Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Kunjungan ke toko buku. Mata melihat buku-buku baru. Godaan untuk membaca. Aku melihat ada buku berisi biografi Hamka berjudul Ayah (Republika, 2013). Aku memegang buku berbungkus plastik itu dengan mengucap doa. Buku itu mesti lekas ada di rumahku. Aku justru membeli novel Memang Jodoh (Qanita, 2013) karangan Marah Rusli. Ingatan segera mengarah ke novel lawas: Sitti Nurbaya. Marah Rusli masih menulis novel-biografis di tahun 1961: mengisahkan asmara dalam seribu cobaan. Novel setebal 536 halaman selesai dalam semalam. Lega. Aku perlahan mengerti Marah Rusli. Novel itu semakin menguatkan keinginanku dan teman-teman untuk mengadakan Kongres Sitti Nurbaya.

Buku biografi Hamka belum sampai rumahku. Aku mesti bersabar untuk bisa membeli dan membaca. Detik-detik untuk menanti saat pembelian itu menuntunku menengok koleksi buku lawas berjudul Tenggelamnja Kapal Van der Wijck dalam Polemik (Mega Book Store, 1963) susunan Junus Amir Hamzah dengan bantuan H.B. Jassin. Buku setebal 198 ini menjadi dokumentasi polemik panjang atas dugaan plagiat Hamka dalam garapan novel Tenggelamnja Kapal Van der Wijck.

Hamka 3

Aku teringat masa silam. Novel itu keajaiban dalam hidupku. Alur hidupku turut dipengaruhi novel Hamka. Aku pernah mengalami sebagai murid nakal saat bersekolah di SMAN 2 Solo. Aku suka membolos, merokok, membuat onar…. Sekolah membuatku bosan dan menumpuk dendam. Aku ingat tentang adegan membolos di pusat perbelanjaan di Gladag. Aku berjalan sendirian tanpa misi jelas. Lelaki berseragam itu justru tersesat di Alun-Alun Lor. Duduk dan merokok: memandangi orang-orang dan hamparan buku-buku lawas. Mataku mengarah ke novel lusuh. Tanganku lekas memegang seolah ada panggilan. Novel itu berjudul Tenggelamnja Kapal Van der Wijck. Aku membeli dengan uang SPP. Pulang. Hari itu matahari masih bersinar tapi berbisik tentang lantunan doa lelaki ingusan. Novel dirampungkan semalam: menetes air mata dan ikhtiar pertobatan untuk menjalani hidup bersama buku. Novel itu memberi janji padaku agar tak berkubang di petaka hidup. Novel itu mengajak diriku menjadi pembaca dan penulis. Aku memang mengoleksi belasan angka merah saat bersekolah dan catatan buruk tapi novel telah mengubahku menjadi lelaki literasi. Oh!

Aku tak mengetahui jika novel itu pernah jadi polemik sengit di kalangan pengarang Indonesia. Buku-buku Hamka perlahan jadi bacaan mencerahkan melalui percampuran asmara-picisan dan petuah-petuah mengandung dakwah. Kejutan muncul saat aku menemukan buku berjudul Tenggelamnja Kapal Van der Wijck dalam Polemik. Penasaran! Aku mesti mengetahui segala hal berkaitan dengan Hamka.

Hamka 1

Junus Amir Hamzah menjelaskan: “Adapun karangan jang kami kumpulkan itu ialah karangan-karangan jang sudah atau jang belum disiarkan karena sesuatu sebab, baik dari pihak jang menjerang maupun dari pihak jang mempertahankan. Tentu sadja pilihan jang kami lakukan demikian rupa, sehingga terhindar dari pengumpulan jang tidak sistematik dan sembrono, pengumpulan jang hanja berisi lontaran kata-kata kosong tanpa fakta dan isi. Untuk itu, kami berusaha berpidjak pada bahan-bahan jang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan, terlepas dari tudjuan-tudjuan politik tertentu. Dan untuk mendjaga kemurniannja, maka dalam naskah asli tidak diadakan perobahan.” Dokumentasi ini berlatar situasi politik-panas dan adu ideologi dari pelbagai kubu sastra.

Buku ini memuat tulisan-tulisan Abdullah S.P., Ali Audah, Hamka, H.B. Jassin, Wiratmo Soekito, Goenawan Mohamad, Rusjdi, Soewardi Idris, Junus Amir Hamzah, Umar Junus… Abdullah S.P. di Bintang Timur (7 September 1962) menulis: “Begitu asik aku dipukau HAMKA. Ia telah mengetuk gerbang hatiku, hati insani. Pernah aku membatja semalam suntuk, pernah pula pada suatu hari – sesudah membatja – menangis sendirian disudut sunji.” Kenangan dan kesan itu berubah usai Abdullah S.P. mendapat informasi bahwa Hamka adalah “Manfaluthi-Indonesia”. Informasi itu mengandung konklusi: “… Tenggelamnja Kapal Van der Wijck itu seperti pinang dibelah dua dengan Magdalaine-nja Manfaluthi.”

Penilaian Abdullah S.P berubah dan menuntut jawab: “Dan bila dulu HAMKA aku pudja, memukau aku, kerna kehebatannja dalam melukiskan penderitaan manusia, kini aku merasa sedemikian diketjewakan…” Aku perlahan tahu isi polemik. Sikap Abdullah S.P. tak ada di diriku. Aku tetap menghormati dan membaca buku-buku Hamka. Novel Magdalaine edisi terjamahan bahasa Indonesia telah aku khatamkan. Aku memang merasakan ada sendu serupa dalam Tenggelamnja Kapal Van der Wijck. Aku tak perlu menggugat atau membuang novel Hamka sebagai konsekuensi polemik plagiat.

Hamka 2

Hamka di Gema Islam (1962) memberi jawab: “Tjatji maki dan sumpah-serapah terhadap diri saja dengan mengemukakan tuduhan bahwa buku Tenggelamnja Kapal Van der Wijck jang saja karang 24 tahun jang lalu, adalah sebuah plagiat, atau djiplakan, atau hasil tjurian atau sebuah skandal besar, tidaklah akan dapat mentjapai maksud mereka untuk mendjatuhkan dan menghantjurkan saja. Dengan memaki-maki dan menjerang demikian persoalan belumlah selesai.” Aku sulit mengimajinasikan situasi batin Hamka saat mendapat serangan-serangan keras. Kalimat-kalimat Hamka itu mengandung pengakuan bersahaja dengan pengendalian emosi.

Buku ini pantas jadi rujukan untuk menilik sejarah polemik sasta di Indonesia. Aku merasa tergoda untuk membuat daftar polemik. Pencarian buku atau tulisan-tulisan berserakan tentang polemik sastra mesti dilakukan agar lupa tak menguburkan sejarah. Begitu.

Iklan