Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Perjalanan jauh dan liris. Aku bergerak dari Bilik Literasi (Colomadu) ke Blora: 2 Mei 2013. Niat perjalanan adalah menonton ritual asmara alias pernikahan. Temanku berkehendak jadi lelaki dengan menikahi perempuan di bukit (Bicak-Blora). Aku membawa buku, makanan, obat. Perjalanan ini aku anggap sebagai pelesir. Lagu-lagu jadi hiburan tak menjemukan. Aku membaca buku Sun Yat Sen: Bapak Republik Tiongkok (Djambatan, 1950) garapan Y.C. Wu di atas jalan buruk. Lagu-lagu Frau, Dewa, Naif, Payung Teduh… mengiringi perjalanan. Ah! Buku setebal 78 halaman lekas rampung. Aku merasa membaca roman lawas: mengena dan memukau. Aku mencoba membandingkan buku ini dengan ingatan film-film tentang Sun Yat Sen dan revolusi di Tiongkok.

Y.C. Wu menulis: “Riwajat Hidup Sun Yat Sen adalah sedjarah pembangunan Tiongkok Baru”. Aku menganggap klaim itu merangsang agenda revolusi di Indonesia. Penerbitan buku Sun Yat Sen: Bapak Republik Tiongkok berkaitan dengan memori pergerakan ide-politik di masa kolonialisme dan seruan revolusi oleh Soekarno. Sun Yat Sen sering dijadikan rujukan oleh Soekarno. Aku masih ingat kegandrungan Soekarno mengutip pemikiran-pemikiran Sun Yat Sen di risalah Indonesia Menggoegat (1930). Soekarno juga mengakui bahwa Pancasila juga bereferensi ke ajaran-ajaran Sun Yat Sen: San Min Chu I.

Buku Sun Yat Sen: Bapak Republik Tiongkok selama tahun 1950 mengalami cetak ulang tiga kali: April, November, Desember. Laris! Publik telah memiliki ingatan panjang atas ketokohan dan makna Sun Yat Sen di sejarah pergerakan nasionalisme Indonesia sejak awal abad XX. Aku cuma menduga buku ini dibaca kalangan revolusioner dan sarjana untuk mengerti situasi zaman dan implikasi revolusi di era Orde Lama.

Su Yat Sen 1

Sun Yat Sen adalah manusia bertabiat revolusioner. Tabiat itu muncul sejak Sun Yat Sen di sekolah rendah. Sun Yat Sen diajar untuk menghafal ribuan huruf tanpa mengerti arti. Sun Yat Sen juga harus melantunkan huruf-huruf itu di depan kelas. Kebosanan dan kejengkelan membuat Sun Yat Sen memprotes guru: “Guru, kami sudah banjak hafal akan kitab ini, tetapi tidak mengerti sepatah katapun. Sudilah guru menerangkannja kepada kami. Saja tidak mengerti apa gunanja mengapalkan tetek bengek ini.” Guru mengamuk! Guru memarahi Sun Yat Sen: “Hai, kaum pemberontak ketjil, kau berani membantah adjaran orang-orang alim? Dalam penghidupan, perbuatanmu itu paling kurang adjar!”

Sun Yat Sen memutuskan melanjutkan sekolah ke Amerika. 1977, Sun Yat Sen berusia 14 tahun ada di kapal milik Inggris bernama Grannoch. Sun Yat Sen bertujuan ke Honolulu: membantu pekerjaan kakak di negeri rantauan dan melanjutkan sekolah. Sun Yat Sen bersekolah bersama kaum kulit putih di St-Louis atau Iolani. Perbedaan warna kulit dan nasib tak membuat minder. Sun Yat Sen justru murid terpandai. Sun Yat Sen mendapat hadiah atas prestasi di sekolah. Hadiah itu berupa buku “sedjarah pengadjaran Indjil di Tiongkok” dan kitab Injil.

Sun Yat Sen semakin bertabiat revolusioner sejak menekuni Injil atau “pengabdi agama Masehi”. Y.C. Wu menulis: “Sedjak ia diseranikan, maka dipermaklumkannja perang kepada tachajul. Orang jang sembahjang didepan artja dewa-dewa diedjek.” Agenda revolusioner ini dilakukan saat kembali ke kampung halaman. Tindakan revolusioner dilakukan Sun Yat Sen di kelenting. Sun Yat Sen melompat di atas sendi arca Buck Tai. Sun Yat Sen berseru: “Apa gunanja memudja artja bisu ini? Kuatkah dia ini? Dapatkah dia melindungi manusia kalau tidak dapat melindungi diri?” Aku sejenak membuat adegan dramatis di imajinasi. Sun Yat Sen tentu bermuka emosional dan menantang. Adegan itu membuat kehebohan. Sun Yat Sen pun diusir dari kampung halaman.

Sun Yat Sen 2

Tabiat revolusioner mengejawantah di pendidikan dan agama sebelum berlipat ganda di jagat politik. Aku menikmati biografi revolusioner sambil melantunkan lagu wagu mengena kalbu dari Frau: “Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa….”. Aku merasa ada kemokalan tapi hidup memang rawan. Sun Yat Sen melantunkan revolusi. Aku melantunkan tembang asmara. Dua tokoh tak bertaut. Lho! Buku Sun Yat Sen tertutup sejenak. Debu jalanan membuat batuk semakin mengeras. Jalan rusak dan panas semakin menambahi lelah. Mobil macet. Orang-orang cemberut.

Perjalanan ini revoluioner. Jalan sepanjang puluhan kilometer adalah jalan rusak  mengundang luka dan kematian. Aku hampir berputus asa untuk melanjutkan perjalanan. Sopir menghiburku dengan lagu-lagu dangdut. Ah! Sun Yat Sen juga jadi “pembimbing” untuk mengatasi keluhan. Aku terpana saat membaca halaman-halaman tentang agenda-agenda revolusi di akhir abad XIX dan awal abad XX. Sun Yat Sen menjadi pemimpin tangguh bagi “kaum pemberontak”. Sun Yat Sen melancarkan serangan-serangan telak ke rezim Manchu. Hukuman dan kematian tak memberi gentar. Sun Yat Sen terus menjalankan revolusi meski harus mengalami “pelarian” ke pelbagai negeri.

Revolusi belumlah selesai. Sun Yat Sen tak pernah beranggapan revolusi memiliki titik. Perpecahan dan pengkhinatan di gerakan revolusioner tak menghancurkan tabiat Sun Yat Sen. Tiongkok mulai menapaki zaman baru meski memiliki seribu masalah. Sun Yat Sen menua tapi tak mundur dari revolusi. Lenin jadi sengatan untuk tetap menggerakkan revolusi. Sun Yat Sen mendapat ilham dari Lenin.

Sun Yat Sen tetap revolusioner sampai detik-detik kematian. Sun Yat Sen meninggal 12 Maret 1925 dengan pesan: “Selama empat puluh tahun saja mengabdi kepada kepentingan revolusi rakjat. Selama itu saja hanja mempunjai satu tudjuan: mengangkat Tiongkok sampai ketingkatan merdeka dan sederadjat dengan bangsa lain.” Doa terakhir dari Sun Yat Sen: “Ho… ho… ping, fan dao, chiu… chiu… chiu chung kuo.” Doa ini berarti perdamaian, perjuangan, selamatkan Tiongkok.” Aku terharu mengimajiasikan lelaki tua melafalkan doa berdalih revolusi. Revolusi memiliki doa. Begitu.

Iklan