Tag

, , , , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Buku berjudul Mustika Rasa (Departemen Pertanian, 1967) membuatku terpana selama 60 menit. Buku ini memuat resep-reseo masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Buku setebal 1124 halaman adalah warisan sejarah dari masa Orde Lama dan Orde Baru. Perintah Soekarno untuk menerbitkan “kookboek” atau buku masakan bisa diwujudkan setelah 7 tahun. Ide pembuatan buku digulirkan di masa Orde Lama dan disajikan sebagai buku tebal di masa Orde Baru. Dua penguasa boleh “berseteru” tapi urusan makanan membuat Soekarno dan Soeharto bisa “akur”.

Memo Aziz Saleh (12 Desember 1960) selaku menteri pertanian memuat informasi: “Sesuai suatu pembitjaraan saja dengan presiden, maka supajalah Lembaga Teknologi Makanan nanti diberi tugas untuk menjusun suatu ‘kookboek’ jang lengkap untuk seluruh Indonesia. Aku sejenak membuat gambaran atas adegan percakapan Soekarno dan Aziz Saleh. Mereka mengurusi masakan demi kepentingan negara. Wah! Soekarno tak cuma sibuk mengumbar slogan revolusi dan berpidato politik. Urusan makanan ada di nalar ideologis Soekarno. Makanan bisa menjelamakan “revolusi belum selesai.” Hebat!

6Keterangan dari Aziz Saleh: “Maksud pokok ialah supaja ‘kookboek’ itu merupakan penundjuk djalan bagi rakjat Indonesia didaerah manapun, bagaimana bahan-bahan makanan jang terdapat didaerahnja itu dapat diolah mendjadi makanan lezat jang berfaedah.” Aku menduga bahwa Soekarno adalah negarawan ampuh: memikirkan masakan demi “kelezatan” dan kemaslahatan bagi “rakjat”. Presiden mengurusi makanan. Aku mulai berpikiran nakal: “Soekarno menghendaki ada penerbitan buku masakan Indonesia tapi SBY justru berkeinginan kelak menjadi pengusaha atau penjual nasi goreng setelah selesai menunaikan dinas sebagai presiden.” Kalimat ini mesti ada lanjutan…. Siapa paling mengerti ideologi makanan? Siapa paling ahli memasak? Bagaimana menempatkan makanan dalam agenda revolusi dan reformasi? Aduh! Deretan kalimat bisa diteruskan menjadi artikel wagu untuk koran.

Impian Soekarno mendapat terang di tahun 1964. Kumpulan resep masakan sudah tersusun untuk terbit menjadi buku. Menteri Koordinator Pertanian dan Agraria Sadjarwo (17 Agustus 1964) menulis: “Keluarnja ‘Buku Masakan Indonesia’ ini sesuai dengan pesatnja kemadjuan tingkat kebudajaan bangsa kita. Hampir semua penduduk dapat membatja dan karenanja mereka haus akan pengertian dan petundjuk  jang dapat memberi manfaat bagi kehidupan sehari-hari.” Cerita di Indonesia masa 1960-an tak melulu partai politik, militer, demokrasi terpimpin….. Ada tema makanan di masa 1960-an!

Keterangan-keterangan dari para pejabat di era Orde Lama ditambahi oleh keterangan dari pejabat Orde Baru: Sutjipto selaku menteri pertanian. Penggunaa bahasa dan nalar politis terasa berbeda. Sutjipto menerangkan: “Bergunanja bagi rakjat, jang merupakan sasaran pokok dengan diterbitkannja buku masakan ini, akan mempunjai pengaruh dan pendorong jang kuat kepada Departemen Pertanian dan petani pada umumnja untuk lebih giat meningkatkan produksi pertanian, chususnja produksi pangan. Dengan demikian buku masakan tersebut, dapat pula memenuhi fungsi untuk menghubungkan petani produsen dengan konsumen.” Nalar pembangunanisme telah terasa.

Orde Lama dan Orde Baru bertemu dalam buku. Kerja besar atas nama negara melintasi malapetaka 1965. Perintah Soekarno terwujud dan Soeharto sanggup membuat ideologisasi makanan demi kemajuan Indonesia. Mereka telah berjasa. Mereka penguasa tenar tapi tak menampik makanan sebagai rujukan ideologis. Aku berharapan SBY memiliki dan membaca buku ini untuk semakin memberi pengetahuan dalam membuat kebijakan negara atau keputusan menjadi “juru masak” nasi goreng. Para asisten SBY semoga bisa mencari dan menemukan buku Mustika Rasa. Aku pun bakal bersedia menjual buku ini ke SBY jika “pasukan pencari” sudah berputus asa. Aku menjual dengan harga murah: 200 ribu.

7Harsono Hardjohutomo sebagai ketua panitia buku masakan Indonesia memberi penjelasan-penjelasan gamblang: “Menulis suatu buku masakan membawa banjak risiko. sebab disamping pembatja-pembatja jang memudji, akan terdapat banjak orang-orang jang mentjela. Untuk menormalisasikan imbangan antara pemudji dan pentjela, kita menempuh djalan jang exact, jaitu dengan penelitian-penelitian di laboratorium.” Pengakuan dan tantangan Harsono Hadjohutomo membuktikan bahwa buku Mustika Rasa adalah pertanggungjawaban besar demi negara. Ampuh!

Buku Mustika Rasa adalah warisan (sejarah) masakan di Indonesia. Negara perlu merawat dan menjadikan buku ini sebagai pijakan mengurusi masakan di Indonesia abad XXI. Aku berharapan buku Mustika Rasa tersedia di perpustakaan-perpustakaan besar di Indonesia. Pejabat, dosen, mahasiswa, tukang masak, pemburu makanan, pengusaha…. perlu membaca Mustika Rasa.

Harsono Hardjohutomo di aliena terkhir mengakui: “Meskipun telah terkumpul kurang lebih 1600 resep masakan, buku ini belum dapat dikatakan lengkap dan tiap kritik, tambahan atau perbaikan akan diterima dengan segala senang hati.” 1600 resep masakan! Indonesia mesti mendirikan Universitas Makanan Indonesia agar warisan 1600 resep itu bisa disajikan ke publik. Warisan itu bakal terus bertambah dengan kerja pelacakan resep-resep masakan di pelbagai pelosok kota dan desa. Begitu.

Iklan