Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Indonesia pernah memiliki pemikir ekonomi ampuh: sejak masa kolonialisme sampai rezim Orde Baru. Pemikir itu bernama Mohammad Hatta. Aku semula tertarik dengan Hatta sebagai pemikir politik. Biografi politik Hatta membuatku menemukan kekaleman dan keluguan dalam mengimajinasikan Indonesia. Hatta memang manusia santun meski sering membuat tulisan-tulisan keras: menantang kolonialisme dan membarakan nasionalisme.

Hatta dan tulisan. Aku menganggap Hatta adalah penulis paling rajin di Indonesia. Warisan tulisan Hatta selalu menimbulkan rangsang melacak sejarah ide sejak masa kolonialisme. Berpolitik adalah berliterasi. Hatta tak cuma menjadi tokoh di organisasi pergerakan. Hatta “memeluk” buku untuk “membentuk” Indonesia. Biografi diri sebagai intelektual menghendaki perubahan-perubahan berpijak ke rasionalitas dan narasi kemodernan. Hatta pun turut mengisahkan Indonesia tapi tak “menggelegar”. Hatta terus “berbisik” dengan tulisan-tulisan.

Hatta mengakui: “Isi buku ini mulanja beberapa karangan jang ditulis di Digul dan di Neira antara tahun 1935-1941 dan terbit didalam beberapa madjalah dan surat kabar Indonesia. Keinginan pemuda dan peladjar serta orang banjak akan buku batjaan ekonomi dalam bahasa kita mendjadi sebab maka karangan-karangan ini dikumpulkan dan dibukukan.” Penjelasan ini bisa aku terima dengan referensi pengakuan-pengakuan Hatta di buku Memoir dan kesaksian Sutan Sjahrir di buku Renungan Indonesia.

Hatta selalu bersama buku-buku saat menjalani hukuman pembuangan. Agenda membaca dan menulis telah menjadi sejenis ibadah harian. Hatta pun membuat kursus ekonomi-politik selama di pembuangan. Hatta dan Sjahrir memang tipe intelektual modern: mementingkan pendidikan dan menggerakkan ide melalui tulisan-tulisan.

Buku ini merangsangku belajar ekonomi. Hatta tak melulu menulis tentang ekonomi. Tema pendidikan, demokrasi, bahasa, politik juga sering digarap. Buku ini diniatkan untuk pembelajaran ekonomi. Hatta menerangkan: “Perekonomian sesuatu negeri pada umumnja ditentukan oleh tiga hal. Pertama, kekajaan tanahnja. Kedua, kedudukannja terhadap negeri lain dalam lingkungan internasional. Ketiga, sifat dan ketjakapan rakjatnja serta tjita-tjitanja. Terhadap Indonesia harus ditambah satu fasal lagi: jaitu sedjarahnja sebagai tanh djadjahan.” Penambahan fasal ini fakta. Faktor sejarah adalah basis dari pembangunan-pertumbuhan ekonomi.

IMG_0090

Aku menduga tulisan-tulisan Hatta sudah tidak diajarkan di perguruan tinggi. Buku-buku perkuliahan untuk ekonomi tentu sudah meminggirkan buku-buku lawas. Aku sedih jika nama Hatta juga terhapuskan dari ingatan para mahasiswa di fakultas ekonomi. Mereka dibiasakan membaca buku-buku ekonomi terjemahan dengan teori-teori mutakhir. Mereka kadang “diharuskan” membaca buku pengantar ilmu ekonomi garapan dosen tapi tak membahas atau mengutip tulisan-tulisan Hatta. Aduh!

Penjelasan Hatta tentang tiga fasal dan satu fasal tambahan tentang masa depan perekonomian di Indonesia mengajak pembaca menelusuri babak-babak sejarah. Peran VOV tentu mempengaruhi nasib Indonesia di abad XX. Peran para saudagar Tionghoa, Arab, India, pribumi juga memberi kontribusi di arus pertumbuhan ekonomi. Hal-hal bersifat historis perlu dibaca untuk mengetahui nasib negeri terjajah.

