Tag

, ,

Bandung Mawardi

Aku hampir melupakan tanggal keramat dan tokoh kalem dari Jogjakarta. 20 Mei 1892: lahir seorang lelaki bersahaja bernama Ki Ageng Suryomentaram (KAS). Peristiwa lahir di kalangan ningrat tak membuat KAS bermanja dan arogan. KAS memilih jadi orang biasa: hidup di desa dan berlaku sebagai manusia tak beralas kaki. KAS sengaja mengenakan pakaian ganjil dan bertelanjang kaki dengan misi merasai hidup tanpa puja benda dan berjarak dari kesemestaan. KAS meninggalkan keraton. Lelaki itu memilih berbaur bersama tubuh-jiwa “kaum kromo”.

Aku telah menulis tentang KAS dalam esai-esai kecil. Aku juga sering mengisahkan KAS saat ada di angkringan bersama teman-teman atau obrolan di Bilik Literasi. KAS adalah tokoh dan tema. Ingatan tentang KAS tak tergantikan oleh politikus, artis, pujangga, atlit, filosof…. Oh! Aku sejak lama melakoni hidup dengan ingatan biografi dan wejangan KAS. Ingatan muncul lagi melalui kabar dari pembaca: esaiku Belajar Hidup Bersahaja tampil di Bali Pos (19 Mei 2013). Esai itu serpihan. Aku masih belum utuh mengerti KAS.

KAS 1Buku Mawas Diri (Yayasan Idayu, 1976) merupakan dokumentasi ceramah KAS di Surabaya (1954). Ceramah berbahasa Jawa itu diterjemahkan oleh Grangsang Suryomentaram untuk jadi bacaan publik. Buku tipis. KAS berkata: “Orang miskin merasa celaka lalu menggagas kebahagiaan orang kaya. Orang yang rendah derajatnya menggagas tinggi derajatnja. Orang yang tidak berkuasa menggagas berkuasa. Jelek menggagas baik. Curang menggagas jujur. Pemarah menggagas sabar. Pemalas menggagas rajin…. Jadi yang menggagas itu si merasa celaka.” Wejangan ini berkaitan dengan peran manusia sebagai “tukang menggagas”. Misi “menggagas” tidak mengarah ke anutan realisme diri.

Aku pernah membaca wejangan itu saat meratapi nasib. Wejangan KAS mirip “ejekan” untuk kaum peratap. Pembiasaan diri menjadi si celaka membuat hidup selalu tak berpihak. Hidup menjadi ratapan berkepanjangan tanpa mengalami realisme dengan keberserahan. KAS memberi wejangan berbeda dengan sintaksis ustadz-televisi, motivator, filosof Barat. Aku merasa kata-kata KAS menghampiri diriku mirip puisi-puisi di saat senja bermata ibu. Lho! KAS berkata bersama orang-orang dalam srawung populis. KAS tak pantas berpidato di televisi, hotel, gedung parlemen… KAS mendingan duduk bersila atau duduk nglaras. Kata-kata diniatkan untuk suguhan permenungan. KAS enggan berpropaganda seperti “kaum celaka” di dunia politik. Mereka rajin berpidato. Slogan-slogan klise disajikan ke publik dengan mengeluarkan ongkos besar. Mereka mengeluarkan uang dan kata demi pengesahan sebagai si celaka. Memalukan!

KAS melanjutkan wejangan: “Pada waktu orang akan meneliti rasa celakanya sendiri, orang akan bertemu dengan rasa benci terhadap rasa celakanya sendiri. Bila benci kepada rasa celakanya sendiri, orang akan menutupi rasa celakanya dengan mengidam-idamkan kebahagiaan. Bila usaha untuk menutupi tersebut diketahui, rasa benci akan lenyap sehingga tidak akan menutup lagi. Bila rasa benci sudah lenyap orang akan bertemu dengan rasa senang terhadap rasa celakanya sendiri, yang menutupi untuk dapat melihat rasa celakanya sendiri dan membela rasa senangnya itu….”

Aku berani taruhan sejuta rupiah bahwa presiden, ketua partai politik, menteri, gubernur, bupati tak bisa waskita dan bijak seperti KAS. Mereka tentu sulit mengeluarkan kata-kata permenungan untuk mawas diri. Aku selalu mengganggap mereka berkata demi legitimasi keluhan dan pamer “kesuksesan”. Aku cuma berperan sebagai “tukang menganggap”. Anggapanku bisa salah. Kata-kata para pejabat jarang mengarah ke mawas diri. Para jurnalis tentu menjadi pemberi informasi tentang kata-kata pejabat: “Kami mengajak rakyat…. Kami berharap agar masyarakat… Kami menghimbau….” Ah! Kata-kata bermuatan perintah meski si pengucap berwajah kalem dan bermata bening.

KAS 2Aku terlalu emosional. Kutipan dari wejangan KAS dilarikan ke urusan politik. Oh! Penggunaan kata “benci” dalam wejangan KAS itu harus dimengerti secara perlahan dan mendalam. Kata “benci” juga ada dalam lagu Geisha berjudul Cinta dan Benci. Aku sering melantunkan lirik lagu itu saat menulis: “Sungguh aku tak bisa, sampai kapan pun tak bisa, membenci dirimu, sesungguhnya aku tak mampu…. Lho! Aku malah mengingat lagu. Wejangan KAS memang sulit dipahami ketimbang mendendangkan lagu cinta picisan.

Wejangan-wejangan KAS di abad XXI seolah teka-teki dini hari. Aku menganggap bahwa ikhtiar mengerti dan mengamalkan wejangan KAS memerlukan “keweningan”. KAS itu bisikan di zaman keluhan. Aku pun termasuk si pengeluh. Ironis! Aku ingin mendapati wejangan KAS adalah penghiburan. Keinginan ini termuat di wejangan tetang kehormatan dan kekuasaan. KAS berkata: “Catatan harta benda sering salah. Harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan hidup yaitu makan, pakaian, dan tempat tinggal. Jika keliru, harta benda itu dipergunakan untuk mencari kehormatan dan kekuasaan. Padahal kehormatan dan kekuasaan itu kebutuhan jiwa. Apabila harta benda digunakan untuk mencukupi kebutuhan jiwa, orang merasa tidak cukup, walaupun orang mempunyai berapa banyaknya harta benda, sehingga orang akan berebutan harta benda.”

Aku berharapan mengutip wejangan-wejangan itu jika diminta jadi “pengkhotbah” di gedung parlemen, markas partai politik, istana negara…. Aku tentu memilih wejangan-wejangan KAS ketimbang menggunakan nasihat klise dari buku-buku motivasi. Keraguanku muncul tanpa jawab: “Apakah para elite politik pernah mengenal nama KAS?” Orang-orang di dunia politik itu tentu tak mengenal nama dan wejangan KAS. Mereka juga tak tahu bahwa Soekarno “berguru” dan mengamalkan wejangan-wejangan KAS saat membiografikan diri sebagai penguasa. Begitu.

Iklan