Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Penerbitan majalah memiliki sejarah. Majalah Penelitian Sedjarah pun memiliki sejarah. Majalah ini memuat tulisan-tulisan tentang sejarah dari para pakar. Pembaca bakal mendapat bacaan bermutu. Aku mendapat majalah ini dengan keterkejutan. Koleksi buku-buku sejarah mulai dilengkapi dengan majalah sejarah. Ikhtiar belajar sejarah semakin menggairahkan.

Sedjarah 1

Tampilan sampul sederhana dan tak bergambar. Keterangan di bawah judul Penelitian Sedjarah: “Madjalah ilmiah untuk penjelidikan dan penelitian sedjarah (foundation for historical research). Mendukung sepenuhja pelaksanaan USDEK dan Manifesto Politik. Majalah ini terbit 19 September 1960: No. 1 – Tahun ke I. penerbit adalah Jajasan Lembaga Ilmiah Indonesia Penjelidikan Sedjarah (Jakarta). Majalah dengan ukuran besar ini cuma memiliki 28 halaman: tipis. Oh! Majalah Penelitian Sedjarah diniatkan terbit 3 bulan sekali. Para pengelola: Iwa Kusuma Sumantri, Ahmad Subardjo, Elkana Tobing, Hoesein Djanjadiningrat, Purbatjaraka, Soekanto, Adam Malik.

Keterangan dari redaksi tentang misi penerbitan majalah: “…kami berkejakinan bahwa madjalah ini akan mendapat sambutan dan sokongan baik dari anggota-anggota pengurus maupun dari chalajak ramai, bahkan kami mempunjai djuga koresponden diluar negeri jang akan menjumbangkan karangannja.” Pengharapan itu memiliki alasan-alasan ilmiah. Mereka sejak lama menghendaki ada majalah untuk memuat tulisan-tulisan bermutu tentang sejarah. Aku turut prihatin membaca penjelasan redaksi: “Pada dewasa ini Indonesia belum mempunjai banjak ahli sedjarah jang dapat mengadakan penjelidikan sedjarah nasional setjara ilmiah. Demikian pula bahan-bahan sedjarah jang harus dikumpulkan masih bertjetjeran dimana-mana, antara lain jang diluar negeri.” Ikhtiar mereka mulia dan serius.

Penerbitan majalah ini juga mengikutkan keterangan ganjil beraroma selebratif. Iwa Kusuma Sumantri ingin menjadikan tanggal penerbitan majalah mengandung ingatan sejarah. 19 September mengingatkan dua peristiwa besar di Indonesia: (1) insiden bendera di Hotel Oranje (Surabaya) dan (2) “ratusan ribu rakjat dengan semangat panas datang dari segala pendjuru kampung-kampung dan desa-desa sekeliling Djakarta, memenuhi lapangan Gambir untuk mendengarkan wedjangan pemimpinnja, Bung Karno.” Aku merasa keterangan tak perlu disajikan agar tak ada tuduhan bahwa redaksi cuma “bermain” klaim.

Ada artikel berjudul Prapantja sebagai Penulis Sedjarah sajian Sutjipto Wirjosuparto. Artikel pendek tapi membuat penasaran. Aku mengutip konklusi Sutjipto Wirjosuparto: “… Prapantja dapat digolongkan seorang ahli sedjarah dan penulis sedjarah jang telah memenuhi sjarat-sjarat untuk diberi predikat seorang ahli sedjarah jang bekerdja sesuai dengan norma-norma kesardjanaan. Prapantja dapat digolongkan seorang ahli sedjarah Indonesia jang pertama….” Wah!

Sedjarah 2

Prapanca menggubah Negarakretagama: kitab sastra dan sejarah dari abad XIV. Aku sudah membaca dan mengoleksi terjemahan Negarakretagama oleh Slamet Muljana. Aku sudah memiliki imajinasi atas situasi masa silam dalam kata-kata susunan Prapanca. Aku juga sering membaca artikel-artikel dan buku-buku bahasan Negarakretagama. Kitab ini memang menguak masa silam secara imajinatif dan impresif.

Majalah Penelitian Sedjarah juga memuat artikel berjudul Hukum dan Pengadilan Djaman Dahulu di Djakarta oleh Soekanto. Aku tertarik dengan artikel ini disebabkan koleksi buku-buku hukum di rumahku ada ratusan. Aku memang membaca buku-buku hukum meski belum sering menggunakan dalam menulis esai-esai. Pembahasan Soekanto jadi rangsangan agar aku menekuni sejarah hukum di Indonesia. Aku cuma berhasrat belajar tanpa harus mengerti ala ahli sejarah. Agenda membaca buku-buku sejarah hukum sudah bisa memberiku asupan mengerti kesilaman.

Ada pengumuman dari redaksi berkaitan mekanisme mencari tulisan dan menghadirkan tulisan di majalah Penelitian Sedjarah. Seruan redaksi: “Kiriman tulisan-tulisan atau bahan-bahan bukti chusus jang mengenai sedjarah Indonesia, berdasarkan ilmiah atau kenjataan jang sungguh-sungguh, selalu diharapkan oleh jajasan…”

Majalah ini sejak mula mendukung Manifesto Politik dan USDEK. Redaksi sengaja menampilkan kutipan dari pidato Soekarno untuk mengesankan legitimasi politis. Kutipan dari pidato Soekarno: “Sedjarah adalah berguna sekali. Dari mempeladjari sedjarah orang bisa menemukan hukum-hukum jang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah: bahwa tidak ada bangsa bisa mendjadi besar dan makmur zonder kerdja. Terbukti dalam sedjarah segalazaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah djatuh gratis dari langit.”

Majalah ini memang bersejarah. Majalah memuat artikel-artikel sejarah telah menjadi “sejarah” dalam publikasi penelitian sejarah di Indonesia. Aku menduga cuma puluhan orang atau perpustakaan masih memiliki majalah Penelitian Sedjarah. Membaca ulang majalah ini mengingatkan tentang ikhtiar para ahli sejarah di masa 1960-an untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi publik. Majalah memang memiliki sejarah. Majalah ini tentang sejarah dan bersejarah. Begitu.

Iklan