Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Nio Joe Lan: nama dan buku. Aku mengakrabi nama ini dari buku-buku tentang sastra Indonesia-Tionghoa, sastra Tiongkok, sastra Jepang, sejarah… Buku-buku Nio Joe Lan termasuk dalam daftar bacaan berbobot dari masa lalu. Aku mengakui bahwa Nio Joe Lan pantas tercatat sebagai penulis moncer dan memberi warisan-warisan penting untuk Indonesia. Nio Joe Lan (1904-1973) adalah wartawan dan penulis. Nio Joe Lan juga memiliki nama lain: Junus Nur Arif. Aku berpikir bakal membuat esai panjang tentang Nio Joe Lan sambil melengkapi koleksi buku-buku garapan Nio Joe Lan.

Buku berjudul Peradaban Tionghoa Selajang Pandang (Keng Po, 1961) menjadi bacaan informatif dan reflektif. Buku setebal 250 halaman ini terbit di masa Orde Lama. Buku tentu tak sekadar bacaan. Kehadiran buku sering berkaitan dengan pengaruh situasi politik. Persoalan-persoalan Tionghoa terus jadi polemik dalam agenda berbangsa-bernegara. Rezim Orde Lama membuat kebijakan-kebijakan politis untuk menjelaskan peran dan status. Tionghoa pun menjelma tema pelik secara politik, ekonomi, sosial, kultural di Indonesia. Kepelikan itu berlanjut ke masa Orde Baru.

Peradaban Tionghoa

Nio Joe Lan memberi penjelasan awal: “Di Indonesia hidup banjak orang Tionghoa. Mereka hidup ditengah-tengah bangsa Indonesia. Mereka hidup dengan memegang tinggi kebudajaan dan kepertjajaan serta tradisi mereka. Apakah jang kita, orang Indonesia, mengetahui mengenai mereka? Mengenai kehidupan mereka? Mengenai pandangan kehidupan mereka? Mengenai peradaban mereka? Mengenai kepertjaan mereka?” Nio Joe Lan seolah menguji kadar pengetahuan publik. Jawaban pun muncul: “Umumnja tidak banjak.”

Aku tertarik dengan penjelasan tentang penggunaan kata “gua”. Kata ini sering diucapkan oleh orang-orang di Jakarta. Penggunaan kata “gua” oleh artis-artis di televisi semakin membuat “gua” beredar ke kota-kota dan desa-desa di Indonesia. Aku semula tak menduga kata “gua” berkaitan dengan peradaban Tionghoa. Kata itu pernah aku anggap tanda kesombongan si pengucap saat mengobrol. Kata “gua” juga mulai sering digunakan di tulisan-tulisan kaum remaja: cerpen atau catatan harian.

Penjelasan Nio Joe Lan: “Kata ‘gua’ ini sebuah kata dalam dialek Hokkian. Artinja: ‘saja’. Kata ini dalam kalangan orang Tionghoa Hokkian tidak bersifat lebih kasar daripada kata ‘aku’ dalam bahasa Indonesia. Seorang Tionghoa Hokkian membahasalan diri ‘gua’ djikalau berbitjara dengan seorang sahabatnja. Seorang anak-pun memakai kata ini dalam pertjakapan dengan orang-tuanja.”

“Gua” sering mengingatkanku dengan Jakarta. Kata dan kota membuatku berpikiran ganjil. Aku sulit menerima penggunaan kata “gua”. Aku juga sulit mengartikan hidup di Jakarta sebagai kota bertebaran ironi dan tragedi. Jakarta bagiku “ketakutan” dan “ketidakbetahan”. Aku pernah ke Jakarta meski jarang memiliki kenangan indah. Oh! Jakarta dan “gua” membuatku ada di pengisahan “buruk” sebelum mengetahui penjelasan-penjelasan gamblang.

Nio Joe Lan menemukan ada aksentuasi dan pembesaran arti dari kata “gua” saat dipergunakan di Indonesia. Penjelasan gamblang: “Kata ‘gua’ ini di dalam pergaulan di Indonesia dipergunakan oleh: (1) seorang orang dengan kedudukan sosial lebih tinggi terhadap seorang orang dengan status kemasjarakatan lebih rendah, misalnja seorang madjikan terhadap seorang pengawalnja; (2) seorang sahabat terhadap seorang sahabat; (3) sorang orang jang berusia lebih tua terhadap seorang orang jang berumur lebih muda.”

Aku mengangguk untuk mengartikan kemengertian atas sejarah kata di Indonesia. Pengaruh peradaban Tionghoa di Indonesia mulai terjelaskan melalui kata. Penjelasan-penjelasan tambah impresif melalui selisik penggunaan kata “gua” dalam kesusastraan modern di Indonesia. Nio Joe Lan menerangkan: “Dalam beberapa hasil-sastera Indonesia kita dapat membatja, sesuatu tokoh lantas tidak menjebut diri ‘aku’ pula melainkan ‘gua’, karena telah mendjadi gusar akan orang lain jang diadjakanja bitjara!”

Kata “gua” digunakan oleh Utuy T. Sontani dalam Suling (1948). “Gua” diucapkan oleh tokoh bernama Pandji: “Dosa!/ Dosa!/ Sekali lagi dosa!/ Lu punja dosa/ Jang tjukup djadi alasan/ Untuk gua mentjekik elu/ Sampai mampus!” Pengajuan contoh ini tak pernah terpikir olehku sebagai pembaca sastra. Aku merasa malu. Malu! Aku cuma menduga kata “gua” itu masuk dalam cerita-cerita kaum remaja dan sinetron.

Nio Joe Lan memang mafhum sastra. Bab “Sastra Tiongkok” berisi urain-uraian mengesankan tentang sastra Tiongkok dan penerjemahan ke bahasa Melaju-Rendah di Hindia Belanda sejak abad XIX. Kerja penerjemahan ini turut merangsang pertumbuhan sastra di Indonesia. Peran para penerjemah dan pengarang peranakan Tionghoa memberi kontribusi besar dalam tema, bahasa, penerbitan, komunitas pembaca…. Aku juga mulai mempelajari sejarah sastra merujuk ke penerjemahan sastra Tiongkok dan sastra Barat oleh kaum peranakan Tionghoa. Minat ini mesti disokong penambahan koleksi buku dan agenda membaca di waktu panjang.

Peradaban Tionghoa 2

Buku Peradaban Tionghoa Selajang Pandang juga menjelaskan tentang kuil, warna, huruf, kaligrafi, keluarga, shio….  Aku merasa ada keberuntungan membaca buku Nio Joe Lan. Koleksi buku ini mungkin dimiliki oleh sekian orang saja sejak penerbitan di tahun 1961. Kelangkaan telah dijawab dengan penerbitan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia: Peradaban Tionghoa Selayang Pandang (2013). Aku membeli buku edisi baru ini meski sudah memiliki edisi lawas. Aku ingin membandingkan model perubahan dalam ejaan-kebahasaan dan mengalami situasi pembacaan di abad XXI. Aku bisa membedakan situasi diri saat membaca edisi lawas atau edisi baru. Tangan dan mataku justru berpihak untuk edisi lawas. Begitu.

Iklan