Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Nostlagia dari masa SMA? Aku tidak memiliki nostalgia mengesankan dalam urusan amara atau “kenakalan”. Aku rajin masuk sekolah. Nilai-nilai pelajaran bisa dipertanggungjawabkan. Aku tidak membuat onar atau kehancuran harga diri. Aku juga tak mengikuti acara perpisahaan atau kelulusan. Peristiwa itu aku jalani di rumah saja. Aku tak ingat nama teman-teman di masa SMA. Aku juga tak memiliki potret bersama mereka. Nostalgia paling mengesankan adalah menemukan-membaca buku Dhammapada. Buku itu mengenalkan ajaran-ajaran Buddha. Aku merasa dihampiri puisi-puisi menggetarkan saat membaca Dhammapada. Mataku melihat dunia dengan terang. Batinku memiliki ketenangan meski jalan selalu ramai dan rumah tak bisa hening. Aku tentu berhak memberi jawab bahwa nostalgia dari masa SMA adalah menekuni Dhammapada. Oh!

Nostalgia itu semakin mengental jika ingat keharuanku membaca novel Siddharta garapan Herman Hesse. Novel itu aku baca sejak masa “menganggur” sampai sekarang. Aku sempat menonton film dari novel itu di televisi. Petikan-petikan novel sering aku ceritakan ke teman-teman. Dhammapada dan Siddharta turut membekali diriku dengan ajaran-ajaran Buddha. Aku selalu takjub saat menatap atau mengimajinasikan Buddha.

Buddha 1

Aku masih memiliki nostalgia kecil saat bersama teman-teman di Pawon mengadakan obrolan sastra di Kediri. Kami bergerak ke situs-situs lawas. Senja itu beraroma mistis dan sejarah. Aku menulis puisi di depan patung Buddha berbaring. Teman-teman justru sibuk berpotret. Puisiku berjudul Senja Buddha. Aku menulis cuma sebait.

rumput lelap

batu membisu

sejarah di langit

daun mengalun doa

mendera senja

mata terpejam

wajah sorga

berbaring hening

Aku tak memiliki potret diri di depan patung Buddha. Sesal tak ada. Aku merasa memiliki nostalgia itu dengan puisi: kata-kata. Puisi itu pernah aku bagikan ke teman-teman. Puisi itu mungkin telah mereka lupakan. Aku masih terus mengingat puisi wagu di saat senja bersama teman-teman di Kediri: perjalanan doa.

Aku mengenang Dhammapada, Siddharta, Senja Buddha usai membaca buku Sembahjang dan Meditatie Menoeroet Atoeran dan Katerangannja Buddha Gautama (Moestika, 1935) susunan Kwee Tek Hoay. Buku tipis berpenampilan sederhana. Aku sudah mengoleksi puluhan buku-buku lawas Kwee Tek Hoay: dari sastra sampai agama. Aku memilih buku ini untuk mengalami hari suci dan selebrasi spiritualitas.

Kwee Tek Hoay menulis: “Ini boekoe telah diterbitken dalem boelan September 1932 sebagai tambahan bagi siapa jang bli satoe stel Hikajat Buddha, dan djoega , sabagai bingkisan boeat bebrapa pembatja dari Moestika Dharma dan Romans jang soedah menoendjang dengen setia, bantoe tjariken abonne dan laen-laen sebagainja.” Buku kecil ini diniatkan sebagai bonus. Aku menganggap Kwee Tek Hoay memang penulis ampuh: memberi bonus bagi pembeli buku dengan bonus. Aku mulai prihatin jika mendapat informasi: membeli buku dapat bonus sepiring bakso atau sebungkus pulsa. Aduh!

Informasi tentang buku dilengkapi dengan deskripsi sebaran agama Buddha di Indonesia. Keterangan ini bisa jadi rujukan mengetahui posisi agama Buddha di masa kolonialisme. Kwee Tek Hoay menjelaskan: “Selama timboel pergerakan boeat menjiarken agama Buddha dalem doea taon paling blakang, ini boekoe ketjil… telah djadi penganter pada boekan sedikit pembatjanja aken datang ka dalem roeangan peladjaran jang lebih loeas…”

Buku ini mengalami cetak kedua. Kwee Tek Hoay di masa 1930-an adalah penulis terkenal. Penerbitan buku ini mungkin turut dipengaruhi nama besar pengarang. Publik lekas membeli dan membaca. Cetakan pertama habis. Buku kecil tapi memberi ajakan permenungan bagi pembaca. Aku menduga di masa 1930-an menempatkan pembaca sebagai manusia bermartabat di negeri degan puluhan juta pengidap buta-aksara.

Buddha 2

Kwee Tek Hoay menerangkan: “Salah satoe pamoeka kabatinan Tionghoa di Djawa Tengah malah telah bli 100 djilid aken disiarken pertjoemah bagi orang banjak. Maka haroes dibilang maski ini boekoe ketjil isinja sanget berwates, tersiarnja ada lebih loeas dari laen-laen boekoe kabatinan jang pernah kita terbitken, lantara mana sekarang perloe ditjitak poelah kadoe kalihnja.”

Buku ini memang mengajak diriku mengalami situasi spiritualitas dan selebrasi literasi di masa 1930-an. Aku malah tiba-tiba ingat kiriman pesan pendek dari Kris Budiman: “Mas, punya buku Kwee Tek Hoay (1937), agama Tionghoa jang berhoeboeng dengen hari-hari raja, pemoedjaan, oepatjara….” Judul buku kecil ini berbeda dengan informasi Kris Budiman. Aku cuma berharapan agar buku-buku lawas Kwee Tek Hoay lekas “memanggilku”.

Seruan Kwee Tek Hoay: “Ada banjak orang, teroetama bangsa Tionghoa, jang telah anggep bahoe dengen bikin sambahjang atawa menjoegoeh, baek pada Toapakong, Kramat atawa poen aboe leloehoer, dirinja nanti beroleh berkah keslametan. Itoe sembahjangan, penjoegoehan atawa sidekahan, didjadiken sematjem sogokan pada itoe machloek-machloek aloes atawa orang-orang seotji jang hendak dibikin senang hatinja sopeaja soeka menolong. Dalem hal ini orang sama sekalih loepaken pada poko dasar dari wet kebeneran, bahoea kaslametan tida nanti bisa didapet oleh orang jang berbatin boeroek dan djadi boedak dari hawa nafsoe dan kainginannja. Siapa jang alapa pebaeki dirinja, satoe waktoe moesti tjilaka, biar poen bagimana getol dan rojal ia menjoegoeh arawa sembahjang pada dewa-dewa atawa aboe leloehoer.”

Buku setebal 40 halaman ini mengundangku untuk merasai hikmah ajaran-ajaran Buddha di masa 1930-an. Buku ini juga memberi pikat dalam penggunaan bahasa. Kwee Tek Hoay menggunakan bahasa bagi awam. Bahasa dari masa lalu memang bergelimang pesona. Begitu.

Iklan