Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Pujangga asal Aceh itu bernama A. Hasjmy. Lahir di Mukim Montari, Seulimeum, Aceh: 28 Maret 1914. Aku mengenal nama A. Hasjmy di majalah dan buku lawas. A. Hasjmy adalah pujangga kondang dan penulis buku-buku tentang agama, sastra, sejarah… Pamusuk Eneste (1990) memuat keterangan buku-buku A. Hasjmy: Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap Terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1938), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Dewan Sajak (1940), Suara Adzan dan Lonceng Gereja (1940), Dewi Fajar (1940), Di Bawah Naungan Pohon Kemuning (1940)…. Aku berharap ada orang mengoleksi semua buku A. Hasjmy. Buku-buku itu bisa mengisahkan sosok legendaris dan Aceh.

Dewa Sadjak 1Aku memiliki buku Dewan Sadjak (Boekhandel Islamijah dan Centrale Courant-Medan, 1940). Buku dengan gambar sampul menggoda: gunung, bukit, sawah, kerbau, petani, rumah, pohon… Pilihan warna hijau semakin membuat tatapan mata sejuk. Sajian sampul seolah mengajak pembaca “mengalami” suasana pedesaan bergelimang kata. Oh!

Pihak penerbit memberi penjelasan: “Sja’ir goebahan A. Hasjmy tiba gilirannja kami terbitkan. Siapa A. Hasjmy, bagi kebanjakan para pembatja tentoe tidak asing lagi dengan nama beliau itoe.” Wah! Penerbit menganggap bahawa A. Hasjmy adalah pengarang kondang! Anggapan ini mengakibatkan tak ada halaman memuat biografi A. Hasjmy di buku.

Pujangga asal Aceh itu sejak mula menghendaki Indonesia adalah “boenda” atau “iboe” mengacu ke nasionalisme, adab, imajinasi politik…. A. Hasjmy memberi kata sembahan berbentuk puisi.

KEPADA BOENDA INDONESIA

Samboetlah, Boenda, rangkoeman boenga,

Soentingan dari taman noerani,

Terimalah, Iboe, rangkaian kata,

Petikan dari piala hati.

Djika boleh dinamakan bakti,

Inilah, Boenda, dharma hamba,

Sembahan kelana jang tidak seperti,

Sebagai tanda mentjinta Boenda.

Walaupoen hina sembahan hamba,

Djanganlah Boenda berketjil hati,

Samboetlah, Iboe, dengan gembira,

Terimalah, Boenda, baktikoe ini.

Puisi persembahan ini diakhiri dengan pengakuan diri A. Hasjmy sebagai “poeteramoe jang merindoekan bahgia.” Puisi sederhana tapi membuktikan imajinasi keindonesiaan di masa 1940-an. Aku merasa ada ketulusan dan pengharapan atas peran puisi untuk menjelmakan Indonesia.

Dewan Sadjak 2

Buku setebal 70 halaman ini menguak memori bersuasana desa. Aku merasa membaca serialisasi puisi di buaian ibu. Puisi mengandung imajinasi-potret alam. Aku sudah lama tak menemukan aroma alam di puisi-puisi para pujangga mutakhir di Indonesia. Sekian pujangga memang menulis alam tapi berlumuran metafora-metafora “jauh” dan “wagu”. Aku menemukan intimitas diri dan alam melalui puisi-puisi A. Hasjmy. Potret sederhana tampi di puisi berjudul Sawah.

Melihat padi mengoening oerai,

Hati noerani menjeni seni,

Meloekiskan keindahan tanahkoe ini,

Bersawah loeas, berpadang permai.

Aku paling tertarik membaca puisi-puisi A. Hasjmy di bagian berjudul Karangan Boenga. Bagian ini memuat puisi-puisi persembahan untuk para pahlawan. Puisi-puisi untuk Diponegoro, Imam Bondjol, Teukoe Oemar, Ahmad Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto, Soetomo, Kartini, Agoes Salim, Ki Hadjar Dewantara, Rahmah El Joenoesjah… membuktikan kepekaan pujangga atas situasi kolonialisme dan peran para penggerak bangsa.

POHON BERINGIN

Kepada arwah K.H. Ahmad Dahlan

Disana, ditengah padang gembala,

Toemboeh sebatang pohon beringin,

Daoennja rimboen, menghidjoe moeda,

Dibawahnja njama, sedjoek-dingin.

….

Disana moesafir toempang bertedoeh,

Melepaskan lelah, mengoempoel tenaga,

Oentoek perdjalanan jang amat djaoeh:

Kenegeri hakiki, doesoen bahgia.

 Dewan Sadjak 3Aku merasa berkepentingan bisa membuat esai panjang tentang A. Hasjmy dan imajinasi Indonesia. Puisi-puisi bisa jadi bekal untuk merunut sejarah dan pengucapan keindonesiaan di masa silam. Referensi-referensi telah aku miliki meski tak lengkap. Ikhtiarku menulis tentang pujangga Aceh dan imajinasi keindonesiaan adalah menghampiri pembaca agar mengingat A. Hasjmy dan peran puisi dalam menjelmakan Indonesia. Aku mengira bahwa ratusan pujangga di Indonesia abad XXI tak mengenal A. Hasjmy. Mereka tak mengenal akibat…. Aku pun merasa sedih jika A. Hasjmy terlupa di buku-buku kesusastraan Indonesia. Aduh!

Aku semakin ingin lekas menulis esai panjang itu saat membaca Tempo (26 Januari 1991). Rubrik M.E.M.O.A.R menghadirkan sosok A. Hasjmy dengan judul Profesor Ali Hasjmy: Pengagum Soekarno, Murid Daud Beureueh. Pengakuan A. Hasjmy tentang pengaruh nenek dan kegandrungan bersastra: “Saya menyukai sastra sejak kecil. Mungkin ini karena nenek sering menuturkan hikayat-hikayat yang dihafalnya di luar kepala. Nenek hafal semua hikayat Perang Aceh. Berbagai hikayat Nabi, nenek tahu. Tiap-tiap menjelang magrib, nenek selalu membacakan. Kawan-kawan sebaya saya juga ikut mendengarkannya.” Memori ini membuatku kagum dan memberi hormat atas peran nenek selaku perangsang cerita bagi A. Hasjmy. Aku merindukan nenek-nenek adalah pendongeng atau tukang cerita bagi cucu-cucu agar mengerti agama, adab, etika, peradaban, ilmu, bahasa, politik, asmara. Begitu.

Iklan