Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku pernah menerima pemberian aneh: majalah tak utuh. Majalah lawas tapi penting untuk mempelajari sejarah. Lelaki lugu itu memberikan dengan pesan: “Majalah ini untukmu saja.” Pesan hampir tak bermakna. Aku berterima kasih dan berdoa. Majalah jadi amanah. Aku mesti membaca dan merawat meski sudah tak utuh. Majalah itu berjudul Boedi-Oetama (Official orgaan dari Perhimpoenan Boedi-Oetama) edisi Jubilaeum dan Congresnummer 1908 – 1933, No. 4 dan 5, April dan Mei 1933, Tahoen X. Aku membaca menggunakan mata imajinasi-sejarah: mengangankan Boedi Oetomo di masa silam. Majalah adalah undangan sejarah.

Majalah ini turut jadi nafas esaiku berjudul Boedi Oetomo: Ingatan dan Peringatan di Koran Tempo (19 Mei 2013). Aku berpengharapan majalah ini menjadi bekal menulis Boedi Oetomo meski ada huruf-huruf hilang. Aku mendapat informasi majalah ini dari pengutipan Akira Nagazumi di buku Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908 – 1918 (1989). Informasi aku telusuri usai aku memiliki majalah Boedi-Oetama sekian tahun lalu. Aku masih mengimpikan mendapat warisan dari kesejarahan Boedi Oetomo berwujud buku Soembangsih: Gedenkboek Boedi-Oetomo (1918).

1Aku harus mencari huruf-huruf hilang untuk bisa membaca majalah Boedi-Oetama. Huruf-huruf itu tak semua bisa ditemukan dan “dipasang” secara imajiner. Aku tertarik membaca informasi di halaman 47: penerbitan majalah beralamat di Solo. Ada juga informasi harga langganan. Langganan untuk anggota selama setahun: f 1,20. Langganan untuk umum selama setahun: f 2,50. Penerbitan edisi 1933 memiliki makna khas. Boedi Oetomo memperingati diri telah berusia 25 tahun. Keterangan di halaman 55 bertajuk Boedi-Oetama 1908 – Mei – 1933: “Lahirnja B.O. berarti moelainja bergerak bangsa kita Indonesia seoemoemnja, dari itoe peringatan ini dapat djoega diartikan meng… pergerakannja bangsa Indonesia.” Sekian huruf hilang. Tiga titik itu mesti dicarikan kelengkapan huruf. Aku belum bisa mengawur.

Usia 25 tahun Boedi Oetomo menguak kesejarahan intelektualitas dan politik di Indonesia. Kaum terpelajar sengaja mendirikan Boedi Oetomo dalam terang modernitas. Terang itu perlahan redup oleh kebijakan-kebijakan moderat. Jejak keintelektualan telah diimbuhi oleh peran kalangan pejabat dan ningrat. Boedi Oetomo memang memberi terang tapi tak secerah matahari. Episode awal Boedi Oetomo mirip pancaran sinar bulan sabit. Boedi Oetomo berjalan lambat. Para tokoh pergerakan-radikal sempat berumah di Boedi Oetomo: sekejap. Mereka pun lekas keluar untuk memilih jalan kencang dan keras.

2Redaksi majalah Boedi-Oetama menjelaskan: “Kalau kami membatja riwajat B.O. moelai dari lahirnja sampai oesia 25 tahoen ini, maka kami mendapat pikiran-pikiran jang toemboehnja bertoeroet-toeroet dan djika dipikirkan dalam-dalam, semoea mengandoeng maksoed memoeljakan bangsa dan tanah air dengan djalan tiga roepa jalah dengan memperbaiki penghidoepan (economische bevordering), dengan pendidikan (door opvoeding en onderwijs) dan dengan politiek (door politieke actie).” Beodi Oetomo meski bergerak lamban tapi mengubah nasib negeri terjajah.

Majalah ini warisan sejarah. Aku cuma bisa mengimajinasikan pekerjaan kaum pergerakan di masa lalu adalah membuat acara rapat, pidato, kongres. Penerbitan buku dan majalah juga dijalankan berpamrih publikasi ide ke publik. Aku menganggap siasat literasi menentukan kadar intelektualitas dan efek ke imajinasi-politik. Pencarian warisan buku dan majalah terbitan Boedi Oetomo, Indische Partij, Sarekat Islam, PNI, Masjumi tentu bakal memerlukan dana besar dan keajaiban. Aku tak ragu berdoa agar Tuhan memberi petunjuk untuk aku menemukan majalah dan buku lawas tentang pergerakan politik atau partai politik. Warisan-warisan itu menguak sejarah Indonesia dalam sajian kata dan gambar.

Aku memberi hormat berlebihan untul politik-literasi di masa lalu ketimbang masa sekarang. Puluhan partai politik di Indonesia di abad XXI tak melek literasi. Mereka berpartai politik dengan misi kekuasaan. Agenda literasi dan ejawantah keintelektualan sulit ditampilkan. Mereka sudah bersombong jika bisa pamer foto dan slogan: bertebaran di spanduk, baliho, poster, iklan televisi. Memalukan! Mereka tak ada keinginan menghampiri publik melalui tulisan di koran atau majalah. Mereka juga tampak “bebal” dan “culun” untuk menulis risalah-risalah politik, sosial, pendidikan, adab dalam bentuk buku. Aduh! Para pemuja politik itu pasti tak memiliki mata-sejarah. Mereka enggan belajar dari arus pergerakan politik sejak awal abad XX. Boedi Oet0mo cuma dianggap sebagai referensi peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Pembacaan sejarah diselesaikan dengan upacara-peringatan atau pembuatan iklan dengan bualan klise: “Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional….” Sejarah seolah huruf hilang di mata elite politik Indonesia di abad XXI.

3Majalah Boedi-Oetama memuat laporan keuangan sebagai pertanggugjawaban politis. Halaman-halaman laporan keuangan menggenapi sajian laporan kesejarahan Boedi Oetomo. Laporan keuangan ini penting dengan pamrih menunaikan amanah publik. Pendanaan Boedi Oetomo diperoleh dari iuran dan sumbangan publik. Pelaporan menjadi kewajiban. Aku membaca laporan dengan imajinasi uang dan arus politik di masa 1930-an. Pergerakan politik atau partai politik bergerak dengan ongkos terbatas tapi sanggup “membentuk” Indonesia. Situasi itu berbeda dengan ulah partai politik di masa sekarang. Uang jadi momok. Korupsi pantas dilakukan demi pendanaan partai politik. Pemasangan elite partai politik sebagai menteri atau pejabat tinggi dianggap “memudahkan” pengumpulan ongkos politik. Oh! Mereka pun enggan melaporkan keuangan partai politik ke publik. Aku berharapan partai politik dan elite politik membaca majalah Boedi-Oetama agar insaf. Begitu.

Iklan