Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Senin, 13 Mei 2013, aku mulai membangun rumah. Kebun kosong itu kelak bakal berubah menjadi rumah. Aku dulu pernah menulis esai panjang tentang rumah: disahkan sebagai pemenang II di Dewan Kesenian Jakarta (2007) dan mengantarku ke UWRF (2012). Aku belum berpikiran bersegera membangun rumah. Janji kecil di masa lalu: “Aku ingin membangun rumah dari kata-kata.” Janji itu mesti ditunaikan meski waktu bergerak cepat dan ongkos belum mencukupi. Aku seolah mau menjelmakan kata-kata dari esai sekian tahun silam. Oh! Rumah dari arsitektur kata.

Aku malah mengingat Y.B. Mangunwijaya (YBM): arsitek dan pengarang. Aku membaca buku Wastu Citra (Gramedia, 1988) sebagai renungan puitik dan filosofis. Buku ini pernah membuatku lega saat berpikiran rumah. Aku pernah mengutip sekian penjelasan YBM dalam esai-esai tentang rumah, kota, arsitektur, ruang, religiositas, teknologi… Buku Wastu Citra memiliki pikat berbeda dengan novel-novel atau kumpulan esai YBM. Buku ini memuat keterangan panjang: “Pengantar ke ilmu budaya bentuk arsitektur sendi-sendi filsafatnya beserta contoh-contoh praktis.” Aku berurusan dengan buku menakjubkan: ajakan bermenung tentang bahasa, alam, rumah, kota, gerak, candi, desa….

Wastu 1

YBM mengingatkan: “Ternyata bangunan punya citra sendiri-sendiri, dan mewartakan mental dan jiwa seperti apa yang dimiliki oleh pembuatnya.” Aku suka dengan penggunaan ungkapan “mewartakan”. Ungkapan ini mengandung pengertian reflektif ketimbang sekian sinonim di kamus. Rumah mewartakan mental dan jiwa. Aku pun berharapan rumahku bisa “mewartakan” meski tak lugas dan keras.

Pembahasan tentang “guna” dan “citra” menjadi referensi untuk membuatku tak resah saat membangun rumah dengan hutang berderet angka-angka dengan panjang 10 cm. Ingatan hutang bisa diredakan dengan kalimat-kalimat YBM. Aku justru ingin berpikiran sederhana ketimbang berulah seperti para koruptor: membelanjakan uang untuk membeli mobil dan rumah. Rumah dengan kata-kata. Kalimat ini mengandung doa-pengharapan meski berhutang.

Penjelasan panjang dari YBM: “Bangunan, biar benda mati tidak berarti tak ‘berjiwa’. Rumah yang kita bangun ialah rumah manusia. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang sebenarnya selalu dinapasi oleh kehidupan manusia, oleh watak dan kecenderungan-kecenderungan, oleh napsu dan cita-citanya. Rumah selalu citra sang manusia pembangunnya…. rumah membahasakan kita.” Alinea ini mengingatkaku dengan peristiwa-peristiwa rumah-rumah lama. Aku berharapan rumahku adalah rumah untuk publik. Rumah untuk obrolan-pengajian, belajar menulis-membaca, pentas teater…. Rumah berperistiwa meski jarang terdokumentasikan melalui potret-foto.

Ribuan buku siap berpindah. Sekian hari mencicil mengemasi buku dalam kardus. Buku-buku itu pernah ada di empat rumah. Aku selalu ingat adegan memindah-menata buku menimbulkan keringat, doa, nostalgia, air mata…. Rumah dan buku. Aku merasa rumah berpijak dari kata-kata. Aku jarang memiliki perabot untuk menghuni rumah. Buku, majalah, koran adalah “penghuni” rumah: selalu bertambah dan “meminta” ruang.

Aku berbekal kata-kata: menulis untuk “membangun” rumah. Aku juga masih berperan sebagai saudagar buku alias berjualan buku. Esai, resensi, puisi menjadi “fondasi” rumah. Aku belum berpikiran untuk bekerja jadi guru, dosen, PNS, buruh… Lho! Kalimat-kalimat ini mulai menjauh dari buku Wastu Citra.

YBM memiliki referensi-referensi dari India, Yunani, Jepang, Jawa, Bali… untuk menarasikan pelbagai hal. Aku mengerti arsitektur melalui pembahasaan YBM. Rujukan ke peradaban-peradaban masa lalu membuat sejarah arsitektur bergerak dengan “percampuran” atau “olahan”. YBM menjelaskan sejarah “kedatangan” kata arsitektur dan pengaruh Barat di Indonesia. Penjelasan ini menentukan kesadaran historis dan keberpihakan. YBM menulis: “… isi pengertian architectuur yang dibawa oleh kaum pedagang Belanda di masa abad ke-19 ke Indonesia… menjiplak daftar pergudangan masa lalu.” Selisik sejarah memberi bekal melihat tampilan rumah-rumah di Indonesia sering menganut ke “pergudangan masa lalu” dengan pengaruh Eropa.

Wastu 2

Aku pernah menginginkan hidup di rumah tak bertembok bata-semen. Rumah-rumah di desa adalah referensi adab-kultural: limas atau joglo. Aku sering melihat menggunakan mata-ketakjuban. Aku merasai harmoni-keselarasan saat ada dalam rumah-rumah lawas. Rumah-rumah ini sulit ditemukan di kota atau kampung. Orang-orang memilih membangun rumah tembok: gagah dan keras.

Aku termenung membaca anjuran YBM: “Arti, makna, kesejatian, citra, semua itu mencakup estetika, namun juga kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, yang bukan serba kebetulan atau kesemrawutan, melainkan suatu kosmos teratur lagi harmoni.” Anjuran ini mengingatkanku dengan obrolan-obrolan tentang sastra, adab, arsitektur, politik, kota bersama Paulus. Aku menganggap tokoh ini memberi kelegaan atas ikhtiarku mengerti arsitektur. Aku pernah dolan ke Rumah Rempah milik Paulus untuk obrolan melenakan. Paulus juga pernah dolan ke rumahku untuk berbagi cerita dan khotbah. Aku pun semakin tergoda mempelajari arsitektur. Puluhan buku telah aku baca dan ada di daftar koleksi. Ikhtiar mengerti arsitektur pernah aku “ujikan” saat menjadi moderator di seminar arsitektur dan membuat obrolan bersama Eko Budihardjo.

Buku Wastu Citra adalah bacaan mujarab. Aku menganggap buku ini sulit usang atau terlupakan. Aku ingin sering memeluk buku Wastu Citra dalam adegan berdoa saat mengurusi pembangunan rumahku. Begitu.

Iklan