke peribadatan esai. Aku pun ingat “Caping” sebagai bacaan menggairahkan untuk pembelajar dalam mengurusi esai.

Aku tak ingin melulu menceritakan diri. Aku ingin menampilkan ulang urusan “Caping” dengan sekian ulah pembaca. Surat berdebat terjadi di rubrik “Surat”, Tempo edisi 24 Maret 1979, sejak pemuatan surat dari Danurdono asal Solo. Danurdono melakukan pembundelan “Caping”. Bundelan ini ditawarkan ke pembaca. Ulah Danurdono menimbulkan curiga dari S.Z. Tobing di Jakarta. Curiga itu tercantum di “Surat” berjudul Itu Bundel Catatan Pinggir, dimuat Tempo edisi 7 April 1979. S.Z. Tobing menulis: “Rupanya hobi TEMPO yang gemar membundel, telah latah ditiru Bung Danurdono dengan cara pemanfaatan Catatan Pinggir TEMPO untuk tujuan komersil. Hebat juga wong Sala ini.” Alinea ini sudah mengandung emosionalitas. Kalimat-kalimat S.Z. Tobing semakin konfrontatif: “Apakah memang dibenarkan ‘membajak’ isi TEMPO tanpa seizin redaksi untuk maksud-maksud komersil?” Aku terkejut membaca surat tentang bundel “Caping”. Para pembaca di masa 1970-an sudah memiliki kegandrungan atas “Caping” meski menimbulkan polemik.

Danurdono memberi jawab di “Surat” dengan judul Sekali Lagi Bundel Ca-Ping, dimuat di Tempo (28 April 1979). Danurdono sadar ada serangan terkait tuduhan komersil. Jawaban pun diberikan dengan data hitungan harga. Danurdono menjelaskan: “Sekarang soal harga. Jangan dikira saya mendapat untung banyak… Kalau menurut Bung Tobing harga Rp 1.250 terlalu mahal, lalu berapa kira-kira harga yang cocok? Bung Tobing nggak usah repot-repot mengusulkan harga.” Jawaban lugu tapi menantang. Aku jadi tergoda untuk terus menikmati perdebatan para pembaca “Caping”.

Danurdono justru memberi janji: “Saya memang bermaksud membagikan bundel Catatan Pinggir dengan cuma-cuma (gratis). Tapi kapan, entah.” Janji ini ditanggapi oleh redaksi mirip slogan motivator: “Ini luar biasa!” Aku merasa ada drama pembaca. Mereka menikmati “Caping” di edisi-edisi Tempo dengan pelbagai pamrih. Kehendak melakukan pembundelan dan menawarkan ke pembaca lain menimbulkan curiga. Redaksi Tempo tentu juga memiliki maksud “genit” dan “ganjil” dengan pemuatan surat-surat mereka. Aku membaca sambil menahan geli atas rentetan surat berdebat. “Caping” jadi biang masalah!

Caping 2

Urusan “Caping” belum selesai. Pembaca bernama Y.I. Widyarto Adi P.S. asal Jakarta mengajukan surat berjudul Caping, Sekali Lagi, dimuat di Tempo edisi 5 Mei 1979. Y.I. Widyarto Adi P.S. menulis “pujian” untuk ulah Danurdono: “Usahanya membuat orang-orang yang penuh kesibukan mempunyai kesempatan membalik-nalik kesejukan itu, dengan mudah dan praktis. Kliping memang mudah, tetapi membaca kumpulan Catatan Pinggir yang telah disendirikan membuat kita mudah ingat ada nilai rokhaniah yang ‘masih” dihargai. Siapa yang harus dipuji, TEMPO atau saudara itu? Dua-duanya saja, deh!” Aku berharapan para penulis surat itu masih hidup. Mereka perlu memberi kesaksian lanjutan tentang “Caping” saat sudah terbit menjadi buku tebal: 9 jilid.

Polemik atau perdebatan bundel “Caping” masih berlanjut. Dua orang beradu penjelasan di Tempo edisi 1 September 1979. Roewardiyanto menulis surat menggugat tentang harga bundel “Caping”. A. Suwanda memberi jawab di Tempo edisi 27 Oktober 1979. Pengakuan naif tapi arogan: “Koleksi Caping itu sebenarnya cuma hobi -terus terang saya tidak bakat dagang, uang jajan dari orang tua saja lebih dari cukup- bukan sombong. Saya juga masih sekolah.” Keterangan lanjutan mengandung humor: “O ya, sampai saat ini baru 5 orang termasuk Saudara yang berminat pada Caping saya itu. Oke, kita sekolah baik-baik saja.” Ajakan bersekolah jadi penutup perdebatan harga bundel “Caping” dan kegandrungan pembaca untuk mendokumentasi “Caping”.

Aku tak mengalami tahun polemik “Caping”. Aku membaca surat-surat berpolemik di tahun 2013. Aku sadar ada perbedaan waktu dan kadar emosionalitas untuk memahami surat di masa lalu. Polemik-polemik tentang “Caping” masih ada dengan perbedaan tema dan pelaku. Edisi ini cuma berurusan surat berdebat tentang harga bundel “Caping”. Polemik mengartikan ada pikat “Caping” bagi pembaca. Begitu.

Iklan