Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Soetomo (30 Juli 1888-30 Mei 1938) adalah nama besar di arus sejarah Indonesia. Orang-orang sering mengingat Soetomo dengan Boedi Oetomo, Parindra, Panjebar Semangat. Soetomo membuat sejarah di awal abad XX. Embusan modernitas di Hindia Belanda merangsang agenda-agenda perubahan. Pendirian sekolah-sekolah telah turut mengubah mentalitas kaum pribumi. Soetomo turut mengalami detik-detik modernisasi dan janji-janji pencerahan mengubah negeri terjajah.

Kehendak jadi penggerak kemadjoean terus teramalkan sampai menjelang kematian. Soetomo berpesan: “Aku berpesan, hendaknja perusahaan ‘Indonesia’ jang menerbitkan surat kabar Suara Umum dan Panjebar Semangat dipelihara dengan sebaik-baiknja, sehingga tetap mendjadi perusahaan nasional jang sehat dan berkembang, karena itu adalah alat untuk memberi penerangan dan tuntutan bagi rakjat kita.” Pesan itu masih bisa dibuktikan: Panjebar Semangat masih terus terbit di abad XXI. Aku masih membaca Panjebar Semangat meski untuk koleksi-koleksi lawas.

Soetomo juga memberi pesan: “Rumahku jang terletak didesa Tjlaket beserta isinja hendaklah diwakafkan untuk partai sebagai rumah pasanggrahan… Sebagian besar dari harta peninggalanku hendaklah dipergunakan untuk satu fonds jang bunganja guna menolong anak-anak bangsa kita jang mempeladjari soal ekonomi dan lain-lainnja.” Soetomo adalah keteladanan berindonesia. Ikhtiar dalam politik, pendidikan, jurnalistik, kultural telah dijalankan sejak awal abad XX. Soetomo ingin berindonesia tanpa selesai.

soetomo

Pesan-pesan Soetomo itu membuatku melek etos berindonesia. Etos Soetomo tentu sulit “ditiru” oleh elite politik dan kaum terpelajar di abad XXI. Kesadaran berpartai politik, pengajaran publik, pendidikan bagi kaum miskin menjadi representasi gapaian berindonesia. Pesan-pesan Soetomo itu aku dapatkan di buku Dr Soetomo: Riwajat Hidup dan Perdjuangannja (Djambatan, 1951) susunan Imam Supardi. Aku menganggap buku ini mengandung pesona ketokohan dan amalan berindonesia meski tipis. Aku masih berpengharapan ada orang mau menulis biografi utuh Soetomo dengan ketebalan seribu halaman. Soetomo adalah tokoh bergelimang cerita.

Aku memang pernah membaca penjelasan tentang Soetomo dari Savitri Prastiti Scherer dan Ben Anderson. Mereka menampatkan Soetomo di latar kultural Jawa dan embusan nasionalisme di negeri terjajah. Soetomo dianggap ikon intelektualitas dan politik dengan berpendidikan khas Eropa tapi menganut kejawaan. Penjelasan dua sarjana itu menggunakan bahasa canggih dan struktur berpikir kompleks. Aku merasa mengerti meski tak utuh menikmati.

Buku susunan Imam Supardi justru menguak hal-hal kelaziman tapi berarti untuk jadi sumber pengisahan tokoh. Soetomo semula bernama Soebroto. Perubahan terjadi saat bersekolah. Nama Soebroto diganti Soetomo atas usulan Ardjopuro agar memudahkan proses pendaftaran di sekolah milik pemerintah kolonial. Penggunaan nama Soetomo untuk “mengibuli” pihak sekolah terus dipakai sampai tua. Episode perubahan nama ini tak sedramatis perubahan nama Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Douwes Dekker. Orang-orang mungkin mengenali Soetomo sebagai nama tanpa tahun sejarah perubahan nama di saat masih bocah.

Ulah Soetomo saat bersekolah di STVOIA diceritakan dengan lugas oleh Imam Supardi: “Pada waktu udjian ia biasa minta pertolongan dengan diam-diam dari kawan-kawannja; sebagai pembalasan budi ia meneraktir kawan-kawannja itu dengan limun, rokok atau sate kambing dari warung Bang Amat, jang terkenal sebagai rumah maknnja murid-murid sekolah dokter. Karena hidupnja jang rojal itu, sering ia terpaksa pindjam-pindjam uang kepada teman-temannja.” Ulah ini tentu jarang diceritakan ke publik. Lho! Ulah itu tak selalu berulang. Soetomo lekas insaf dan jadi tokoh terpelajar berdalih keilmuan dan nasionalisme. Soetomo menjadi ikon Boedi Oetomo saat berusia 19 tahun dan belum lulus STOVIA. Oh!

Aku paling tertarik dengan kisah asmara Soetomo. Pernikahan dilangsungkan oleh Soetomo saat berusia 30 tahun. Soetomo menikahi perempuan Belanda bernama E. Bruring. Ingatan perjumpaan Soetomo dan Bruring: “Waktu Soetomo bekerdja dirumah sakit Zending di Blora pada tahun 1917, pada suatu hari ia pergi ke stasion kereta-api untuk mendjemput zuster baru. Zuster itu ternjata seorang njonja Belanda jang berbadan kurus, bermuka putjat dan lemah lembut tutur katanja. Keadaan jang sedemikian itu menarik hati Soetomo; ingin sekali ia mengetahui apa jang mendjadi penderitaan njonja itu….” Kisah asmara Soetomo mengandung pengorbanan, ketegangan, air mata, kenangan tak terlupakan.

Soetomo “berduka” dalam asmara tapi bergairah mengobarkan nasionalisme di negeri terjajah. Peran-peran politik Soetomo “memuncak” dengan pendirian Parindra. Soetomo tak cuma berpolitik. Soetomo juga dikenal sebagai penulis: artikel dan buku. Aku memiliki warisan-warisan Soetomo: Poespa Rinontje dan Sesalan Kawin. Soetomo pantas diakui sebagai tokoh politik-intelektual merujuk dari pelaksanaan agenda-agenda di ranah keilmuan, politik, jurnalistik, kejawaan, pertanian, perburuhan…

Aku merasa biografi Soetomo pantas diceritakan sepanjang seribu halaman dan disajikan ke publik. Soetomo sering mengalami “kontradiksi diri” untuk mengartikan diri sebagai manusia bermartabat. Keinsafan menjadi penentu dari identitas-kerpibadian Soetomo menggerakkan Indonesia. Aku merasa ada kesengajaan Soetomo saat Kongres Perguruan di Solo, 8 Juni 1935, memberi pesan beraroma keinsafan: “Kami, sebagai saja djuga ini, mulai ketjil hingga keluar dari sekolah tinggi adalah mendapat pengadjaran karena ongkos jang dipungut dari keringat bangsa kita jang melarat dan hidup dalam kegelapan itu. Maka oleh karena itu, kaum terpeladjar menjediakan fikiran dan tenaga untuk keperluan kesedjahteraan rakjat.”

Aku bisa membuktikan keinsafan Soetomo itu ada di masa kolonialisme dan revolusi. Aku justru sangsi jika pesan itu masih bermakna untuk “kaum terpeladjar” di Indonesia abad XXI. Mereka mengartikan “kesejahteraan” jarang merujuk ke rakyat. Kesejahteraan adalah misi dalam mencari laba dari amalan keilmuan dan pekerjaan. Sinisme ini muncul tanpa pembuktian dengan tabel-data. Aku cuma sangsi saja. Sangsi ini bisa batal jika ada ajakan-pembuktian kaum terpelajar untuk berwakaf dan berindonesia. Begitu.

Iklan