Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Lima hari membaca dan menekuni setumpuk majalah lawas dari masa 1940-an. Ada 56 majalah Kadjawen terbitan Bale Poestaka: beraksara Latin dan berbahasa Jawa. Tanganku bersentuhan dengan masa lalu. Mataku menatap sejarah dalam kata dan gambar. Hidungku menghirup bau-bau kesilaman. Tubuhku seolah bergerak ke waktu-waktu tak teralami. Kadjawen itu sihir tak terperi. Ah!

Majalah ini terbit saban “Slasa” dan “Djoemoewah”. Bacaan bagi publik Jawa. Beredar saat Indonesia belum merdeka. Penjajahan Belanda hampir usai. Majalah Kadjawen menjadi tanda dari sajian informasi dan resepsi pembaca atas situasi zaman. Aku menerka biografi para pembaca Kadjawen. Mereka bisa guru, elite politik, kalangan ningrat, saudagar, pegawai negeri. Adegan membaca Kadjawen di masa 1940-an tentu dramatik saat Indonesia masih mengimajinasikan kemerdekaan melalui gerakan politik, literasi, seni, bahasa….

1

Kadjawen, No. 17, 24 Februari 1942, membuatku perlahan mengimajinasikan hasrat literasi di Jawa. Gambar sampul representatif: wayang. Orang Jawa tak bosan mengurusi hidup bereferensi wayang. Majalah saja mesti bersampul gambar wayang. Pilihan gambar ini “pengesahan” bacaan untuk “ngangsu kawruh” bagi publik Jawa. Isi Kadjawen tak melulu bertema Jawa. Berita, cerita pendek, rubrik wanita… bisa bertema sembarang tapi berbahasa Jawa.

Aku ingin menampilkan kutipan dari rubrik “Djagading Wanita” berjudul Adjining Wanita garapan Sarie. Rubrik ini disajikan secara rutin. Aku berharap kelak bisa membuat esai panjang mengacu ke gagasan-gagasan dan tanggapan tentang tema-tema perempuan di Kadjawen. Simaklah: “Adjengipoen wanita ing djaman sapoenika sampoen boten kenging dipoen bedakaken kalijan kemadjenganing djaler, awit sampoen sami kalijan prija. Sapoenika meh boten wonten pandamelan ingkan boten saged dipoen tandangi ing golongan wanita.”

Kutipan ini membantah “keluhan” dan “sanggahan” publik atas diskriminasi atau “perendahan” hak-hak kaum perempuan di urusan pekerjaan dan emansipasi. Mereka di masa 1940-an diceritakan telah memiliki kesanggupan melakukan pekerjaan bermartabat. Peran perempuan bisa “setara” dengan lelaki dalam hak-bekerja. Aku malah menduga bahwa keterangan ini muncul berlatar imajinasi “kemadjoean” bagi perempuan di tanah terjajah. Modernisasi terpahami melalui peran wanita di perubahan zaman.

2

Rubrik paling menarik di Kadjawen adalah obrolan Gareng dan Petroek. Aku membaca berpamrih mengaerti resepsi zaman melalui obrolan berimajinasi publik awam. Gareng dan Petroek bercakap dengan tema “Tanah Djawa”. Mereka menganggap Jawa sudah terkenal di dunia. Jawa di masa 1940-an sering jadi berita dan cerita di pelbagai negeri. Gareng berbangga bahwa Jawa itu terkenal.

Petroek memberi tanggapan: “Besoek bar perang, – nek isih slamet lo, – oepomo akoe loengan menjang mantja pradja, mestine angger akoe moeni ‘koela niki tijang Djawi’ wis pada ngreti. Beda karo wingi-wingi, temboeng DJAWA oetawa JAVA ki isih akeh sing ora ngreti.” Djawa dan JAVA mengingatkanku dengan buku dan institusi. DJAWA itu membuatku sering mengingat judul buku Poerbatjaraka: Kepustakan Djawa. JAVA mengingatkanku dengan institusi di Solo: Institut Javanologi. Aku merasa nama ganjil dan berlagak untuk bisa terbaca oleh mata-nalar asing. Aku pernah berkhotbah ke teman-teman saat ada intitusi kultural menamakan diri dengan bahasa Inggris atau membuat seminar-seminar tentang Jawa dengan tema berbahasa Inggris: Memalukan!

Aku tergoda mengimajinasikan penjelasan Petroek mengenai kondisi Jawa di masa 1940-an: “Malah nek ditanding karo nagara lija-lijane sing ketradjang perang, kene ki isih rada mendingan, merga maoe-maoene wis ditata betjik. Orang ming barisan preman, dalasan tekan barisan weteng pisan wis ditata. Mangka ing bab bom-boman, tanah kene kleboe keri dewe, dadi bisa oleh koepija saka nagara-nagara sing ngalami dibomi sakatoge. Bandjoer bab kabatinan, wong kene dasare pitaja menjang kaadilaning Pangeran, dadi saora-orane pada doewe gegaman batin sing mitajani banget.” Gambaran ini memberikan imajinasi tak seburuk aku mengisahkan Jawa saat terluka dan menderita di zaman perang.

Nuansa Jawa semakin terasa di Kadjawen saat aku menikmati sajian iklan-iklan buku terbitan Bale Poestaka. Sampul belakang-dalam dan belakang-luar memuat iklan buku. Aku terangsang untuk mencari dan mengoleksi. Iklan di sampul belakang-dalam mengenai buku Serat Rama. Godaan pengiklan: “Ing mangsa perang poenika perloe sami ngentjengke tekad. Noelad lelampahan ingkang kaseboet ing Serat Rama. Serat Rama serat linangkoeng sajektos. Nggambaraken perangipoen adil paramarta tanding kalijan angkara moerka.” Buku ini ditawarkan dalam dua bentuk: tembang dan gancaran. Serat Rama dalam bentuk tembang disusun oleh R. Ng. Jasadipoera. Serat Rama berbentuk gancaran disusun oleh R. Ng. Kartapradja. Aku pernah membaca ulasan-ulasan Serat Rama tapi belum memiliki edisi terbitan Bale Poestaka.

3

Aku kaget saat melihat iklan di sampul belakang-luar. Ada tawaran buku berjudul Widoeri. Keterangan: “Anggitanipoen tilas directrice pamoelangan KARTINI toewin VAN DEVENTER ing Semarang, Njonjah F.A. WOLTERS-SCHIPPERS.” Aku berharap lekas mendapatkan buku setebal 180 halaman ini untuk membuatku bergairah menggarap esai panjang tentang wanita. Doa mesti dilafalkan agar mendapat buku. Begitu.

Iklan