Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Bakri Siregar sering merujuk ke nama Marco Kartodikromo untuk urusan sastra revolusioner. Aku belum ingin suntuk memerkarakan Marco Kartodikromo meski aku memiliki koleksi buku-buku Marco Kartodikromo. Aku pernah membeli buku buku Karya-karya Lengkap Marco Kartodikromo: Pikiran, Tindakan, dan Perlawanan (I:BOEKOE, 2008) susunan Agung Dwi Hartanto. Aku khatam membaca buku itu dengan “ketaklengkapan”. Buku itu tak memuat novel Mata Gelap. Buku itu sulit dicari!

Aku tak ingin terus mengurusi Marco Kartodikromo. Aku mendapat rangsang untuk mengurusi Semaoen. Nama ini pernah moncer di masa awal abad XX sebagai tokoh revolusioner. Semaoen adalah tokoh di pergerakan politik dan sastra. Bakri Siregar dalam buku Sedjarah Sastera Indonesia Modern (1964) menulis: “… Namanja Hikajat Kadiroen, djuga didasarkan melawan resim pendjadjah Belanda. Roman itu disita dan sesudah pemberontakan tahun 1926/1927 dipandang sebagai buat tjiptaan kesusasteraan dibawah tanah. Oplah sastera repolusioner sangat terbatas, tidak lebih dari 1500-2000 buah. Buku-buku sematjam itu ditjetak dipertjetakan Partai Komunis dan serikat buruh.” Aku mengutip ini untuk mengingat novel Hikajat Kadiroen. Aku cuma memiliki edisi terbitang Bentang (2000). Novel itu semula terbit tahun 1920 di Semarang.

Semaun 2

Siapa Semoen? Ahli sejarah sering menjelaskan tokoh fenomenal ini berlatar Semarang. Semoaen bertumbuh di Semarang sebagai kota politik radikal saat ada SI dan ISDV. Semaoen adalah penulis ampuh. Uraian tentang sosialisme diajukan melalui Sinar Djawa (1916). Semaoen juga mempersembahkan Hikajat Kadiroen. Persembahan-persembahan itu kelak dilengkapi dengan publikasi buku berjudul Pengantar Ilmu Ekonomi Terpimpin (Penerbitan Universitas, 1960). Buku setebal 120 halaman ini jarang dibicarakan atau dirujuk untuk mengisahkan Semaoen di arus pemikiran politik-ekonomi di Indonesia.

Semaoen (Semaun) adalah dosen luar biasa di Universitas Padjadjaran (Bandung). Buku ini hendak melawan puja ilmu ekonomi berhaluan kapitalisme. Semaoen mengingatkan: “Dalam universitas-universitas di Indonesia sampai pertengahan kedua tahun 1959 dipeladjarkan ilmu pengetahuan ekonomi seperti biasanja dipeladjari dalam perguruan-perguruan tinggi di negeri-negeri kapitalis. Buku peladjaran ekonomi untuk keperluan itu biasanja ditulis oleh sardjana-sardjana ekonomi di Europa Barat dan Amerika Serikat dengan mementingkan usaha-usaha untuk memperkuat masjarakat kapitalis dan untuk sedapat mungkin memberikan adjaran-adjaran ekonomi jang sekiranja dapat melatih serdjana ekonomi untuk memadjukan dan menguntungkan perusahaan-perusahaan swasta.” Aku tak berkuliah di jurusan ekonomi. Penjelasan ini bisa aku terima jika merujuk koleksi buku-buku ekonomi terbitan 1940-an dan 1950-an di rumahku.

Zaman 1950-an adalah zaman revolusi. Soekarno mengembuskan revolusi sebagai pijakan hidup berpolitik-berekonomi. Seruan Semaoen bermakna cita-cita “masjarakat sosialis di Indonesia”. Penjelasan gamblang: “… tampak njata-njata bahwa ilmu pengetahuan ekonomim kapitalis tidak lagi sesuai dengan haluan negara kita dan dalam banjak hal memusuhi haluan negara jang menudju kepada masjarakat sosialis di Indonesia.” Aku terpana dengan diksi-diksi beraroma revolusioner demi penghancuran ekonomi-kapitalistik. Aku menganggap kalimat itu mengandung sengketa ideologis berlatar situasi politik Indonesia di masa 1950-an.

Semaun

Buku ini memuat sembilan risalah perkuliahan di Universitas Padjajaran (Bandung). Semaoen mengurai pelbagai tema: ekonomi terpimpin, ekonomi feodal, masjarakat kapitalis, revolusi Prancis, uang, industri kapitalisme, fetisisme…. Kuliah-kuliah Semoaen berisi diksi-diksi merujuk ke Karl Marx, Soekarno, Plato… Penjelasan-penjelasan secara historis bereferensi ke Yunani, Eropa, Tiongkok, Asia, Indonesia… Buku Pengantar Ilmu Ekonomi Terpimpin tampak aksentutatif jika menilik biografi intelektual Semaoen sejak di Semarang sampai berkelana ke Uni Sovjet.

Aku teringat dengan pengakuan Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia (2009) bahwa Semoen adalah tokoh paling menonjol di kelompok Marxis awal dari pribumi. Semaoen termasuk pemula dari kesejarahan PKI. Tokoh moncer ini ada di arus gerakan politik dan berliterasi. Semaoen memasuki jagat politik berhaluan Marxis sejak usia muda. Jabatan di pergerakan revolusioner (1916) menandai usia Semaoen: 17 tahun.

Pemikiran-pemikiran saat muda berketerusan sampai tua. Semoaen menjelaskan: “Rakjat pekerdja adalah kekuatan produksi jang pokok dari masjarakat umat manusia disegala taraf perkembangan masjarakat itu… .” Uraian-uraian Semoaen sering dipengaruhi kekaguman atas tokoh-tokoh revolusioner dan situasi kolonialisme di Indonesia.

Semaun 3

Ketokohan Semaoen di sastra cuma jadi kutipan pendek. Kontribusi di ilmu ekonomi juga jarang disinggung di kesejarahan intelektual di Indonesia. Pengakuan sebagai tokoh revolusioner dan ahli propagandis buruh bakal surut jika tak ada pembacaan tulisan-tulisan dan buku-buku Semoaen. Buku Pengantar Ilmu Ekonomi Terpimpin jadi pembuktian kesanggupan mempersembahkan gagasan-gagasan tertulis demi revolusi atau “masjarakat sosialis” di Indonesia meski ada pergeseran ideologis: dari situasi kolonialisme ke masa 1950-an.

Takashi Shiraisi dalam Zaman Bergerak (1997) menjuluki Semaoen adalah “pusat pergerakan” dari “zaman mogok” dan kekuatan revolusioner. Aku berharapan ada orang sanggup menulis biografi Semoen. Aku cuma mendapatkan penggalan-penggalan informasi tentang Semaoen. Semoen seolah “belum lengkap” dalam pembicaraan sejarah PKI dan sastra revolusioner. Biografi Marco Kartodikromo, H.O.S Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Soerjopranoto telah beredar. Aku masih menginginkan buku biografi utuh tentang Semaoen. Aku harus terus mencari dan menanti. Begitu.

Iklan