Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku membeli buku puisi berjudul Doa untuk Anak Cucu (2013). Buku ini memuat puisi-puisi Rendra. Aku membaca dengan ingatan-ingatan atas pesona pujangga. Rendra adalah nama agung di perpuisian Indonesia. Pujangga itu tercatat di kalbu. Aku membaca puisi-puisi Rendra saat sering mendekam di perpustakaan SMA. Puisi-puisi itu terus mendekam dalam tubuhku: kata-kata mengelak dari fana.

Rendra

Aku merindu puisi-puisi Rendra di buku lawas: Potret Pembangunan dalam Puisi (1980). Buku ini pernah “dianggap” sebagai makalah untuk mengelabui sensor rezim Orde Baru. Puisi-puisi Rendra sering “mengejek” dan “menampar” pemerintah”. Rendra jadi incaran. Pemberian judul wagu dan “pengakuan” sebagai makalah membuat Potret Pembangunan dalam Puisi berhasil menghampiri pembaca: mengingatkan kebobrokan negara dan kemawasdirian di zaman amburadul.

Sajak Sebatang Lisong (1977) memuat bait “menjengkelkan” untuk ulah pujangga. Rendra menulis dengan ejekan dan seruan. Aku sering mengingat bait ini saat ingin menempatkan puisi di masa berserakan makna.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,

dan delapan juta juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bait lugas dan pedas. Aku ingin puisi itu terlafalkan lagi di Indonesia. Dunia pendidikan tak beres. Kesenian pun apes. Puisi itu bisa jadi ingatan dan peringatan. Rendra menulis Indonesia dengan pamrih memunculkan “matahari-kesadaran” dan “nafas-perubahan”. Puisi disajikan untuk menghindari lupa dan petaka.

Puisi-puisi Rendra di buku ini ibarat teriak di keheningan para pujangga saat abai Indonesia. Rendra bersuara keras: mengajak kata-kata bergerak di politik, ekonomi, pendidikan…. Rendra tak rikuh menulis puisi lugas. Puisi justru memanggil nurani untuk berpihak.

Rendra 2

Aku sulit menulis puisi seperti Rendra. Aku cuma bisa menulis larik picisan: “Aku ingin mengecup rambutmu dan menaruh sepenggal doa di tubuhmu.” Rendra pasti menganggap larik ini brengsek jika dibandingkan puisi-pamflet. Aku pernah terlena dengan Rendra akibat membaca puisi-puisi romantis di Empat Kumpulan Sajak. Aku selalu ingin menjadi tokoh-tokoh di puisi Rendra. Ingatan masa SMA itu telah beralih ke puisi-puisi lugas dan keras. Rendra berkata di ujung puisi Nota Bene: Aku Kangen (1978): “Tanpa sekajap pun luput dari kenangan padamu, aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.”

Aku berulang mengutip puisi-puisi Rendra dalam menggarap esai-esai tentang politik, kemiskinan, buruh, mahasiswa, korupsi…. Aku pernah termangu di bait terkahir puisi berjudul Orang-orang Miskin (1978).

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,

bagai udara panas yang selalu ada,

bagai gerimis yang selalu membayang.

Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau

tertuju ke dada kita

atau ke dada mereka sendiri.

O, kenangkanlah:

Orang-orang miskin

juga berasal dari kemah Ibrahim.

Aku kaget saat mengakhiri puisi. Konklusi Rendra beraroma religius. Urusan kemiskinan tak sekadar soial-politik. Kemiskinan adalah sejarah dan ejawantah religiositas: “Orang-orang miskin juga berasal dari kemah Ibrahim.” Aku menduga para ulama atau mubaligh sulit melafalkan kalimat ini jika sedang berkhotbah di televisi. Aku belum pernah mendapat kalimat ampuh saat menonton pengajian-pengajian di televisi. Aku memilih kalimat Rendra untuk mengerti kemiskinan.

A.Teeuw menulis: “… puisi-pamflet bukan merupakan program ideologi ataupun selebaran politis.” Aku mengangguk dengan pendapat A. Teeuw. Aku cuma agak sangsi dengan keterangan kritikus asal Belanda itu: “Rendra telah berpamit dengan kata-kata sastra yang indah, demi keindahan itu sendiri, seperti yang telah demikian lama mendominasi puisi Indonesia; dia tidak pernah mau tahu dengan realisme sosial seperti yang dianjurkan oleh LEKRA; dia pun tidak hanyut dalam berbagai eksperimen yang simbolis, imajis atau surealis seperti kebanyakan rekan-rekan mudanya sezaman di Indonesia. Dia tidak menulis untuk dibaca tetapi untuk didengar; dia tidak menghidangkan teka-teki tapi untuk dimengerti.” Aku merasa A. Teeuw terlalu mengetahui Rendra. Pendapat panjang itu terasa sepihak.

Rendra 1

Puisi-puisi Rendra memang mempesona. Aku tak bosan membaca. Keputusan untuk membeli buku Doa untuk Anak Cucu juga bermaksud mengerti Rendra. Aku merasa ada perbedaan nuansa saat membaca Potret Pembangunan dalam Puisi dan Doa untuk Anak Cucu. Puisi-puisi Rendra sering untuk telinga. Aku kangen puisi Rendra untuk mata-membaca: merenung dan takjub. Rendra berkeputusan tak berumah di kata-kata indah melenakan tanpa kehendak. Rendra memilih puisi-puisi keras dan lugas. Aku pun mengerti misi Rendra terus membacakan puisi-puisi demi menjaga nurani manusia agar jauh dari kelesuan, kekerdilan, keminderan.

Aku mengingat Rendra seperti lelaki tua di Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon (1977). Puisi ini impresif. Rendra di saat tua terus berpuisi. Pujangga itu enggan pensiun. Adegan menjelang kematian pun masih mengisahkan kehendak berpuisi.

Inilah sajakku,

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,

dengan kedua tangan kugending di belakang,

dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Rendra adalah pujangga tak terlupakan dalam hidupku. Aku pernah bertemu dan bercakap sekejap saat Rendra masih sering dolan ke Solo. Aku memang tak pernah bersalaman atau berfoto bareng. Aku mengenang dengan mata dan kata. Begitu.

Iklan