Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku mengenal Prisma sambil mengangankan menjadi “manusia-intelektuil” saat masih menjalani hidup berseragam: celana panjang abu-abu dan baju putih. Agenda mengoleksi dan membaca Prisma bersaing dengan Tempo dan Horison edisi lawas. Rezeki dari memburuh sebagai tukang seterika dan pengangkut dagangan di Pasar Kleco (Solo) sering aku belanjakan majalah-majalah lawas. Prisma menjadi incaran. Pertimbanganku: membeli majalah berarti aku bakal mendapat pelbagai jenis tulisan dan mengenali tokoh-tokoh. Pilihan majalah juga menggunakan nalar ekonomistik. Ongkos belanja majalah murah ketimbang aku harus membeli-mengoleksi buku-buku.

Prisma mengenalkanku pada manusia-manusia sakti: Daniel Dhakidae, Taufik Abdullah, Umar Kayam, Goenawan Mohamad, A.B. Lapian, Vedi R. Hadiz, Onghokham, Sartono Kartodirdjo, Abdurrahman Wahid, Mochtar Pabottingi, Soedjatmoko, Dawam Rahardjo, Masri Singarimbun, Abdurrachman Surjomihardjo…. Nama-nama itu menempati ruang besar di tubuhku ketimbang artis atau nama-nama perempuan. Ha! Mata lelaki SMA memang sulit untuk mencerna tulisan-tulisan di Prisma dalam waktu cepat. Aku sering berdoa agar kata-kata di lembaran-lembaran Prisma menjelma air bening: direguk dan membasuh tubuhku. Ikhtiar menjadikan Prisma sebagai “sangu urip” terus berjalan sampai sekarang. Prisma terbitan LP3ES edisi 1970-an dan 1980-an adalah memori intelektualitas di Indonesia. Aku juga turut mengenang sebagai “lelaki ingusan” berkehendak jadi “manusia intelektuil”. Impian arogan dari masa SMA tak berasmara. Lho!

Aku teringat Prisma edisi Kebudayaan Pop: Komersialisai Gayahidup (No. 6, Juni 1977, Tahun VI). Edisi ini memuat sekian esai-artikel ampuh: “Kebudayaan Massa” oleh Sudjoko; “Dari Dunia Superhero: Sebuah Laporan” oleh Goenawan Mohamad; “Musik Pop Indonesia: Satu Kebebalan Sang Mengapa” oleh Remy Sylado; “Novel-novel Populer Indonesia” oleh Jakob Sumardjo; “Srimulat: Kesenian Kota” oleh J.B. Kristanto; “Dari Dua Pola ke Wajah Indonesia” dari Salim Said; “Yang ‘Pop’ dan ‘Tinggi’ dalam Humor” oleh Arwah Setiawan….. Sekian tulisan pantas jadi rujukan membaca Indonesia di masa 1970-an. Penulis-penulis itu telah mengantarku ke “matahari pengertian”.

Prisma 1Remy Sylado suguhkan alinea-alinea sinistik: “Dan barangkali celakanya; pop sudah diterima sebagai suatu aib. orang tak suka lama-lama menyiapkan hati pada diskusi pop, lantaran khawatir kehilangan penghargaan umum terhadap kesungguhannya berfikir. Tak bisa dimaki-maki orang yang mau begitu. Pop pada awalnya memang telah hadir dengan mengundang seribu satu nyinyir di bibir. Ia musik yang terhujat dari keluarganya. Bukan semata Indonesia. Tapi juga dimulai di Amerika, dari mana perdagangan seni model begini ditemukan orang resepnya….” Aku merasa kalimat-kalimat ini pantas jadi renungan untuk selisik arus “pop” di Indonesia. Remy Sylado tampail sebagai pembaca-pengisah zaman.

Tulisan ini tentu sudah terlupakan oleh mahasiswa dan dosen di kampus-kampus “kebebalan”. Aku pernah bercakap dengan para mahasiswa tentang “pop”. Mereka cuma menggeleng kepala saat aku ajukan ulasan tentang Prisma dan para penulis di masa lalu. Apes! Dosen dan mahasiswa sekarang tak tahu Prisma meski mereka menekuni kajian-kajian mentereng di universitas. Mereka malah bersombong pamer buku-buku berbahasa Inggris keluaran Amerika Serikat dan Inggris. Keparat! Mereka berkhotbah dengan kutipan-kutipan teori.

Tuhan memang memberi terang bagi hidupku. Aku tak terkutuk sebagai mahasiswa S-2: parlente tapi bebal. Aku diselamatkan oleh Tuhan agar tak mendekam di kampus sebagai pembaca buku-buku berbahasa Inggris tapi jauh dari “realisme” Indonesia. Aku selalu sesumbar bahwa bacaanku cuma buku dan majalah lawas. Aku tak bakal minder untuk “bertarung” dengan intelektual-intelektual pembaca buku berbahasa Inggris, pecandu tulisan-tulisan mutakhir, pemuja buku elektronik, kolektor buku-buku perkuliahan…. Prisma turut memberi “ketabahan” dan kesanggupan demi pembelajaran lelaki berbahasa Indonesia dan Jawa. Oh! Emosionalitas picisan.

Tulisan Jakob Sumardjo mengandung sindiran-sindiran dalam kajian sastra di Indonesia. Aku memiliki koleksi puluhan buku Jakob Sumardjo meski kemasan buku wagu. Buku-buku awal diterbitkan oleh Nur Cahaya (Jogjakarta). Jakob Sumardjo tekun menggarap apresiasi-kajian novel populer di Indonesia. Ketekunan ini pantas mendapat penghormatan. Jakob Sumardjo menulis: “Sejarah novel populer Indonesia ternyata lebih tua daripada ‘novel kesusastraan’. Sebagai produk penduduk kota, novel ini berkembang bersama sejarah budaya kota-kota besar Indonesia…”

Keterangan Jakob Sumardjo menguatkan niatku dan teman-teman untuk mengadakan Rapat Umum Marga T. Teman-teman di Bilik Literasi memutuskan menjadi pembaca-apresiator novel-novel Marga T. Mereka bakal membuat tulisan panjang: dibukukan dan disajikan di Rapat Umum Marga T. Rencana acara wagu ini diselenggarakan di akhir September. Aku berharapan bisa memberitahu dan mengundang Jakob Sumardjo. Aku juga mau mengundang menteri, dosen, wartawan, sastrawan untuk mengikuti Rapat Umum Marga T.

Prisma 2

Jakob Sumardjo menerangkan: “Marga T. bersama Ashadi Siregar telah membuka babak baru dalam penulisan novel populer Indonesia, baik dalam bentuk maupun isi. Novel-novel populer bertemakan cinta asmara pada masa-masa sebelumnya terlalu dangkal isinya, pendek kisahnya, generalisasi dalam cara berfikirnya dan berkecenderungan pornografis dalam adegan-adegannya…. Sedang novel Marga, Ashadi, lebih punya cerita yang lengkap, utuh dan cukup panjang sebagai novel, digarap dalam bahasa yang baikdan pandangan yang lebih terpelajar. Hal ini tidak mengherankan karena mereka banyak berasal dari perguruan tinggi. Namun keterikatan mereka pada penggarapan masalah-masalah yang bersifat aktuil sangat menentukan karya mereka berciri pop.”

Pembaca Prisma edisi-edisi lawas tak bisa disepelekan jika mengurusi hal-hal “kelampauan” di Indonesia. Aku terus membaca Prisma meski orang-orang mulai melupakan dan menaruh di rak paling bawah. Begitu.

Iklan