Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku membaca buku berjudul Tandus (Balai Pustaka, 1958) karangan S. Rukiah tanpa memiliki bekal biografis. Aku membaca buku ini sejak SMA. Buku Tandus aku tempatkan bersama buku-buku dari para pengarang Indonesia. Aku tak menduga bahwa Rukiah pernah mendapati represi dan luka akibat malapetaka 1965. Rezim Orde Baru mencantumkan nama Rukiah dalam daftar orang kiri. Buku-buku Rukiah pun masuk di bagian “terlarang”. Aku mendapati informasi ini terlambat. Informasi itu juga tak utuh. Aku membaca sebagai penggalan-penggalan di buku dan majalah. Informasi penting justru aku peroleh dari tulisan Putu Oka S. melalui pengiriman file.

Rukiah 1

Aku tak cuma terharu. Airmata menetes untuk derita Rukiah sebagai pengarang, istri, ibu… Rukiah mengalami teror. Pelarian ke pelbagai kota tak memberi keselamatan. Aparat terus memburu. Rukiah menjelma “musuh” negara melalui arogansi Orde Baru. Rukiah enggan lelah meski tetap menanggung hukuman. Aku mengingat Rukiah bermula dari buku Tandus: kumpulan puisi dan cerita. Buku ini pernah mendapat penghargaan oleh BMKN di tahun 1952.

Rukiah dalam puisi berjudul Buku Kosong menulis tentang misi manusia berliterasi. Bait awal mengesankan ada kehendak menulis di buku kosong mengacu ke  peristiwa perpisahan. Buku diniatkan menjadi representasi “menulis” diri dan hidup.

Sewaktu kita mau berpisah

Kau berikan dulu buku kosong seribu lembar

Dengan mata jang meminta,

Sinarmu lunak berkata:

Masukkan semua isi hidupmu

Penuhi ini lembaran kertas seribu

Dengan tinta dan tulisan berbunga-bunga

Aku menganggap bait ini menjelaskan dalil berpuisi Rukiah: tak muluk dan terang. Puisi-puisi Rukiah memuat peristiwa-peristiwa biasa. Tabiat merumitkan pesan tak dimunculkan oleh Rukiah. Puisi adalah pengabaran. Aku membaca mirip menghadapi tukang cerita tanpa propaganda.

Puisi Rukiah mungkin jarang terbaca oleh pujangga-pujangga di abad XXI. Aku cuma menduga bahwa para pujangga perempuan mutakhir tak mengenal Rukiah. Mereka mungkin memang tidak tahu jika dalam sejarah perpuisian di Indonesia pernah ada perempuan bernama Rukiah. Aku pernah mengutip puisi-puisi Rukiah untuk sajian esai tapi belum ada pembaca mengajukan penasaran bagi pengarang perempuan di masa 1950-an. Aku memberi propaganda untuk cerpenis di Jakarta saat mengajak obrolan tentang kesejarahan pengarang perempuan dalam kesusastraan modern di Indonesia. Aku lekas ajukan nama Rukiah.

Rukiah 2

Puisi berjudul Dengan Satu Batjaan bisa mengajak pembaca mengetahui kelihaian Rukiah dalam “bercerita-berpesan”. Puisi ini tak mengesankan “intelektuil”. Rukiah tak sungkan berpesan hampir klise jika terbaca oleh mata filsafat.

Hari ini – kawan

djangan kita samakan lagi dengan hari jang sudah lepas

tapi djangan dulu kita sambungkan

dengan hari jang belum datang ditangan.

Hari ini kita hadapi satu buku sadja

dimana tertulis tentang hidup kebengisan

dan kepahitan perdjuangan

dimana thermin tentang tuntutan kemanusiaan petjah-petjah

dan ini pula jang mendjadikan dunia kita

berkerut ketjil kembali

terkurung dalam batas lingkaran buta!

Aku jarang menemukan tulisan-tulisan “apresiatif” untuk puisi dan cerpen Rukiah. Aku cuma mengingat ada tulisan HB Jassin. Rukiah memang jarang dibincangkan di kalangan sastrawan. Pesona Rukiah tak terwariskan di masa Orde Baru. Rukiah seolah bait pendek dari masa silam. Aku masih mengingat dan membaca meski belum memiliki pengertian-pengertian komplet tentang Rukiah.

Rukiah 3

Aku terpikat oleh cerita berjudul Antara Dua Gambaran. Rukiah menghadirkan tiga tokoh terjerat dilemat: Ati, Irwan, Tutang. Mereka berteman tapi memiliki kiblat berbeda mengenai ilmu, hidup, asmara, politik, revolusi, buku… Cerita garapan Rukiah terasa sederhana saat terbaca melalui sorotan manusia-manusia Indonesia berlatar revolusi: 1940-an. Tokoh perempuan bernama Ati memiliki gambaran berbeda tentang dua lelaki: Irwan sebagai lelaki revolusi dan Tutang sebagai lelaki intelektual.

Mula-mula aku haflakan gambaran Irwan. Sedjak proklamasi kemerdekaan, kelihatan ia seperti satu raksasa jang bernafsu kuat untuk menerkam dunia seluruhnja. Aku katakan padanja bahwa ia sudah terlalu gila politik negara, gila kebangsaan, dan gila pembelaan rakjat….

Sedjak proklamasi kemerdekaan, kelihatan muka Tutang berseri tidak putjat-putjat lagi. Mulanja ia akan terus menanti sekolahnja dibuka kembali…. Ia pergi ke Djkarta dan berkumpul dengan teman-temannja jang sama berminat kepada pendjundjungan ilmu pengetahuan tentang kebudajaan, politik dan lainnja jang sebagian besar mengenai pergantian lesu ke dinamik. Demikianlah tidak lama ia sudah mempunjai penerbitan surat kabar dan madjalah sendiri dan pertjetakan sendiri.

Ati berada di antara dua lelaki dengan perbedaan hasrat dan peran. Aku tak ingin berpihak ke Irwan atau Tutang. Aku bukan perempuan. Imajinasiku tentang Ati, Irwan, Tuntang digoda oleh dua lagu pop: Mendua dari Astrid dan Janji di Atas Ingkar dari Audi. Dua lagu ini tak memiliki hubungan dengan nasib Ati. Aku cuma mendengar dua lagu itu saat menulis di kamar berserakan buku. Dua lagu picisan saat seharian hujan. Oh! Hujan tidak aku temukan dalam cerita Rukiah. Cerita ini melulu membuat perbandingan antara dua lelaki. Aku tak berhasrat jadi Irwan atau Tutang. Lho!

Buku Tandus termasuk bacaan pilihanku demi mengetahui kebermaknaan pengarang perempuan dalam kesusastraan modern di Indonesia. Buku ini jarang aku dapati lagi saat belanja buku-buku bekas. Buku Tandus mesti ada di pelukanku untuk tak terlupakan. Begitu.

Iklan