Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku sering berpikiran ingin membuat kongres untuk para tokoh di (sejarah) Indonesia. Koleksi buku-buku Sutan Takdir Alisjahbana (STA) telah aku tamatkan sejak 1998. STA adalah tokoh besar dan menentukan alur peradaban di Indonesia. Aku mulai membuat esai-esai kecil bereferensi STA. Esaiku berjudul STA dan Bahasa Indonesia tampil di Tempo edisi 13-19 Mei 2013. Esaiku hadir saat Tempo mengeluarkan refleksi tragedi Mei dengan pengajuan Wiji Thukul sebagai biografi-tragedi. Aku jadir rikuh. Lho! Ambisi mengaji STA justru membuatku agak abai dengan pujangga Solo: Wiji Thukul. Aku masih lega saat melihat esaiku ada bersama narasi-narasi tentang Wiji Thukul.

Pawon merencanakan membuat acara untuk mengapresiasi Wiji Thukul di Taman Budaya Jawa Tengah, 28 Mei 2013. Aku mengajak teman-teman lekas membeli dan membaca Tempo edisi Teka-teki Wiji Thukul agar berbekal saat ikut obrolan. Nama Wiji Thukul membuatku sejenak memikirkan ketokohan dalam sejarah sastra-politik di Indonesia sejak awal abad XX. STA masuk daftar untuk diakui sebagi tokoh pengisah dan penggerak Indonesia.

5

Aku menjuluki STA adalah pendakwah bahasa Indonesia. Julukan ini aku berikan setelah membuat “pemetaan” peran dan ide STA dalam sekian buku mengenai bahasa Indonesia: Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Sedjarah Bahasa Indonesia (1956), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957). Aku paling tergoda dengan buku Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (Pustaka Rakjat, 1957). Buku setebal 224 halaman memuat 33 tulisan. STA rajin mengurusi bahasa Indonesia sejak masa 1930-an. Aku membaca buku Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia ibarat membaca perubahan cuaca bahasa di Indonesia.

STA pantas dijuluki pendakwah bahasa Indonesia. Peran STA untuk mendakwahkan bahasa Indonesia dijalankan dengan suguhan tulisan di majalah dan buku. STA juga mengelola majalah Poedjangga Baroe dan Pembinaan Bahasa Indonesia dengan hasrat mewartakan bahasa Indonesia ke segala penjuru: melintasi waktu demi waktu. STA bergairah memberi pidato dan sanggahan-sanggahan dalam  acara seminar dan kongres tentang bahasa Indonesia. Kerja berdakwah dijalani selama puluhan tahun. Aku mengakui meski negara belum sanggup memberi penghormatan untuk STA. Aku sangsi para pejabat-pejabat di institusi bahasa milik pemerintah memiliki kemafhuman atas peran dan serangkaian ide STA.

STA menulis: “Meskipun saja sadar sepenuhnja, bahwa banjak karangan-karangan jang dikumpulkan ini hanja bersipat sambil lalu, tetapi dalam keadaan serba kekurangan sekarang, pada pikiran saja karangan-karangan ini masih akan sanggup memberi dorongan untuk berani berpikir dan berusaha menudju penjempurnaan bahasa Indonesia.” Pengakuan jujur dan ambisius! STA masih berharapan bakal ada “pejempurnaan bahasa Indonesia”. STA bakal menangis jika mengetahui nasib bahasa Indonesia di abad XXI. Agenda “penjempurnaan” mendapati godaan-godaan tragis dari kebijakan negara dan situasi zaman. Oh!

Keprihatinan atas model pengajaran bahasa di sekolah telah terjadi sejak masa kolonial. STA (1933) mengingatkan: “Dan herankah kita, bahwa dalam kebanjakan sekolah waktu beladjar bahasa sendiri itu mendjadi waktu mengantuk, mendjadi waktu kuap berapi-api. Dan herankah kita, djika setamat sekolahnja djaranglah pemuda kita tertarik hatinja mendalamkan pengetahuan tentang bahasanja, bahkan membatja buku jang tertulis dalam bahasanja itu?”

6

Aku merasa tersindir jika mengingat saat kuliah. Aku kuliah di jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Perkuliahan bahasa membuatku lungkrah. Aku jarang bersemangat saat mengikuti kuliah fonologi, morfologi, sintaksis…. Urusan-urusan linguistik membuatku sulit mengumbar gairah belajar. Aku tetap mengikuti kuliah meski enggan mengerti. Simbok pernah memberi pesan agar aku jangan suka membolos. Aku pun menuruti dengan mengikuti kuliah-kuliah linguistik: mengantuk dan melelahkan. Nilai-nilaiku muncul dengan huruf-huruf B dan C. Aku pasrah saja. Oh! Aku memilih menekuni sastra saat kuliah.

Episode mengurusi bahasa justru terjadi usai merampungkan kuliah. Pembacaan atas buku-buku lawas membuatku “terharu” dan “malu”. Aku pun menulis janji untuk menekuni bahasa Indonesia sebagai tema besar. Janji tanpa saksi. Janji itu aku wujudkan dengan menulis esai-esai tentang bahasa Indonesia di koran dan majalah. Koleksi bacaan bertema bahasa Indonesia terus bertambah: 400-an buku dan 200-an majalah. Kerjaku tentu tak seheboh kerja STA sebagai pendakwah bahasa Indonesia.

STA dalam tulisan berjudul Bahasa Indonesia dengan Sekolah Tinggi Kesusasteraan (1940) menulis: “Segala pekerdjaan jang penting, jang mesti dilakukan dalam bahasa Indonesia sekarang ini, seperti menetapkan gramatika, kamus, kata-kata ilmu pengetahuan, technik dan sebagainja, hanja dapat dilangsungkan dengan memuaskan, apabila kita insaf seinsaf-insafnja akan sekalian proses jang sedang berlaku diseluruh masjarakat dan kebudajaan kita itu. Insaf akan proses itu artinja dalam soal bahasa: kita insaf akan tenaga-tenaga jang tersembunji dalam bahasa jang lama, kita mengerti akan apa jang terdjadi dengan bahasa sekarang ini dan kita dapat melihat dan merasakan apa jang akan terdjadi dimasa jang akan datang.”

Khotbah ini perlu disampaikan ke para mahasiswa dan dosen di Indonesia meski zaman telah berganti angka. Aku merasa kerja dakwah STA tak bakal sirna oleh arogansi kaum intelektual, elite politik, pejabat, artis saat menganggap bahasa Indonesia cuma tema “cadangan” dalam pusaran uang, popularitas, kekuasaan. Begitu.

Iklan