Hatta menerangkan tema-tema ekonomi dengan “enteng” dan “menggugah”. Hatta tak berperan sebagai dosen atau tukang khotbah. Penjelasan tentang desa dan kota dalam perekonomian membuatku insaf tentang hukum-hukum perubahan atau modernisasi di Indonesia. Perubahan bergerak cepat di kota. Desa sering “memanti” efek perubahan di kota dan berjalan lambat dalam agenda-agenda mengubah nasib. Kota-kota di Indonesia bergerak dengan nalar indutrial meski tak serupa di kota-kota Eropa atau Amerika. Desa-desa ada di dilema untuk berubah.

Hatta mengingatkan bahwa pendirian pabrik-pabrik tak mesti menentukan pembentukan negeri industri. Pabrik cuma tanda lahiriah jika tak diikuti oleh pembentukan mental masyarakat industri. Pabrik-pabrik memang didirikan di Indonesia untuk  mengubah nasib negeri terjajah. Pabrik tak lekas menghapus sistem da nalar ekonomi tradisional. Kesenjangan ini bertahan puluhan tahun di Indonesia. Pabrik memang terus ada tapi menimbulkan sangkaan-sangkaan buruk di Indonesia.

Aku jadi ingat dengan naskah-naskah drama berbahasa Jawa dari Teater Gapit (Solo) dan novel Pabrik (1975) garapan Putu Wijaya. Pabrik jarang memakmurkan dan memuliakan manusia. Pabrik justru masalah dan petaka jika bertumbuh oleh keserakahan. Pabrik membuat orang-orang di desaku bertaruh nasib. Mereka mulai enggan bertani. Keberadaan pabrik diartikan ketergantungan nasib. Ratusan orang di desaku adalah buruh pabrik. Mereka bekerja untuk mendapati rezeki dengan “kepatuhan”, “kekalahan”, “kebingungan”. Teman-temanku juga menjadi buruh pabrik. Pengakuan bekerja di pabrik sudah membebaskan mereka dari tuduhan publik. Mereka dianggap sudah bekerja.

Hatta menjelaskan tema-tema tentang ekonomi dengan mengutip pemikiran-pemikiran dari ahli ekonomi dunia. Rujukan itu disesuaikan dengan situasi Indonesia. Tulisan-tulisan Hatta tidak kaku. Aku bisa menikmati sebagai bacaan memikat ketimbang membaca tulisan-tulisan tentang ekonomi di masa sekarang: “intelektuil”. Hatta kadang mengingatkan pembaca tentang sastra untuk refleksi ekonomi. Penggunaan rujukan sastra cukup menimbulkan kesan ketimpang tulisan-tulisan sesak teori. Aku pun jadi ragu dengan tuduhan Sjahrir bahwa Hatta tak menggandrungi sastra.

IMG_0104

Penjelasan Hatta: “… manusia tidak pernah hidup seorang dirinja. Ketjuali dalam keadaan jang memaksa, seperti Robinson Crusoe diatas pulaunja. Djuga Robinson jang terpentjil dan hidup dengan seorang dirinja itu berasal dari suatu masjarakat jang ramai. Manusia adalah machluk sosial.” Robinson Crusoe adalah tokoh dalam novel garapan Daniel Defoe. Novel terkenal ini sering dikutip dalam uraian ekonomi, filsafat, politik…. Hatta juga menggunakan petikan puisi Rene de Clercq: Hanja satu tanh jang bernama Tanah Airku,/ ia makmur karena usaha, dan usaha itu ialah usahaku.”

Buku Beberapa Fasal Ekonomi: Djalan Keekonomi dan Koperasi sudah sulit dicari di perpustakaan-perpustakaan kampus dan kota. Buku ini juga jarang jadi referensi dalam tulisan-tulisan mahasiswa, dosen, pengamat ekonomi. Aku mengganggap bahwa kaum intelektual kita terlalu gampang dan sombong untuk melupakan Hatta sebagai pemikir ekonomi. Tega! Mereka itu kaum pelupa. Aku tak ingin menjadi orang khilaf. Aku membaca tulisan-tulisan Hatta sebagai penghormatan dan kepatutan bagi pembelajar. Begitu.

Iklan