Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku sering membaca majalah lawas. Lembaran-lembaran dari masa lalu bisa menggodaku untuk berlagak menguak “sejarah”. Aku tak bermaksud menjadi ahli sejarah. Godaan itu mengarah ke hasrat-penasaran tentang tokoh, peristiwa, ruang, waktu…. di masa lalu. Godaan itu terbit dari majalah Djawa Baroe.

Djawa Baroe 1

Aku membaca edisi Djawa Baroe nomor 23 (2603. 12. 1). Gambar sampul berjudul “tari meroentoehkan Amerika dan Inggris”. Ha! Judul ini memang mengandung propaganda Jepang. Djawa Baroe adalah majalah propaganda. Aku membaca Djawa Baroe dengan latar pengetahuan terbatas. Majalah ini pernah ada meski aku jarang mendapatkan keterangan tentang arti Djawa Baroe bagi kekuasaan Jepang di Indonesia. 

 

 

 

Gambar

Aku menemukan halaman sastra memuat cerita dari Usmar Ismail berjudul Tjitra. Usmar Ismail dianggap “tenaga baroe jang membawa pengharapan boeat kelak kemadjoean”. Aku juga melihat halaman bertajuk Pertoendjoekan Seni Roepa Meidjisetsoe. Halaman ini memuat 5 gambar. Ada keterangan di bagian bawah: “Pertoendjoekan Seni Roepa oentoek merajakan Meidjisetsoe jang sangat menarik perhatian, hingga mendapat lebih 300 kiriman loekisan itoe, telah berachir dengan oepatjara penjerahan hadiah pada tg. 20 Nopember dalam soesana ramai. Loekisan-loekisan dihalaman ini, ialah jang mendapat kehormatan istimewa diantara 66 boeah loekisan jang dipilih.” Aku memandangi 5 lukisan pemenang: hitam-putih. Aku menduga penerbit Djawa Baroe belum memiliki cat berwarna untuk mencetak halaman bergambar. Aku cuma memandang sebagai orang biasa saja.

Majalah ini memuat pelbagai rubrik. Ada rubrik kecil tentang pengakuan Toekoel Soerohadinoto saat mengunjungi Nippon. Toekoel Soerohadinoto adalah pemimpin surat kabar Soeara Asia. Pengakuan: “Bagoenan jang tinggi-tinggi, trem jang selaloe padat, orang-orang jang berdjalan simpang-sioer… kami sedang ditengah-tengah iboe kota Nippon! Segala-galanja mengejoetkan saja. Beberapa tahoen j.l. almarhoem Dr. Soetomo menoelis seboeah boekoe tentang kesan-kesan atas koendjoengannja ke Nippon. Djoega saja merasakan dengan sedalam-dalamnja apa jang tertoelis dalam boekoe itoe, ja’ni semangat Nippon pada tiap-tiap orang Nippon jang menjala-njala sebagai api. Saja rasakan benar, bahwa semangat mentjintai negeri itoelah jang mengembangkan tenaga maha raja dimasa peperangan.”

Aku pernah berpikiran dolan ke Jepang. Pengalaman Ajip Rosidi selama mengajar di Jepang membuatku ingin turut mengalami hidup di Jepang. Aku tentu bakal membuat pengakuan berbeda dari Toekoel Soerohadinoto. Pengakuanku direncanakan berbentuk esai-esai kecil berjumlah 100. Aku telah membekali diri dengan membaca buku-buku sastra Jepang dan buku-buku mengenai Jepang: politik, ekonomi, pedesaan, pertanian, perempuan….. Aku cuma harus bersabar untuk bisa dolan ke Jepang sebagai “tukang ngoceh” dan penulis. Amin!

Pemuatan gambar perempuan penari di sampul mendapat penjelasan di halaman 31. Simaklah: “Tari ini, jang djoega diterakan pada koelit nomor ini, ialah tari Soenda jang diselenggarakan oleh T. R. Soenarjo, Tjiamis-Kentjo, Priangan Sjoe melambangkan perang antara Kebenaran dengan Kelaliman. Tjerita ringkasnja ialah peperangan seroe antara Kebenaran dan Kelalilam.” Wah! Penjelasan terkesan mulia dan hebat. Keterangan masih berlanjut: “Tjerita ringkasnja ialah peperangan seroe antara poetri Matahari (Nippon) dengan poetri-poetri daripada 25 negeri djahat (Amerika/Inggeris). Achirnja pihak moesoeh bertekoek loetoet dan diseodahi dengan semoea bidadari diseloeroeh kajangan serempak menari memoedikan kebahagaiaan sedjati bagi oemat manoesia dan pembangoenan Asia Timoer Raja Baroe!” Jepang memang hebat. Tari bisa dijadikan propaganda demi pemuliaan diri. Ampuh!

Aku berharap ada orang mau mengerjakan skripsi atau disertasi tentang tari di masa pendudukan Jepang. Tari-tari memiliki kekuatan propaganda. Aku menganggap kajian ini penting. Kajian tentang sastra, sandiwara, film aku telah membaca sekian keterangan. Kajian tari dan seni rupa tentu bisa melengkapi hasrat-penasaran di masa lalu.

Sabun

Djawa Baroe memang menggoda jika aku berkeinginan menulis esai atau buku sejarah. Aku rikuh di hadapan para ahli sejarah. Aku cuma membaca dan mengimajinasikan saja tentang masa pendudukan Jepang melalui Djawa Baroe. Aku malah tertarik iklan di halaman belakang-dalam. Iklan sehalaman penuh. Keterangan di iklan: Saja soeka pakai saboen wangi Wahida Shoten, saboen ini bisa menambah ketjantikan.” Iklan ini membuatku mau menulis tentang sabun sebagai propaganda kecantikan. Lho! Jepang tak mungkin menjadikan sabun sebagai propaganda. Aku sulit menerima fakta: sabun menentukan “pembangoenan Asia Timoer Raja Baroe”.

Iklan-iklan di Djawa Baroe tak cuma sabun. Aku temukan iklan jamu, minuman anggur, tee, kaca mata… Majalah Djawa Baroe pantas dibaca ketimbang menjadi pembungkus di warung makanan. Begitu.

Iklan