Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Dua hari berkeringat dan sedih. Aku dan teman-teman melakukan kerja mengungsikan ribuan buku. Rumah lama mau segera ditempati oleh pembeli. Aku mesti segera berpindah meski rumahku belum jadi. Ratusan kardus dan karung berisi buku, majalah, koran berpindah ke barak pengungsian. Tubuh-tubuh bergairah dan lelah: 24 dan 25 Juni 2013. Adegan mengungsikan buku bermula dari siang ke malam.

Aku menata ribuan buku sambil mengeja kenangan-kenangan. Adegan memandang dan memegang buku mirip ritual mistis. Biografiku sering ada di ribuan buku lawas ketimbang baju, celana, sarung, sepatu, sepeda motor…. Buku-buku itu bersamaku sejak 1998. Hidup bersama buku melampaui romantisme lelaki-perempuan. Ha! Aku cuma berkelakar. Aku selalu ingin hidupku berkitab.

Aku jarang mengangkat kardus atau karung. Tubuhku cuma berhasrat menata dan mengingat. Siasat ingatan diperlukan jika aku memerlukan buku-buku untuk menulis. Kardus dan karung mesti ditulisi kata-kata pengingat meski tak semua. Teman-teman turut menata dan mengangkut. Mereka sering menikmati jeda dengan melihat dan membuka halaman-halaman buku. Mereka pun terpesona, kaget, bahagia. Sekian buku dipinjam. Sekian buku juga jadi milik mereka. Sekian buku…

Buku-buku di kardus dan karung tentu sulit dipandangi. Aku dan teman-teman memerlukan upacara melihat sebelum menaruh buku. Kenangan-kenangan berdatangan. Aku menikmati dengan lelah dan gamang. Rumah berjuluk Bilik Literasi mesti ditinggalkan. Ratusan peristiwa telah terjadi meski tanpa potret. Aku dan teman-teman sengaja enggan berpotret jika mengadakan acara di Bilik Literasi. Obrolan tentang buku dan peristiwa terjadi saat makan malam. Bulan di atas rumah: bundar dan kuning. Teman-teman melahap nasi dan “bebek goreng.” Jutaan orang tentu cemburu atas kenikmatan kami. Kerja belum selesai… 25 Juni 2013: lelah dan sedihku memuncak. Teman-teman tampak “berjihad” untuk merampungi pekerjaan. malam. Bulan masih bundar. Rumah telah kosong. Aku….

Indonesia 1

Peristiwa mencopot rak-rak di dinding membuatku bertemu ulang dengan buku ampuh: Indonesia dalem Api dan Bara karangan Tjamboek Berdoeri (1947). Pengarang memberi keterangan: “Ditoelis sebagi peringetan  oentoek anak-tjoetjoe saja.” Aku jadi teringat dengan tulisan Ben Anderson. Buku ini sulit dicari di Indonesia. Ahli Indonesia itu pernah meminta bantuan para pengarang dan sejarawan di Indonesia: melacak buku asli Indonesia dalem Api dan Bara. Ikhtiar mencari dilakukan meski tak ketemu. Salinan ada untuk jadi bahan terbitan ulang dan referensi membaca Indonesi berlatar Malang. Ben Anderson membuat uraian memikat dan “mengenalkan” Tjamboek Berdoeri ke publik setelah lama terlupakan. Aku sudah memiliki dan membaca buku ini sebelum diterbitkan kembali dengan kemasan baru. Kenangan muncul saat buku kecil setebal 222 halaman ini ada di rak paling atas. Rak dikosongkan tapi buku Indonesia dalem Api dan Bara memunculkan paras menggoda.

Kwee Thiam Tjing (Malang, November 1947) menulis di halaman “Kata Penganter” tentang misi penulisan dan penerbitan Indonesia dalem Api dan Bara. Kalimat-kalimat berisi keterangan penting: “Indonesia dalem Api dan Bara olehnja boekan hendak dibanggaken sebagi boekoe-hikajat, poen tida disadjiken seperti boekoe dari mana pembatja bisa tambhaken pengetahoeannja tentang so’al so’al jang mempoejain sangkoet-paoet dengen timboelnja api-peperangan jang perna bakar seloeroeh benoea Asia. Tida, itoe semoea tida dimaksoedken oleh penoelis, hanja ia toelis ini boekoe sekedar sebagi tjatetan-tjatetan peringaten bagi anak-tjoetjoenja, soepaia marika itoe poen mengetahoein apa jang perna dialamken oleh orang-orang jang hidoep di zaman pantjaroba.”

Aku membaca keterangan-keterangan itu dengan keinsafan. Pamrih Tjamboek Berdoeri tampak tak muluk. Keterangan berubah saat pembaca di Indonesia menginginkan ada rujukan-rujukan untuk menengok sejarah. Buku ini jadi incaran. Ben Anderson berhasil membuat propaganda agar pembaca menemukan informasi-informasi dan imajinasi-imajinasi berkaitan dengan sejarah Indonesia. Orang-orang mulai mencari dan membaca. Mereka adalah kalangan akademik, ahli sejarah, sastrawan, peneliti…. Aku memiliki buku ini sejak lama. Aku pun memerlukan membaca edisi cetak ulang untuk membuat perbandingan pengalaman tubuh-membaca. Adegan membaca edisi buku asli terasa menakjubakan ketimbang buku edisi baru. Oh!

Indonesia 2

Informasi-informasi dalam buku memang menggoda. Aku mengimajinasikan situasi masa silam di Malang: “Waktoe Nippon soedah ‘doedoek’ di Malang, tida lama kamoedian keloearlah maloemat jang pertama, dalem mana diterangken, moelai moentjoelnja itoe maloemat tida boleh dikibarken laen bendera ketjoeali bendera Hinomaru.” Kutipan ini biasa tapi aku gunakan saat menulis esai tentang bendera. Kutipan sebelum urusan bendera berkaitan dengan nasib orang Tionghoa: “Di kota Malang sendiri, waktoe Nippon baroe masoek, soekar tida sampe ada kedjadian perampokan, kendati ampir sadja ada. Dan jang ampir dirampok itoe…. apa pembatja masih moesti dikasih tahoe? Jang ampir dirampok ito tentoe sadja kombali ada roemahnja orang Tionghoa.”

Aku memegang buku ini sambil mengucap perpisahan: meninggalkan rumah saat malam berbulan. Kamar telah kosong. Rumah telah kosong. Buku Indonesia dalem Api dan Bara bakal menjadi ingatan adegan mengungsikan ribuan buku. Aku termasuk manusia bersukacita dengan buku ini meski harus mengalami perpindahan rumah. Aku berjanji tak berpaling dari buku garapan Tjamboek Berdoeri. Begitu.

Iklan