Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

15 Juni 2013: aku, Fauzi Sukri, Budiawan DS menempuh perjalanan ke Sumenep (Madura). Aku ingin memenuhi janji dan “kewajiban” untuk belajar bareng para santri di Sumenep. Misi Literasi membuatku bergairah mengimajinasikan Madura. Aku belum  pernah ke Madura. Pengenalan Madura cuma dari buku dan majalah. Puisi-puisi Zawawi Imron menjadi suluh imajinasi Madura. Aku talah membaca puisi-puisi Zawawi Imron sejak SMA. Pertemuan dan percakapan bersama Zawawi Imron terjadi saat di Makassar (2012). Aku berpidato tentang sastra dan negara di hadapan para pengarang. Pidato selesai tanpa keringat. Aku melihat Zawawi Imron bertepuk tangan. Pujangga itu mendatangiku: bersalaman dan bercakap. Pertemuan itu semakin menguatkan keinginanku bisa bergerak ke Madura.

Adegan melintasi jembatan Suramadu mengandung lelah dan sedih. Senja tampak puitis di atas jembatan. Aku memandang di jendela: air dan langit. Aku merasakan kesan itu sekejap. Pesan dari rumah datang dengan kata-kata sedih: “Kakek meninggal…” Kakek meninggal pukul empat sore. Aku cuma termangu: diam dan mengingat. Kakek di Jagalan (Solo) pernah aku jadikan sebagai tokoh cerita saat aku berkhotbah tentang Wiji Thukul di TBJT (Solo). Kakek dan Wiji Thukul hidup sekampung. Aku juga mengingat adegan setiap aku ada di rumah kakek: wajah ketabahan dan tubuh sejarah.

Bulan

Perjalanan menuju Sumenep. Aku terus bergerak memenuhi misi literasi. Perjumpaan dan belajar bersama para santri lugu membuatku terkejut. Mereka bergairah dan berikhlas mengubah nasib dengan kata-kata. Agenda 3 Hari Berhuruf dijalani dengan ketakjuban dan tanda seru. Aku memiliki pengharapan mereka menjadi penulis tentang diri, desa, pondok pesantren, jalan, sawah, pohon, keluarga, rumah… Mereka perlahan memiliki kebanggaan sebagai penulis. Tulisan-tulisan itu bakal jadi buku dokumentasi bersama. Tiga hari untuk membaca, menulis, bercakap. Aku malah tak bergerak ke rumah Zawawi Imron meski dekat.

Aku pulang tanpa perjumpaan-percakapan bersama Zawawi Imron. Aku merasa tak pantas menanggung sesalan. Aku memiliki buku-buku Zawawi Imron di rumah. Perjumpaan dengan buku-buku masih memberi rangsang penghormatan untuk pujangga desa di Madura. Buku berjudul Bulan Tertusuk Lalang (Balai Pustaka, 1982) adalah buku pilihan saat aku ingin mengimajinasikan Madura. Buku ini tampil sederhana tapi mengantar ke imajinasi-imajinasi menakjubkan.

Kata pengantar dari penerbit: “Kehadiran D. Zawawi Imron dengan kumpulan Bulan Tertusuk Lalang ini ikut memeriahkan dunia puisi Indonesia mutakhir. Kesan Utama dalam membaca sajak-sajak dalam kumpulan puisi ini, tampak adanya upaya penyair mengungkapkan diri dan masalah-masalah kemanusiaannya secara orisinil. Penyair berusaha mengangkat hal-hal yang tampaknya sederhana dengan bahasanya sendiri.” Keterangan ini mengesankan Zawawi Imron adalah pujangga baru di kesusastraan Indonesia. Puisi-puisi hadir dengan bersahaja: mewartakan diri sebagai manusia Madura.

Madura 2

Aku tertarik dengan puisi Sapi Hitam (1979). Puisi ini mengajak orang melihat Sapi berlatar laku kultural di Madura. Sapi mengandung adab orang memperlakukan binatang.

siapa yang tak sayang padanya?

sapi hitam bulunya hitam matanya hitam tanduknya hitam

kukukunya hitam dagingnya hitam darahnya hitam hatinya

hitam

jangan sembelih ia jangan usik ia biarkan ia bergerak

seperti arwah silakan ia datang dalam kenangan dan

mencari sepi ke ujung hati

Aku telah menulis sekian esai tentang binatang. Puisi ini pantas jadi rangsang memandang Madura dari pengisahan binatang-binatang. Sapi memiliki kisah berlimpah. Zawawi Imron menggoda dengan kejutan imajinatif: hitam. Aku merasa hitam tak cuma urusan warna.

Puisi berjudul Kerapan (1978) mewartakan Madura secara berbeda ketimbang berita-berita di koran atau majalah. Puisi ini tentu mengandung aksentuasi kultural ketimbang sajian gambar di televisi. Kata-kata sanggup mengisahkan tanpa selingan iklan dan tatapan mata bermanja gambar.

 sapi! barangkali engkaulah anak yang lahir tanpa tangis

suaramu jauh malam menderaskan kibaran panji

larimu kencang melangkahi rindu sehingga topan senang

mengecup dahimu

jangan mungkir, bulan telah tidur dalam hatimu

bisikmu lirih menipiskan pisau yang akan memotong lehermu

bila kau tak sanggup berpacu lagi

dari hati tuanmu kini terdengan semerbak bumbu

 

Aku belum pernah melihat kerapan. Nukilan puisi ini justru menimbulkan haru. Aku sulit mengimajinasikan nasib sapi sebagai santapan usai tak berlari di hadapan ribuan mata. Sapi memiliki kisah kematian. Penggunaan kata “pisau”, “lehermu” “bumbu” membuatku sedih.

Madura 3

Puisi-puisi Zawawi Imron memang aku jadikan kutipan di sekian esai. Aku justru belum pernah membuat esai panjang: pembacaan dan penilaian. Aku telah mengalami perjumpaan dan percakapan meski tanpa adegan foto bersama. Aku mesti mengekalkan ingatan atas buku, Zawawi Imron, Madura melalui esai panjang. Harus!

Aku ingin esai itu memuat impresi biografis dan narasi-narasi Madura. Buku-buku Zawawi Imron dan buku-buku tentang Madura mesti segera dikumpulkan dan ditumpuk. Aku masih menantikan ruang untuk membaca ulang puluhan buku. Rumah belum jadi. Ribuan buku masih ada di kardus dan karung. Agenda menulis esai itu memerlukan kesabaran. Doa juga harus dilantunkan mirip puisi perjalanan dari Solo ke Madura. Aku tentu bakal kembali ke Madura. Begitu.

Iklan