Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

1 Juni 2013, dua esaiku tentang Pancasila dimuat di Jawa Pos dan Koran Tempo. Aku merasa sudah menulis puluhan esai berkaitan Pancasila. Puluhan koleksi buku-buku lawas bertema Pancasila juga masih sering aku masukan daftar bacaan “sensasional”. Aku sulit mengingat awal mula tertarik menulis Pancasila meski saat bersekolah dan berkuliah ada kebosanan-kejemuan. Pancasila di buku pelajaran mirip tema usang. Aku juga masih sulit mencari tafsir saat guru-guru di SD memberi perintah agar buku tulis diberi sampul: kertas berwarna coklat, bergambar Garuda Pancasila, terncantum lima sila. Memori itu terlambat aku gunakan sebagai acuan menilik diri sebagai “manusia Pancasila” bentukan rezim Orde Baru. Ah!

Masa itu berlalu. Ingatanku saat kuliah pun cuma berkaitan dengan nilai. Pancasila adalah mata kuliah dengan nilai-kelulusan. Nilaiku B. Buku perkuliahan enggan untuk disantap sebagai bacaan. Aku terlalu malas mengurusi buku Pancasila. Kemalasan semakin bertumpuk saat mengerjakan tugas makalah dan ujian. Pancasila mirip kebosanan pangkat tiga. Memori kuliah dan Pancasila hampir tak memberi ruang tafsiran-tafsiran menggairahkan. Lho!

San Min Chu I (1)

Aku mulai penasaran dengan Pancasila setelah membaca buku San Min Chu I: Tiga Asas-Pokok Rakjat  (Balai Pustaka, 1951) garapan Sun Yat Sen. Aku membaca buku ini tanpa menduga bakal ada hubungan erat dengan Soekarno dan Pancasila. Buku ampuh dari Cina memberi terang sejarah revolusi di negeri-negeri Asia. Aku memang mengagum Sun Yat Sen: bermula dari buku sampai film. Kenangan membeli buku San Min Chu I sekian tahun silam cuma berurusan tematik revolusi di Cina.

Buku itu justru mengakrabkan diriku dengan Pancasila. Pengakraban diperantarai oleh Soekarno melalui pidato bersejarah: 1 Juni 1945. Soekarno berulang mengucap nama Sun Yat Sen dan merujuk buku San Min Chu I. Aku termangu dan malu. Soekarno tak jemu menerangkan Pancasila bereferensi San Min Chu I dalam pidato-pidato tentang Pancasila. Aku terlambat dalam keinsafan sejarah dan ketokohan. Aduh!

Soekarno berkata: “Di dalam tahun 1912, Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi weltanschauung-nya telah ada dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The Three People’s Principles, San Min Chu I – Mintsu, Minchuan, Min Sheng, nasionalisme, demokrasi, sosialisme – telah digambarkan oleh doktor Sun Yat Sen weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas weltanschauung San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.” Aku ingin mengimajinasikan wajah dan gerak Soekarno saat mengucapkan kata-kata itu di depan para hadirin. Oh! Soekarno tentu tampil dengan pesona.

Petikan pidato itu mengantarku menikmati terjemahan San Min Chu I. Terjemahan dilakukan oleh Azinar Ibrahim. Buku setebal 386 halaman ini menjadi penentu “panggilan” ke Pancasila. Buku ampuh ini diawali dengan amanat Sun Yat Sen: “Selama 40 tahun saja mengabdi untuk kepentingan rakjat hanja bertudjuan satu, jaitu: mendirikan negara Tiongkok jang merdeka dan sederadjat dengan negara-negara lain didunia ini. Pengalaman saja selama 40 tahun mejakinkan saja, bahwa untuk mentjapai hasil tudjuan ini kita perlu membangunkan dan mempersatukan rakjat seperti negara-negara lain. Disamping itu kita harus berdjuang bersama-sama dengan bangsa-bangsa lain, jang memperlakukan kita atas dasar persamaan.” Amanat serius! Aku menganggap amanat Sun Yat Sen ibarat “mantra revolusi”. Amanat ini sulit ditiru oleh orang-orang politik di Indonesia abad XXI saat sering mengibuli publik dengan slogan: “mengabdi demi rakyat.”

Sun Yat Sen menulis tentang “kedaulatan rakjat” dengan nalar bening: “… pemerintah ialah suatu organisasi dari rakjat untuk rakjat jang memetjahkan segala kesukaran jang berhubungan dengan kepentingan rakjat. Kekuasaan untuk mengawasinja ialah kedaulatan politik dan dimana rakjat mengawasi pemerintah, disana berlaku ‘kedaulatan rakjat’.” Pesan Sun Yat Sen tentu bermakna besar di arus revolusi awal abad XX. Kalimat-kalimat ini hampir klise dan kehilangan pesona jika digunakan untuk “menghajar” kaum parlemen dan pemerintah di Indonesia. Mereka sudah tak mengerti “kedaulatan rakjat”. Mereka justru menganggap diri sebagai penentu kedaulatan melalui pemilu atau pembuatan kebijakan publik. Aku sering mengingat idiom “kedaulatan rakjat” ke sosok Mohammad Hatta. Aku menduga Mohamad Hatta juga pembaca San Min Chu I Soekarno, Mohamad Hatta, Bandung Mawardi adalah para pembaca San Min Chu I. Wah!

San Min Chu I (2)

Aku mendapat buku San Min Chu I terbitan 1951. Aku belum pernah mendapatkan terjemahan baru atas buku ini di penerbitan-penerbitan Indonesia. Apakah para penerjemah tak tertarik untuk menerjemahkan lagi? Apakah penerbit merasa tak perlu menerbitkan buku terjemahan San Min Chu I? Buku ini turut membentuk pandangan politik Soekarno dan para penggerak bangsa. Buku ini menjadi referensi Pancasila. Aku sungkan untuk memberi nasihat ke Taufiq Kiemas, SBY, Yudi Latif, Garin Nugroho, St Sularto agar jadi provokator untuk penerjemahan dan penerbitan San Min Chu I di Indonesia.

Aku menganggap San Min Chu I adalah penentu gairahku memerkarakan Pancasila. Adegan memegang dan membaca San Min Chu I ibarat merasakan getar-getar sejarah Indonesia meski jutaan orang telah melupakan. Aduh! Agenda merindui dan menafsirkan secara kontekstual atas Pancasila tak bakal utuh tanpa San Min Chu I. Aku jadi ingin mengabarkan buku ini ke Hanafi. Aku pernah dolan ke Studio Hanafi di Depok: bercakap tentang Soekarno, sejarah, seni rupa,… Hanafi telah berhasil membuat patung Soekarno di Ende. Aku ingin agar Hanafi turut membaca San Min Chu I.

Buku ini menggerakkan sejarah Indonesia! Sun Yat Sen pun berarti penting bagi Indonesia. L.T. Chen menulis: “Dr. Sun wafat dengan tak meninggalkan harta banjak. Ia hanja meninggalkan sebuah rumah jang dibelikan pengikut-pengikutnja diluar negeri sepuluh tahun jang lalu. Djuga sebuah taman batjaan, jang terkenal taman batjaan jang terbaik dalam ilmu-ilmu sosial dan politik.” Aku merasa Indonesia pantas berterima kasih pada Sun Yat Sen dengan membaca San Min Chu I. Buku ini mengubah nasib Indonesia sebagai negeri terjajah. Begitu.

Iklan