Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Buku lawas sulit dicari. Orang-orang kadang mengenal-mengingat judul buku dari kutipan-kutipan. Mereka tak pernah melihat, memegang, membaca buku asli tapi bisa turut jadi juru komentar. Situasi sastra di Indonesia abad XXI memiliki ironi kesulitan dan kelangkaan mendapat buku lawas. Aku sering kaget saat bertemu-bercakap dengan dosen dan mahasiswa. Mereka ada di jurusan sastra Indonesia atau pendidikan bahasa-sastra Indonesia. Aku pernah memegang kepala selama 15 menit: mendengar jawaban bahwa mereka tak pernah melihat buku-buku Mochtar Lubis, Idrus, Roestam Effendi, Amir Hamzah, Sanoesi Pane, Selasih… Mereka mengenal nama-nama itu di buku perkuliahan. Nama  pengarang dan judul buku.

Bebasari 1Dosen-dosen kadang juga malas mengetahui-membaca buku asli. Beban mengajar sudah membuat lelah dan frustrasi. Mereka bisa mengajar berbekal buku “pengantar ilmu sastra”, “pengantar prosa”, “pengantar puisi”, “pengantar drama”. Buku-buku lawas tak pernah ditemui atau dikoleksi. Mereka semakin ganjil saat tak mengetahui buku-buku sastra baru. Keengganan dolan ke toko buku dan belanja buku baru membuat dosen sekadar menginformasikan situasi sastra mutakhir dari berita koran-majalah atau omongan orang. Aduh! Sastra di masa silam tak terurusi. Sastra di masa sekarang tak pernah mengetahui. Ironi! Semua itu berurusan dengan buku.

Ingatan-ingatan ironi itu bertambah mengental. Pawon Sastra mengadakan acara Cerdas Cermat Sastra di Balai Soedjatmoko Solo, 24 Mei 2013. Aku bertugas membuat soal-soal. Peserta sering kebingungan menjawab tentang nama pengarang dan judul buku. Panitia dan peserta justru mengakui kaget bahwa ada pengarang-pengarang di Indonesia bernama….. Mereka pun tersipu malu saat mengetahui informasi tentang buku-buku lawas di masa lalu turut menentukan nasib kesusastraan di Indonesia. Mereka tak bersentuhan atau melihat buku-buku sastra lawas. Ambisi mengimajinasikan tak semudah sangkaan.

Alinea-alinea itu mengantarkanku untuk membaca ulang buku Bebasari (Fasc0, 1953) garapan Roestam Effendi. Buku ini termasuk langka dan sulit dimengerti oleh manusia-manusia abad XXI. Roestam Effendi menginformasikan: “Bebasari diterbitkan pertama kalinja di tahun 1928, sewaktu keinsafan nasional kita baru mulai membakar djantung angan-angan dari pemuda-pemuda kita, jang disa’at itu sedang ditimang-tidurkan oleh paham-paham pendjadjah. Kelahiran Bebasari diwaktu itu tidak sadja menemui reaksi-reaksi dan suasana kolonialisme, jang menghalang-halangi penjebaran buku tersebut setjara leluasa dan biasa, mentjegah pembeberannja dikalangan pembatja umum, akan tetapi disamping rintangan-rintangan jang diderita dari aksi-aksi pendjadjah tadi, kelahiran Bebasari selaku baji dari penjairan baru menemui dunia kesusasteraan jang beku, hampir mati tertambat ditiang gantungan kolotisme…”

Aku cuma memiliki Bebasari cetakan kedua. Buku edisi 1928 tentu sulit dicari. A Teeuw saja dan para kritikus sastra sulit menemukan buku Bebasari edisi 1928. Aku tidak tahu jumlah cetakan buku itu di masa lalu. Siapa pembaca buku itu di masa 1920-an dan 1930-an. Aku tak sanggup menjawab. Buku itu tentu semakin mendapati pembaca sejumlah belasan saja di tahun 2013. Aku menduga bahwa dosen, mahasiswa, peneliti, sastrawan tak lagi membaca Bebasari dengan pelbagai dalih.

Bebasari 2

Aku pernah mendapat keterangan awal Bebasari dari buku Kesusasteraan Indonesia dalam Kritik dan Essay (1953) susunan H.B. Jassin. Esai pendek berjudul “Sedikit Sedjarah dan Rustam Effendi” pantas jadi rujukan mengenali Bebasari. H.B. Jassin menulis: “Drama bersadjak Bebasari oleh Rustam Effendi adalah penting sebagai hasil usaha mentjobakan bentuk baru dalam kesusasteraan Indonesia. Disini sjair mendapat bentuk baru, dipergunakan dalam pertjakapan-pertjakapan suatu tjerita berbentuk tonil. Dengan sekaligus disini dilakukan dua pertjobaan, jakni pertama sjair jang bersifat tjerita buat pertama kali dipakai untuk menjatakan pikiran dan perasaan sebagai pengutjapan tjita-tjita kebangsaan dan kedua bentuk sandiwara buat pertama kali dimasukkan pula dalam kesusasteraan Indonesia.” Keterangan ini bisa jadi bekal dosen untuk mengejar, mahasiswa untuk menulis makalah, sastrawan untuk berceloteh sastra di masa lalu.

Aku mengalami kesulitan saat membaca Bebasari. Roestam Effendi sejak mula memberi keterangan: “Tersembah kedalam perdupaan Bahasa Melaju.” Aku merasa ada kesilaman meski agak asing. Bait-bait permulaan di Bebasari.

O, Gelap, O, Djalahat,

o, Rabbi, penjusun riwajat

bukakan pintu beta piatu,

kehilangan bapa, ketipuan ibu.

O, Alam jang kelam,

tempat bermain tipu-tipuan,

berilah beta tjahaja sami,

terangkan dachil didalam hati.

Aku membaca dengan ketinggalan pelbagai pengertian. Aku mesti menengok kamus untuk menemukan arti meski tak semua. Membaca Bebasari mirip membaca puisi-puisi Amir Hamzah: bergelimang kata-kata lawas tak berkamus. Oh! Roestam Effendi di halaman “Keterangan Perkataan” mengartikan “Djalahat” adalah kebodohan. Roestam Effendi cuma mengartikan sekian kata. Ratusan kata terus membuatku merem-melek menanti keajaiban pengertian. Aku membaca dengan harapan merasakan pikat puitis tanpa harus mengerti utuh. Buku setebal 62 halaman ini turut menguatkan imanku menelusuri buku-buku sastra lawas.

Aku masih bisa merasai emosionalitas dan pijar-pijar romantis dari susunan kata Roestam Effendi. Bebasari tak cuma mengandung rangsangan imajinasi nasionalisme. Imajinasi asmara tak bisa dilewatkan. Tokoh bernama Bebasari melantunkan rindu dan sendu.

O kakanda, kekasih hatiku,

Sampai sungguh hati tuanku,

Membiarkan beta menahan radjam.

Tida’ tertahan bagi badanku,

O kakanda, kalbuku rindu,

Menangisi tilam setiap malam.

Buku ini sulit untuk mengalami cetak ulang di abad XXI. Bebasari edisi 1928 dan 1953 menjelma nostalgia tak tersentuh oleh dosen, mahasiwa, peneliti, guru, murid, sastrawan…. Aku merasa ada lega saat memiliki Bebasari sejak tahun 2000. Buku ini selalu mengingatkaku untuk terus mencari buku Pertjikan Permenoengan. Aku belum pernah melihat dan memeluk buku Pertjikan Permenoengan meski buku-buku lawas Roestam Effendi telah ada bersamaku selama sekian tahun. Begitu.

Iklan