Tag

, ,

Bandung Mawardi

Biografi perempuan adalah biografi bernama. Kalimat ini mengawali esaiku berjudul Nama Perempuan di Jawa dimuat di Suara Merdeka, 28 April 2013. Esai wagu ini justru mengingatkanku dengan perempuan dari Bali. Aku pernah memimpikan perempuan itu meski tak berepisode seperti sinetron. Lelaki wagu ini juga pernah berairmata. Perempuan itu pernah “memberi” haru dan sendu.

Perempuan itu bernama Ni Pollok. Sosok ini memiliki biografi mengejutkan dan mengesankan. Ni Pollok adalah penari dan model dari Kelandis-Bali: mencatatkan diri sebagai perempuan dengan lakon-lakon kontroversial dan getir. Hidup dijalani dengan penerimaan takdir dan gugatan-gugatan kecil dalam pertaruhan cinta dan seni.

Ni Pollok 1

Biografi Ni Pollok dikisahkan dengan apik oleh Yati Maryati Wihardja dalam buku berjudul Ni Pollok Model dari Desa Kelandis (Gramedia, 1976). Buku ini mungkin sudah raib dari rak-rak toko buku atau perpustakaan. Biografi perempuan ditulis oleh perempuan ini memang tipis tapi impresif! Ni Pollok menjadi pusat cerita. Pembaca mengenangkan pertaruhan perempuan di Bali.

Yati Maryati Wihardja menulis biografi Ni Pollok merujuk kekaguman sejak kecil saat melihat foto seorang perempuan dengan dada telanjang di sebuah majalah. Perempuan dalam foto itu adalah Ni Pollok. Yati Maryati Wihardja pun mengangankan suatu hari bisa menemui Ni Pollok: “Aku ingin mengenalnya! Seraut wajah dan sebuah nama, lama hidup di hati gadis kecil yang mulai sering memimpikan Pulau Dewata.”

Buku biografi menjadi dokumentasi untuk mengekalkan diri dalam hitungan waktu dan membuka jalan untuk “hidup kembali” secara imajinatif. Kehadiran buku biografi jadi tanda bahwa manusia mungkin untuk menghuni di bumi meski sudah mati. Kata-kata mengabadikan.

Ni Pollok lahir 3 Maret 1917 di rumah bambu beratapkan alang-alang dan  berlantaikan tanah di Kelandis. Bocah ini lahir sebagai sudra. Takdir dijalani dengan fragmen-fragmen optimisme dan pesismisme. Ni Pollok jadi penari Legong-Keraton di usia remaja. Peran sebagai penari membuat harga diri tidak menjadi rendah. Wajah cantik dan tarian jadi mekanisme pengenalan dan penghormatan orang terhadap Ni Pollok.

Ni Pollok menuturkan: “Tahun 1932 adalah tahun yang mulai membuka kehidupanku. Kalaulah sebuah jalan, jalan itu mulai terentang untuk kususuri. Kalaulah sebuah hari, fajar mulai terbit untuk kunikmati. Kalaulah sekuntum kembang, kelopaknya mulai terbuka. Kalaulah seekor burung, sayapnya mulai mengepak.” Seorang pelukis dari Belgia bernama Adrien Jean Le Mayeur de Merpres datang ke Bali. Ni Pollok memberi sebutan Tuan Le Mayeur. Pelukis ini meminta Ni Pollok untuk jadi model lukisan.

Ni Pollok 3

Takdir sudah menggiring hidup Ni Pollok menemui peristiwa-peristiwa menakjubkan. Tuan Le Mayeur mengajari Ni Pollok membaca dan menulis. Ni Pollok juga dilatih bicara dengan bahasa-bahasa asing. Humanisme telah menjalar melalui sosok pelukis Belgia: membuka peta hidup pada seorang perempuan Bali dengan perangkat bahasa dan laku hidup beraroma kosmopolitanisme.

Aku membaca babak-babak kehidupan Ni Pollok dengan keharuan lelaki. Aku pernah berkeinginan memiliki percakapan-percakapan akrab dengan perempuan Bali. Aku ingin mengenali tubuh-jiwa perempuan di pulau elok.

Ni Pollok beranjak dewasa. Penampilan diri: bertelanjang dada saat ada di rumah dan menjalani peristiwa-peristiwa keseharian. Payudara menjadi faktor penting kegandrungan Tuan Le Mayeur pada Ni Pollok. Tuan Le Mayeur mengajari Ni Pollok untuk tahu dan bisa mengenakan BH sebagai perangkat pakaian orang modern saat itu. Tuan Le Mayeur membelikan BH dengan merek-merek: mereprentasikan tingkat ekonomi dan kesanggupan mengonstruksi gaya hidup bereferensi Eropa.

1935: Tuan Le Mayeur dan Ni Pollok menikah dengan selisih umur tiga puluh tujuh tahun. Ni Pollok berganti sebutan sebagai Madame Le Mayeur. Pernikahan jadi takdir mengandung kontradiksi. Pertaruhan hidup untuk seni atau cinta jadi sumber untuk menggapai bahagia dan menanggung derita. Ni Pollok mengalami hidup menggemaskan dan mengenaskan. Ni Pollok sadar bahwa pernikahan adalah fragmen hidup: merasai suka dan duka.

Tuan Le Mayeur selalu mengatakan kredo: “hidup untuk seni.” Kredo ini jadi hantaman mematikan bagi keinginan Ni Pollok untuk memiliki keturunan. Ni Pollok merasa mendapati dilema: mencintai suami atau memaklumkan diri untuk menimang anak. Seni dan cinta jadi kontradiksi. Merepotkan! Ni Pollok mengalah. Tuan Le Mayeur mengatakan: “Hidup manusia jadi berharga bukan hanya karena ia mempunyai anak, Pollok …. Manusia berharga karena ia berguna untuk sesamanya … ” Inikah humanisme? Aku pernah berhenti di halaman kepedihan ini tanpa bisa berteriak. Aku ingin memberi sangkalan. Sangkalan dengan seribu kata!

Membaca biografi Ni Pollok seperti membaca bab-bab hidup menegangkan. Bocah perempuan sudra menjelma menjadi perempuan terhormat di kalangan seniman dan pejabat. Ni Pollok sanggup membaca dunia dan hidup dengan pengajaran dari Le Mayeur. Ketenaran itu mengandung tragedi.

Ni Pollok dengan lirih dan pedih mengatakan: “Memang aku mengerti. Tapi mengerti tidak sama dengan menerima, bukan? Apakah tubuh wanitaku ini hanya untuk seni? Tidak buat anak, makhluk kecil yang tercinta? Oh, Dewata! Segala kemuliaan yang datang melingkari hidupku harus dibarengi dengan pengorbanan …”

Aku membaca aline-alinea cerita itu dengan airmata. Aku ingin berbisik pada Ni Pollok. Aku berharapan Ni Pollok menjadi perempuan bernama “kemuliaan” dan “keagungan”. Begitu.

Iklan