Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku pernah menulis esai berjudul Drijarkara Mengolah Hikmah Jawa di Kompas edisi Jawa Tengah-Jogjakarta. Esai wagu itu aku tulis dengan ketulusan: penghormatanku dan kekagumanku untuk Drijarakara (1913-1967). Aku telah mengumpulkan dan membaca buku-buku Drijarkara sejak lulus SMA. Buku Pertjikan Filsafat (1963) memang sulit dipahami tapi bisa merangsangku dalam pengembaraan di jagat filsafat. Tulisan-tulisan Drijarkara aku baca dengan “kebodohan” dan “keingintahuan” meski tetap memunculkan kesulitan-kesulitan. Aku terus membaca!

Pesona justru muncul dari pembacaanku atas pandangan kejawaan Drijarkara. Tulisan-tulisan Drijarkara kadang menggunakan referensi sastra-sastra Jawa dan latar kejawaan. Aku mulai memuji diri berdalih bisa mengenali Drijarakra. Tulisan tentang Drijarakara dan Jawa aku ajukan ke koran. Pemuatan esai itu membuatku mendapat pujian dari sekian seniman di Solo. Mereka tak menduga bahwa Drijarkara berpijak di Jawa untuk mengurai pelbagai hal.

Aku mengenang kalimat-kalimat di esai wagu: “Pendidikan ala Barat tidak sanggup melunturkan penguasaan Drijarkara atas hikmah dalam ajaran-ajaran Jawa. Biografi kultural Jawa terus mengental dan dijadikan sumur renungan mengenai masalah-masalah filosofis.” Aku membaca dengan rasa malu. Oh! Kalimat-kalimat itu aneh. Kalimat-kalimat di ujung esai: “Drijarkara sadar identitas kultural dan tanda-tanda zaman dalam perubahan atas nama modernisasi atau globalisasi. Acuan atas hikmah Jawa seperti menjadi pengembalian diri atas penghayatan hidup dalam refleksi (pemikiran) dan perilaku. Kesadaran ini membuat Drijarkara merupakan sosok teladan dalam mengafirmasi hikmah Jawa secara konstruktif dan produktif.”

Drijarkara 1

Aku ingin membuat selebrasi kecil untuk 100 tahun Drijarkara (13 Juni 1913-13 Juni 2013). Wajah Drijarkara kalem dan cakep. Pemikiran-pemikiran memendar ke segala arah: mengajak orang merenung dan bertindak. Aku dengan bangga mendaftarkan diri sebagai pembaca setia tulisan-tulisan Drijarkara. Buku-buku Drijarkara ada bersamaku selama puluhan tahun. Aku merasa ada kata-kata Drijarakara di tubuhku dan waktuku. Oh!

Ingatanku mengarah ke buku peringatan ulang tahun Universitas Sanata Dharma (Jogjakarta). Aku pernah melihat foto Drijarkara membaca puisi. Halaman itu tak memuat penjelasan tentang judul puisi. Salinan puisi juga tak ada. Aku penasaran! Drijarkara termasuk pemikir tekun dalam urusan seni. Aku ingin mendapat informasi mengenai biografi Drijakara dan puisi. Keinginan ini masih menanti jawab.

Aku ingin mengenang 100 tahun Drijarkara melalui buku Kumpulan Karangan. Buku ini berisi tulisan-tulisan Drijarakra di majalah Basis (Jogjakarta). Drijarkara menulis pelbagai tema: pendek dan mendalam. Aku tergoda untuk meniru meski sulit. Aku tak memiliki latar pendidikan filsafat dan sulit membaca buku-buku berbahasa asing. Drijarkara memang penulis ampuh!

Pengasuh majalah Basis memberi keterangan: “Teks karangan-karangan ini kami terbitakan tanpa perubahan-perubahan apapun djuga, pun pula dalam edjaannja. Maka dari itu tidak mengherankan, bahwa disana-sini nampak dengan djelas pengaruh suasana atau keadaan politis jang pada saat tertentu itu meliputi seluruh masjarakat Indonesia… Semoga kumpulan karangan ini memenuhi harapan semua peminat jang pernah merasa tertarik oleh tulisan-tulisan almarhum Prof. Drijarkara.”

Aku tertarik artikel berjudul Susila dan Kesusilaan. Tulisan ini menampilkan kesanggupan Drijarkara mengolah hikmah Jawa bagi ikhtiar berindonesia. Tema susila dan kesusilaan muncul sejak masa Orde Baru berlatar politik dan pamrih adab. Drijarkara turut mengurusi dengan tulisan. Drijarkara mengutip bait-bait dalam Wulang Reh.

Nora gampang wong urip,

jen tan weruh in uripe,

uripe pada lan kebo,

angur kebo danginira,

kalal, jen pinangana,

pan manungsa dagingipun,

jen piangan pasti karam

Tiadalah mudah kita menempuh hidup,

bila tiada menahu akan hakikat hajat,

samalah hidupnja dengan kerbau,

bahkan kerbau lebih berharga dagingnja,

halal bila dimakan,

sedang daging manusia,

kalau dimakan pasti haram

Kutipan ini sengaja dihadirkan oleh Drijarkara agar pembaca tak melulu mengurusi susila dan kesusilaan dengan acuan peristiwa-peristiwa mutakhir atau referensi Barat. Aku jadi teringat bahwa sastra Jawa di masa silam adalah sastra piwulang: sastra bergelimang ajaran susila-kesusilaan. Aku menduga Dirjarkara memiliki kemampuan sastrawi merujuk ke etos kapujanggan Jawa. Drijarkara memang rajin belajar tentang kepustakaan Jawa.

Drijarkara 2

Ingatan ini mesti ditambahi dengan rasa penasaran: relasi Drijarkara dan puisi. Aku menemukan tulisan Drijakarta mengutip puisi Sitor Situmorang. Pengutipan ini membuktikan bahwa Drijakara tentu menekuni bacaan sastra. Aku berharap Drijarkara juga menulis puisi. Siapa menemukan-mengumpulkan puisi-puisi Drijakara? Drijarkara mengutip bait terkenal dari Sito Situmorang.

Si anak-hilang kini kembali

Tak seorangpun dikenalnja lagi

Dipantai pasir berdesir gelombang

Tahu si anak tiada pulang

Penafsiran Drijarkara: “Lukisan ini tidak hanja menggambar Sitor sendiri, melainkan seluruh generasi muda Indonesia. Konsepsi tentang hidup perseorangan, tentang keluarga, tentang masjarakat, tentang tjara-tjara hidup dan bergaul sehari-hari sudah berubah. Akan tetapi perubahan dalam realita tidak setjepat itu!” Aku terus menghormati dan mengenang Drijakara meski belum mendata informasi utuh tentang biografi Drijakara. Aku sudah membaca buku berjudul Drijarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia (2006) garapan Mudji Sutrisno. Buku ini harus segera dilengkapi agar terbit buku biografi utuh dan impresif. Begitu.

Iklan