Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Lelaki merah. Sebutan ini sengaja aku berikan saat mengingat biografi Haji Misbach. Aku mengenal nama Haji Misbach dari buku Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997) garapan Takashi Shiraisi. Lelaki kelahiran Kauman (Solo) telah menimbulkan “ketakutan” dan “onar” di mata kolonial. Tokoh radikal ini mesti menanggung akibat: “dihajar” oleh arogansi kolonial.

Marco Kartodikromo (1924) mengingat sejarah pertemuan-perkenalan dengan Haji Misbach: “Waktoe kami mengeloearkan soerat kabar minggoean Doenia Bergerak di Solo (1914), jalah officieel orgaan dari Indlandsche Journalisten Bond, kami kenal dengen H.M. Misbach, kerna dia anggota dan lengganan persarekatan dan soerat kabar teseboet. Pada waktoe ito dia seorang Islam jang berniat menjiarken keislaman setjara djaman sekarang, membikin soerat kabar Islam; sekolahan Islam; berkoempoel-koempoel meremboek agama Islam dan hidoep bersama. Dalem tahoen 1915 H.M. Misbach menerbitken soerat kabar boelanan Medan Moeslimin, nomer satoe tahoen pertama soerat kabar itoe tertanggal 15 Januari 1915. Pada saat itoelah langka jang permoelaan H.M. Misbach masoek kedalem pergerakan dan memegangi bendera Islam.”

Keterangan ini membuatku penasaran. Aku belum pernah memegang dan membaca Doenia Bergerak. Aku masih belum menemukan “petunjuk” untuk bisa mendapatkan Doenia Bergerak. Informasi tentang Medan Moeslimin juga pernah membuatku bermimpi tentang tokoh-tokoh, peristiwa, kata-kata di “zaman bergerak”. Solo menjelma ruang politik, literasi, ideologi.

Misbach 1Mimpi terkabulkan di suatu masa. Aku menatap “majalah” lawas bertuliskan Medan-Moeslimin. Aku menemukan! Aku menemukan! “Majalah” ini terbungkus plastik lusuh. Aku lekas memegangi dan memejam mata agar merasai imajinasi sejarah di masa 1910-an. Tubuh gemetar. Diam dan haru. Sejarah ada di pelukan. Oh! Dramatisasi. Majalah itu aku beli tanpa ragu. Aku pulang bersama Medan-Moeslimin. Hore!

Aku mendapat Medan-Moeslimin No. 5, 15 Mei 1915, Tahun I. Tampilan sampul sederhana. Keterangan di bawah Medan-Moeslimin: “Soerat chabar boelanan Djawa dan Melajoe dikaloearkan oleh H.M. Misbach & M. Sastrositojo. Terbit saben tanggal 15 boelan Ollanda.” Medan-Moeslimin diterbitkan di Solo tapi beredar ke pelbagai kota. Informasi tentang kemonceran Medan-Moeslimin bisa dibaca di informasi redaksi: “Dalam M.M. No. 3 soeda kami chabarken, bahwa M.M. No. 1 aken kami tjitak lagi, seteroesnja kami kirimken kepada t. t. lengganan jang beloem trima. Sekarang kami chabarken poela bahwa M.M. No. 1 tjitakan jang II itoe soeda peragat penjitakan dan soeda kami kirimken djoega kepada t. t. lengganan jang beloem trima. Sekarang M.N. nomer pertama tadi soeda habis.”

Aku bisa mengimajinasikan bahwa publik memiliki ketertarikan untuk membaca Medan-Moeslimin. “Soerat chabar” berani cetak ulang? Kebijakan redaksi tentu demi faedah publik. Cetak ulang dan mengirimkan ke pelanggan. Tindakan ini sulit dijalankan oleh koran atau majalah di masa sekarang. Aku berharapan agar Poedjangga Baroe, Indonesia, Siasat, Zenith, Prisma, Horison, Kalam… cetak ulang lagi untuk nomor pertama. Aku pasti mau membeli dan mengoleksi.

Medan-Moeslimin memuat soal-soal agama, politik, pendidikan, ekonomi, bahasa… Aku tercengang saat membaca rubrik surat pembaca. Simaklah: “Dengen ini soerat saia moehoen tanjak pada toean oleh krana anak-anak Boemi Poetra sekarang banjak kang gemar maen voetbal dari itoe saia moehon tanjak keterangan pada toean redacteur apakah itoe permainan voetbal ada melanggar sarak igama Islam?” Redaksi memberi jawab: “Igama kita tiada sekali-kali melarang pada orang jang main voetbal. Terseboet sjarah minhadj seperti toehpah d. l. l. s. dalam bab ‘kitaboessabaq’ ada keterangan bahoewa main bal dengen toengkat atau lain-lain jang ada sama faedahnja dengan itoe, boleh sadja, asal tiada pake bertaroehan dan tiada mengachirken wektoe sembahjang. Ajooh! Saudara, djangan oendoer, boedilah kesehatan badan saudara,  djangan ambil memet akan santri jang bilang charam itoe. Adanja igama kita ditjela dan dihinaken oleh lain fihak ialah dari sebab perboeatannja santri sematjam itoe. Sedikit-sedikit bilang, charam, kafir, apa ertinja.”

IMG_0002Aku pernah menduga jika Medan-Moeslimin cuma memuat tulisan-tulisan ideologis dan keras. Dugaanku justru dihadapkan ke soal hukum bermain “bal”. Aduh! Masalah “bal” bisa jadi kontroversial. Misi Medan-Moeslimin memang beriringan dengan biografi Haji Misbcah selaku tokoh pergerakan dengan kredo berislam dan berkomunis. Julukan “Haji Merah” mengesankan ada anutan Islam-Komunisme dalam menjalankan gerakan agama, politik, sosial, pendidikan, kultural di Solo.

Mengenang Haji Misbach dan membaca Medan-Moeslimin mengikutkan ingatan tentang PKI (Partai Komunis Indonesia). 23 Mei 1920: PKI menghadirkan dan “meresmikan” diri sebagai penggerak Indonesia. Aku sering membaca peringatan kelahiran PKI di masa Orde Lama biasa diperingati secara heboh. Peringatan itu sudah selesai. Aku belum memiliki catatan-catatan penting mengenai peringatan kelahiran PKI di masa Orde Baru dan di masa sekarang. Ruth T. McVey (2009) memberi ingatan: “Pada, 23 Mei 1920, ISDV berubah menjadi Partai Komunis Indonesia-organisasi komunis pertama di wilayah Asia yang tidak berbatasan secara geografis dengan Kekaisaran Rusia.” Sejarah itu ada tapi publik sering melupakan. Begitu.

Iklan