Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku memiliki kebiasaan wajar: membaca surat pembaca. Kebiasaan ini dimanjakan oleh koran dan majalah. Rubrik atau halaman bagi pembaca sering membuat tersentak, bersedih, tertawa, muak. Surat pembaca berbeda dengan surat Kartini. Surat pembaca dan surat Kartini tentu berbeda dengan janji surat dari perempuan di pulau kejauhan untuk lelaki wagu. Surat. Aku masih belum bosa berurusan dengan surat.

Surat pembaca ini tersaji puluhan tahun silam. Orang-orang sudah melupakan tanpa sesalan. Penulis surat bernama Solichin Salam. Aku akrab dengan nama Solichin Salam. Sekian buku telah aku santap dan tersimpan di rumah. Tokoh-tokoh besar telah disuguhkan Solichin Salam dalam buku biografi. Aku membaca untuk mengerti tokoh meski tergoda sangsi atas kompetensi penulis mengolah bahan dan membuai pembaca. Biografi dua tokoh bersaudara asal Jawa telah ditulis oleh Solichin Salam. Dua tokoh moncer: Sosrokartono dan Kartini. Nama Sosrokartono mungkin tak akrab di publik. Intelektual ganjil ini pernah aku tulis dalam esai wagu di Kompas sekian tahun silam dengan judul Manunggaling Ilmu dan Laku. Sosrokartono adalah kakak Kartini. Buku tentang Sosrokartono tak mengundang curiga. Buku biografi tentang Kartini justru mendapat ragu dan tuduhan.

Curiga 1

Soeroto menulis resensi berjudul Kartini, Sebuah Plagiat di Tempo edisi 12 Mei 1979. Resensi ini menggugat buku Solicihin Salam berjudul R.A. Kartini, Seratus Tahun (1979-1979) (Gunung Muria, 1979). Soeroto berharapan: “Saya baca buku Solichin dengan banyak harapan. Mungkin ada hal-hal yang baru, yang mengungkap segi baru dalam kehidupan Kartini atau dalam perjuangannya. Sayang, saya tidak menemukannya, setidak-tidaknya tidak banyak.” Pengharapan dan keluhan ini biasa diajukan penulis resensi buku. Aku mesti bersabar untuk menemukan serangan telak.

Alinea-alinea lanjutan menguak ketidakberesan buku garapan Solichin Salam. Soeroto menulis: “… kalimat-kalimat dalam buku Solichin itu terdapat juga dalam buku Sitisoemandari Soeroto, Kartini, Sebuah Biografi (Gunung Agung, 1977).” Soeroto mengajukan bukti-bukti: membandingkan kalimat-kalimat di buku Solichin Salam dan Sitisoemandari Soeroto. Komentar pedas: “Ini sungguh keterlaluan!” Aku merasa Soeroto adalah peresensi tangguh dalam bertarung bukti. Alinea akhir memuat konklusi: “Saya terpaksa menyatakan bahwa Solichin Salam telah melakukan plagiat atau pembajakan besar-besaran atas buku Sitisoemandari: Kartini,  Sebuah Biografi.” Oh!

Resensi itu memicu penjelasan-penjelasan Solichin Salam di surat pembaca Tempo edisi 2 Juni 1979. Pembelaan: “Buku saya ini bukan karya biografi, melainkan beberapa fragmen yang ingin menggambarkan cita-cita dan alam pikiran Kartini semasa hidupnya. Bagi orang yang sudah banyak mengetahui tentang Kartini, seperti Bapak Drs. Soeroto misalnya, tentu buku saya ini tidak banyak gunanya. Tetapi buat generasi muda barangkali ada manfaatnya.” Aku menduga Solichin Salam tertekan oleh pembeberan bukti dan curiga dari Soeroto. Pertanggungjawaban mesti diajukan agar tak jadi “gosip” publik.

Curiga 2

Solichin Salam mengakui “mempergunakan” buku Sitisoendari Soeroto dan dilengkapi buku Pramoedya Ananta Toer. Pengakuan: “Memang saya khilaf tidak membuat footnotes…. Tetapi saya telah mempertanggungjawabkan dalam “Sumber Bacaan” di halaman 92. Semua buku yang saya pergunakan telah saya cantumkan.” Pemuatan resensi Soeroto dan surat pembaca Solichin Salam di Tempo pantas jadi dokumentasi bagi para peminat studi plagiarisme. Aku memiliki teman di Jogja memiliki gairah mengurusi kasus-kasus plagiat di jagat akademik. Aku berkeinginan memberi salinan kliping untuk dokumentasi atau referensi.

Soeroto adalah suami Sitisoemandari Soeroto. Pengajuan curiga dan bukti tentu memiliki rujukan ke proses penulisan buku Kartini, Sebuah Biografi. Sitiseomandari Soeroto mengenang: “Pada tahun 1964, tatkala saya bersama suami saya, Drs. Soeroto, bepergian ke Jawa Tengah dan akan melewati kota Salatiga, timbul keinginan saya untuk berkenalan dengan adik almarhumah R.A. Kartini, yaitu Raden Ayu Adipati Kardinah Reksonegoro, yang tinggal di kota tersebut.” Soeroto turut “menemani” adegan awal dan proses penulisan buku oleh Sitisoemandari.

Sitisoemandari Soeroto berkeinginan menulis biografi Kartini tapi kesulitan mendapat dan membaca buku-buku rujukan. Keinginan itu bisa terwujud: “Kebetulan pada tanggal 7 Oktober 1971 saya mendapat tamu Drs. Rob Nieuwenhuys, ahli Indische Belletrie (Sastera Hindia-Belanda), dengan siapa kami bercakap-cakap mengenai R.A. Kartini sampai beberapa jam. Dengan spontan ia menyanggupi untuk mengirimkan kepada saya bahan-bahan dari Koleksi Kartini yang ada di Koninklijk Instituut voor Taal, Lan end Volkenkunde di Leiden.” Ikhtiar mengolah bahan dan mempersembahkan kerja literasi terbukti dengan penerbitan buku Kartini, Sebuah Biografi setebal 492 halaman. Kerja mengesankan dan “berkeringat”.

Kartini 3

Buku itu jadi referensi bagi Solichin Salam. Penggunaan kutipan tak disertai catatan kaki. Solichin Salam cuma menaruh keterangan di daftar pustaka. Olahan kalimat persis dengan milik Sitisoemandari Soeroto. Ulah ini memicu “serangan” dari Soeroto dengan tuduhan plagiat. Aku tergoda untuk membuat catatan-catatan tentang buku-buku Solichin Salam. Penulis ini termasuk sering menerbitkan buku. Koleksi di rumahku memiliki puluhan buku Solichin Salam meski belum bisa menandingi jumlah koleksiku untuk buku-buku Soebagijo I.N.

Minggu, 21 April 2013: Beni Setia (Caruban) dan Junaidi Khab (Surabaya) mengirim pesan pendek berisi kabar bahwa resensiku untuk buku Th. Sumartana berjudul Tuhan dan Agama dan Pergulatan Batin Kartini (Gading, 2013) dimuat di Jawa Pos. Lega. Aku lekas bergerak ke kios koran. Adegan membuka halaman-halaman koran bersaing dengan situasi bising di jalan. Aku tak menemukan halaman resensi di Jawa Pos edisi Solo. Aku mengajukan permohonan ke Beni Setia agar mengirimkan Jawa Pos edisi Jawa Timur ke rumahku. Aku pun menunggu amplop berisi Jawa Pos sampai di rumahku. Begitu.

Iklan