Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Semalam hujan deras. Air menetes mengenai buku dan majalah. Subuh: aku bergerak ke kamar untuk berdoa. Oh! Buku basah. Majalah basah. Aku terdiam dan lamban bergerak. Matahari sekejap memamerkan wajah. 18 April 2013, pagi hujan deras. Buku dan majalah aku bereskan. Aku menengok juga tumpukan buku di bawah meja makan dan meja di depan kamar mandi. Robekan kertas berceceran. Tikus tentu telah bersarang dan mendapat santapan. Buku-buku aku urusi dengan sedih. Tiga buku lawas hancur oleh gigitan tikus. Puluhan buku masih memiliki jejak-jejak gigitan. Aku masih bisa menahan airmata.

Adegan berlanjut ke rak buku. Koleksi majalah ada di rak paling bawah. Aku ingin membersihkan dan menata ulang. Tiga bundel majalah dan tujuh buku telanjur hancur. Rayap telah berumah dan menghabisi halaman demi halaman. Aku tak berteriak. Aku cuma memandangi hujan. Aku rela mendengar hujan berisik di dalam rumah. Kamis mengandung tangis. Aku ceroboh dan bersalah. Adegan bersedih sampai siang. Aku pun berdoa untuk buku dan majalah agar dijauhkan dari petaka. Siang masih hujan.

Aku ingin rebah tapi malah teringat Sutan Sjahrir. 9 April 19766, Sutan Sjahrir meninggal di negeri asing: Swiss. Upacara pemakaman di Kalibata dilaksanakan atas kepentingan negara. Gelar pahlawan pun telah diberikan untuk Sutan Sjahrir. Moch. Tauchid dalam buku Mengenang Pahlawan Sjahrir (Jajasan Sjahrir Djawa Tengah-Jogjakarta, 1966) menghadirkan pengakuan-pengakuan bertaburan pujian. Moch. Tauchid menjelaskan misi penerbitan buku setebal 24 halaman: “Ketjuali untuk peringatan dan kenangan, mudah-mudahan isinja dapat mendjadi perangsang bagi kita untuk menggali dan mempeladjari lebih landjut dan lebih dalam tentang ‘Sosialisme Kerakjatan’ jang diadjarkan Sjahrir, dan seterusnja melaksanakan dan mewujudkannja dengan keuletan dan ketabahan hati, sebagai tjontoh dan teladan jang telah diberikan oleh Bung Sjahrir kepada kita.”

Aku mesti membaca buku ini dengan mengolah emosi. Aku sangsi tapi memiliki penghormata atas Sutan Sjahrir. Penulis tampak berlebihan untuk memberi sebutan bagi Sutan Sjahrir: guru besar sosialisme kerakjatan, pengamal dan pedjuang sosialis, pelopor persatuan Asia…. Aku menganggap julukan-julukan itu menimbulkan jarak 1000 meter untuk mengenali Sutan Sjahrir. Aku telah membaca Renungan Indonesia. Tulisan-tulisan Sutan Sjahrir mengandung kelaziman sebagai manusia-resah, manusia-berpengharapan, manusia-modern, manusia-ganjil. Sjahrir memang tokoh tanpa harus dikultuskan dengan julukan-julukan.

Aku tak bersedih banget. Buku Renungan Indonesia (Pustaka Rakjat, 1951) lolos dari serangan tikus dan rayap. Aku sering membaca buku ini untuk mengingat sejarah. Sekian esaiku juga menggunakan Renungan Indonesia sebagai referensi. Aku pun turut mengadakan peringatan 100 tahun Sutan Sjahrir (1909-2009) di Solo. Buku ini semula terbit di Belanda. Penerjemahan ke bahasa Indonesia dilakukan oleh H.B. Jassin. Renungan Indonesia adalah bacaan mengesankan saat aku ingin membaca halaman-halaman sejarah di Indonesia dan ketokohan.

Renungan 2

6 April 1935, Sutan Sjahrir menulis di Digul sebagai manusia terhukum: “Disini banjak orang jang djiwanja aneh-aneh sampai ada djuga jang gila. Dahulu aku pernah melihat di Amsterdam lakon Blanke Ballast, Tolak Bara Putih. Disini seperti keadaan dalam lakon itu.” Para penggerak dan pengisah Indonesia memang harus sanggun menerima risiko saat melawan kolonial. Hukuman penjara atau pembuangan mesti dialami. Sutan Sjahrir turut dalam daftar terhukum di Digul. Kondisi Digul mirip “roman ironi”.

Sutan Sjahrir menulis: “Bangsa kita dari segala golongan ada disini dan kulihat bahwa djustru disini djiwa mereka terbuka telandjang bulat, suatu hal jang tidakkan mungkin apabila mereka itu tinggal dirumah, didesa dan dihalaman mereka sendiri.” Kolonial ingin mereka bersedih dan putus asa. Digul sengaja menjadi “daerah kegilaan” dan “daerah kematian”. Sutan Sjahrir tak mau bersedih. Lakon hidup di Digul memberi sengat untuk “membentuk” Indonesia.

Tulisan-tulisan Sutan Sjahrir mengandung pelbagai usulan dan serpihan biografi. Peristiwa membaca dan menulis terus dijalani meski menjadi manusia terhukum. Tulisan bertanggal 20 Juni 1935 menampilkan pengakuan: “Pada hakekatnja kita tidak bisa menerima perbedaan wudjud antara Timur dan Barat, tidak buat kehidupan kita, oleh karena kita dalam kebutuhan-kebutuhan batin kita, tergantung kepada Barat, bukan sadja dalam hal ilmu pengetahuan akan tetapi djuga dalam hal kebudajaan umum.” Sutan Sjahrir adalah pembela Barat. Ejekan dan sinisme sering diberikan untuk Sutan Sjahrir berkaitan kedirian beraroma Barat.

Aku menganggap Sutan Sjahrir pantas jadi “manusia Eropa”. Tokoh intelektual tak bergelar sarjana ini memiliki gairah berlimpah untuk mempelajari Barat dan mengamalkan di urusan sastra, politik, ilmu, asmara…  Aku mengagumi meski diriku sulit menjadi “manusia Eropa”. Sutan Sjahri adalah “bait kecil” dalam epik Indonesia.

Dua buku itu menjadi bacaan mengusir kesedihan. Aku menemukan sore masih hujan tapi sedih perlahan reda. Kamis ingin terlewati dengan kata-kata meski sempat berairmata. Begitu.

Iklan