Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Ahad, 21 April 2013, obrolan tentang berdoa dan berpuisi di rumahku. Romo Mudji Sutrisno memberi khotbah pendek. Hidup itu puisi. Manusia berdoa dan berpuisi di keseharian tanpa harus berlaku fanatik atas formalisme agama. Kesejarahan manusia itu berdoa-berpuisi untuk menerangi hidup dan peradaban. Aku dan teman-teman menerima khotbah itu mirip esai sembilan alinea. Khotbah dilanjutkan dengan ritual puitik oleh Teater Sirat. Aku jadi teringat masa silam: puisi dan doa itu disenandungkan dengan laku tubuh teatrikal. Kejutan! Orang-orang melihat ritual puitik dengan tawa dan tepuk tangan.

Aku segera berbaring meski malam belum mencekam. Aku merasa lelah selama empat hari mengurusi ribuan buku dan majalah: dibersihkan dan ditata ulang. Ritual literasi ini merangsang hidup tapi harus ditebusi dengan keringat, lelah, sepi, sedih. Aku membaca puisi berjudul Usia Penjair gubahan Sitor Situmorang sebelum memejam mata: Biru djuga langit/ Tembus djuga musim// Duka tetap rupa… Sadjak kering/ Bertebaran dalam tjiuman… Puisi ini termuat di Almanak Seni 1957 susunan Zaini dan diterbitkan oleh Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional (Djakarta).

Buku ini menggodaku sejak pagi. Aku telah membaca sekian tahun silam. Kangen terasa saat mataku menatap wajah buku: sederhana dan naif. Sampul dikerjakan oleh Oesman Effendi. Aku merasa buku ini memberi janji untuk bersetia menempuhi jalan seni. Buku memang tak serupa kitab suci tapi bisa menebar pengharapan bagi pembaca. Buku mengandung keajaiban-keajaiban dari percumbuan tak biasa. Aku membaca buku mirip berdoa.

IMG

BMKN memberi penjelasan: “Sebuah almanak diterbitkan tak hanja guna memenuhi kebutuhan para pendukung sesuatu tjabang kebudajaan tertentu, tapi djuga untuk chalajak umum; didalamnja termuat pengetahuan dan tjiptaan sedapat-dapatnja jang dihasilkan oleh para pendukung itu. Dengan begitu sifat almanak mendekati sifat ensiklopedi ketjil-ketjilan, tapi dibikin jauh lebih sederhana dan lebih mengingat kebutuhan orang di masjarakatnja dan pada zamannja sendiri, itupun tidak dichususkan untuk ahli-ahli, melainkan setjara populer.” Penjelasan ini pasti melampaui penjelasan di Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta.

Almanak Seni 1957 memuat tulisan-tulisan Boejoeng Saleh, Ida Nasution, L.K. Bohang, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bachtiar, A. Rossidhy, Kirdjomuljo, W.S. Rendra, Dodong Djiwapradja, J.A. Dungga, Cornel Simanjuntak, Trisno Sumardjo. Tulisan tentang sastra, musik, seni rupa dihadirkan bersamaan meski berbeda kadar. Sastra mendominasi ketimbang musik dan seni rupa.

Aku perlahan meragukan penjelasan tentang almanak. Buku ini memuat tulisan dari para seniman ampuh. Esai, cerpen, puisi seolah tak disuguhkan untuk pembaca umum. Buku ini memang bacaan kaum seniman: terpilih dan “berat”. Aku menduga bahwa pembaca umum bakal kesulitan membaca  Almanak Seni 1957. Buku ini “terlalu” dan “mengesankan”.

Boejoeng Saleh dalam esai panjang berjudul Perkembangan Kesusasteraan Indonesia memberi ajakan: “Saja kira tak banjak alasan bagi kita untuk berbangga atas warisan perbendaharaan kesusasteraan Melaju jang kita terima sebagai latar-belakang tradisi kesusasteraan kita. Dibandingkan dengan kesusasteraan Djawa sadjapun perbedaan mutu dan kekajaan kesusasteraan Melaju Lama telah agak besar. Pengenalan diri dan pengakuan setjara djudjur saja kira lebih baik didalam hal ini. Karenanja harapan hendaknja ditudjukan kedepan.” Aku meragukan ajakan ini jika menilik uraian-uraian Boejoeng Saleh: wagu dan hampir klise.

Keraguan ini berlanjut ke pukau dari prosa Pramoedya Ananta Toer berjudul Djakarta. Tulisan ini memberi narasi ironik tentang manusia dan Jakarta: “Segala jang buruk berkembangbiak dengan mantiknja di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjingnja dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi wargakota jang sebelum proklamasi apatis – apatisnja seorang hamba – kini kulihat apatisnja orang merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa sebagai penghinaan. Didalam kehidupan jang tidak menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghinaan!” Aku merasa mendapat kabar buruk tentang manusia, kota, kehidupan. Pramoedya Ananta Toer menulis prosa ini di tahun 1955. Aku pun mengimajinasikan makna kata-kata berlatar situasi sosial, ekonomi, politik, kultural di masa 1950-an. Revolusi menjadi tema besar. Pramoedya Ananta Toer mengimbuhi dengan ironi: penghinaan.

Tulisan J.A. Dungga berjudul Perkembangan Musik Indonesia memuat pengakuan peran Ibu Sud: “Kemadjuan bangsa Indonesia dalam tjita-tjitanja untuk mentjapai kemerdekaan mempengaruhi dunia musiknja pula. Pada tahun-tahun dekat kemerdekaan muntjul pengarang lagu Ibu Sud atau njonja Bintang Sudibjo, jang terkenal karena kumpulan lagu anak-anaknja bernama Ketilang.” Aku adalah pengagum Ibu Sud. Pengakuan ini membuatku memberi hormat dan sepakat untuk J.A. Dungga. Buku berjudul Ketilang berisi lagu-lagu Ibu Sud itu telah lama menghuni rumahku.

IMG_0002

Aku memiliki perhatian besar untuk tulisan Trisno Sumardjo berjudul Kedudukan Seni Rupa Kita. Aku sejak mula mengenal nama Trisno Sumardjo sebagai pengarang cerita pendek, drama, penerjemah. Aku telah memiliki puluhan buku dari Trisno Sumardjo. Tulisan tentang seni rupa masih mengurusi kiblat: Timur dan Barat. Trisno Sumardjo memberi deskripsi tentang pengaruh-pengaruh Barat dan pesona Timur sebagai referensi dunia seni rupa di Indonesia. Aku membaca dengan pengharapan agar semakin menggandrungi hal-hal di seni rupa.

Almanak Seni 1957 memang tak bisa dianggap buku bacaan biasa. Aku merasa memiliki misi untuk menempatkan buku ini di daftar bacaan terpenting dari masa 1950-an. Godaan kecil dari buku ini adalah pemuatan daftar penerbit dan toko buku di pelbagai kota. Aku menandai penerbit dan toko buku di Solo. Ada enam penerbit dan toko buku. Aku meragukan jumlah ini jika mendapati cerita-cerita tentang kemonceran Solo di awal abad XX sebagai “kota buku” atau “kota pustaka”. Aku harus mencari keterangan lanjutan agar sanggup mengisahkan Solo dan buku! Begitu.

Iklan