Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

8 Juni 2013: ribuan orang berkumpul di Ndalem Kalitan (Solo) mengadakan tahlil, zikir, sholawat untuk memperingati hari kelahiran Soeharto. Acara ini heboh. Solo menjadi tempat pilihan berdalih penghormatan atas penguasa Orde Baru. Aku cuma bercuriga: ritus agama mulai bergelimang pamrih-pamrih politik. Acara di Solo mengesankan ada “pemihakan” dan ikhtiar pembersihan biografi politik Soeharto. Ritus agama menjadi siasat membujuk publik agar tak selalu menghujat Soeharto. Acara ini memuat pesan besar: Soeharto adalah manusia pilihan di Indonesia. Pujian dan penghormatan pantas diberikan untuk Soeharto meski menggunakan agenda ritus agama.

Aku memang terus mengingat Soeharto tapi merujuk ke pembacaan buku-buku dan tasfsiran-tafsiran sepele. Buku berjudul Silsilah Presiden Soeharto Anak Petani (Grip, 1974) susunan Suryo Hadi memuat penjelasan-penjelasan penting mengenai biografi Soeharto. Buku setebal 44 halaman mengandung pesan politis: Soeharto menjelaskan diri akibat ada gosip murahan di publik. Soeharto dituduh tak memiliki kejelasan biografi keluarga. Tuduhan ini mengundang polemik beraroma politis.

1

Suryo Hadi memberi keterangan bahwa isi buku merupakan penjelasan langsung di Soeharto. Keterangan tambahan diperoleh dari Probosutedjo: adik Soeharto. Buku ini mirip dokumentasi omongan Soeharto demi menangkis gosip. Penjelasan disampaikan oleh Soeharto di  Bina Graha, 28 Oktober 1974, 11.30 – 13.35 WIB. Dongengan itu disaksikan oleh Ali Said, Harmoko, Pak Besut, Roeder.

Soeharto berkata: “Sebagaimana saudara-saudara telah mengetahui bahwa pada akhir-akhir ini di dalam satu majalah yang terbit di ibukota ialah majalah POP, Tahun II, Nomor 17, tertulis satu artikel mengenai silsilah atau mengenai sorosilah – dalam bahasa Jawanya–, sorosilah mengenai diri saya.” Publikasi artikel itu membuat Soeharto “marah” dan “kecewa”. Silsilah tentu berkaitan denga legitimasi sebagai penguasa dengan sejarah kelahiran di Kemusuk, Bantul, Jogjakarta. Alasan atas pemberian penjelasan: “… karena kebetulan dewasa ini saya memperoleh kepercayaan rakyat Indonesia sebagai presiden mandataris, mau tidak mau saya harus segera menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan mengajukan suatu pembuktian yang benar-benar dapat sebagai bukti, kalau saya ini adalah anak yang lahir di Desa Kemusuk dan memang anaknya petani dari Desa Kemusuk.”

Pengakuan ini mengingatkanku pada buku garapan O.G. Roeder berjudul Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1990). Buku terjemahan ke bahasa Indonesia ini sengaja menggunakan judul fantastis: legitimasi kedirian Soeharto. Aku sering membaca buku ini untuk dibandingkan dengan buku Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat susunan Cindy Adams. Dua buku tentang dua penguasa itu turut menentukan persepsiku untuk menghormati atau “membenci”. Soekarno dan Soeharto selalu mengaku diri sebagai bocah desa: bertumbuh menjadi penguasa. Hebat! Aku juga bocah desa tapi tak ingin jadi presiden. Malu. Lho!

Silsilah Soeharto rumit. Pengisahan tentang ibu, bapak, nenek, kakek, saudara, pengasuh…. mengesankan ada “pembesaran” keluarga melalui perceraian bapak-ibu. Mereka menikah lagi pun memunculkan silsilah baru. Kepemilikan nama dan perubahan nama juga membuatku harus memikirkan perlahan. Orang Jawa memang memiliki kebiasaan mengubah nama dengan pelbagai alasan: sakit, menikah, perceraian… Soeharto tetap mengaku sebagai bocah desa.

Persoalan pemuatan artikel di majalah POP dan penjelasan Soeharto berkaitan situasi politik Indonesia. Soeharto sedang menggerakkan pembangunan. Artikel itu bisa menimbulkan goncang dan cemas. Soeharto berkata: “Kalau timbul pro dan kontra, dengan sendirinya masing-masing saling mempertahankan pendapatnya sendiri, bisa timbul perselisihan, kesempatan yang baik untuk subversi dalam melaksanakan gerpol-nya, dalam meningkatkan terganggunya stabilitas nasional, di mana stabilitas nasional sangat kita butuhkan dalam melaksanakan pembangunan.”

2

Aku paling tertarik jika Soeharto berkhotbah tentang pembangunan. Aku telah mengumpulkan koleksi buku tentang Soeharto. Pamrihku ingin menulis esai panjang berjudul Pembangunan: Soeharto dan Bahasa. Penjelasan-penjelasan Soeharto mengenai pembangunan sering prosaik. Idiom pembangunan jadi dominasi dalam diskursus dan pembahasaan ke publik. Pembangunan mirip doa absolut di masa Orde Baru. Oh! Soeharto adalah pendoa tulen: pembangunan, pembangunan, pembangunan, pembangunan…

Penjelasan Soeharto berlanjut ke represi. Wartawan dan majalah POP jadi sasaran. Artikel itu telah merusak biografi Soeharto dan mengganggu pembangunan. Soeharto pun mengumbar sejenis tuduhan. Seoharto berkata: “Sampai di mana tanggung jawabnya si wartawan maupun penanggung jawab daripada majalah ini dengan memikirkan keadaan yang lebih dalam, yang lebih jauh untuk tidak menyinggung perasaan orang lain, lebih-lebih menyinggung negara dan bangsa…”

Perintah pun disampaikan oleh Soeharto. Aku belum bisa memberi gambaran wajah dan tubuh Soeharto saat memberikan perintah. Soeharto berkata: “Kita harus mengambil tindakan yang lebih daripada yang lain-lainnya. Karena itu, saya sarankan kepada Jaksa Agung maupun juga Menteri Penerangan, agar di samping menindak kepada majalah tersebut, mengusut apa background-nya dari semuanya itu.” Soeharto terkenal sebagai penguasa dengan “perintah halus”. Kehadiran oposisi atau gangguan bagi Soeharto bisa diladeni melalui pelaksaanaan “perintah halus”. Mereka pasti kalah dan tersiksa. Aduh!

Aku berharapan buku ini bisa dibaca oleh kaum pemuja Soeharto. Acara di Ndalem Kalitan telah membuktikan ada ikhtiar menimbulkan kejutan masa lalu agar Soeharto selalu tampil sebagai penguasa bijak dan manusia ampuh bagi Indonesia. Begitu.

Iklan