Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Buku lawas sering membuatku malu, menunduk tanpa bualan. Buku mengabarkan tentang manusia dan masa. Aku selalu membuat perbandingan dan pengandaian atas pemaknaan buku, dari zaman ke zaman. Buku pernah beredar di suatu masa, milik pembaca di masa silam. Aku mendapatkan buku itu setelah melewati puluhan tahun, menempuh jalan waktu: sepi dan sendiri. Oh!

Buku berjudul Bloemlezinng Uit Het Klassiek Maleis atau Bunga Rampai Melaju Kuno (J.B. Wolters-Groningen, 1949) susunan Dr. M.G. Emeis memberi rangsangan literasi, menggodaku untuk mencemburui masa lalu. Buku setebal 271 halaman diterbitkan sebagai bacaan sekolah-sekolah di Indonesia, masa 1940-an dan 1950-an. Buku mentereng dan penting. Aku tak sungkan memberi pujian bagi pembaca di masa silam, mendapati bacaan-bacaan memikat saat Indonesia sibuk mengurusi revolusi. Buku jadi pengertian naif di zaman ramai dan sibuk.

5M.G. Emeis menerangkan tujuan penerbitan bunga rampai: “Untuk mempergunakan dan memperluas bahasa Indonesia halus perlu peladjaran… Untuk memperoleh ras-bahasa tidak ada djalan jang lebih baik dari pada membatja karangan-karangan jang baik. Sudah barang tentu jang terutama ialah jang dikarangkan dalam bahasa Melaju modern, tetapi perlu djuga jang dikarangkan dalam bahasa Melaju kuno.”

Sastra modern memang merebak, membuat arus besar di Indoesia, sejak awal abad XX. Novel-novel terbitan Balai Pustaka dan buku-buku sastra produksi Poedjangga Baroe memiliki klaim sebagai sastra modern, hadir di laju zaman “kemadjoean”. Publik menerima bacaan sastra, bekal menapaki kemodernan meski kolonialisme belum rampung. Marah Roesli, Roestam Effendi, Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane… tampil sebagai pengisah di zaman modern. Chairil Anwar pun berseru tentang “kemutakhiran”, sastra tak berlumuran masa silam. “Modern” menjelma idiom dominatif. Lho! Sastra lawas, “Djawa” atau “Melaju”, jarang mendapati tatapan mata dan sentuhan di kalangan penulis atau pembaca. Aduh!

Buku Bunga Rampai Melaju Kuno ingin berkontribusi sebagai ingatan-historis dan ajakan mengolah rasa-bahasa. M.G. Emeis sanggup membuat perbandingan telak antara rujukan bahasa-sastra “Melaju Kuno” dan bahasa asing. Penjelasan: “Rasa bahasa asing tidak mungkin memperkaja bahasa Indonesia, hanja rasa-bahasa Indonesia, jaitu Melaju, jang dapat memperkajanja, karena asal menentukan sifatnja.” Kalimat ini “berlebihan”, realis dan cenderung membuatku memberi anggukan. Aku memberi persetujuan jika menilik biografi diri, tak bis berbahasa Belanda atau bahasa Inggris. Aku juga mesti mengusulkan, bahasa asal termasuk bahasa Jawa.

Keikhlasan membaca sastra kuno memang bisa menimbulkan nostalgia, jeda dari situasi pelik masa sekarang. Keterangan di awal sajian ringkasan Hikajat Si Miskin pantas direnungi, ajakan untuk insaf. Ingatan atas masa silam mempertemukan adab “Melaju”, India, dan Islam: bergumul di garapan sastra. Ringkasan Hikajat Miskin menggunakan salinan dari penerbitan oleh Ch. A. van Ophuysen, terbitan P.W.M. Trap Leiden, 1919. Pengantar sebelum bacaan ringkasan: “… Hikajat Si Miskin masuk hikajat roman, hikajat jang bersifat Melaju betul. Hikajat ini adalah kisah para dewa Indera Angkasa, jang disumpahi Batara Indera serta daripada isterinja Ratna Dewi, anaknja laki-laki Markarmah dan anaknja perempuan jang bernama Nila Kusuma. Dalam tjeritera itu ada anasir-anasir Hindia Depan tertjampur dengan anasir-anasir Melaju sedjati, sedang penjalin Islam mengadakan perbaikan Islam dalamnja.” Sastra memuat pelbagai pengaruh: ideologi, iman, identitas, etnis….

6

Aku merasa ada kealpaan mengurusi buku-buku lawas, menata dan membaca untuk jadi garapan bahasa atau sastra. Kondisi abad XXI semakin tak memperkenankan ajakan-ajakan membaca buku-buku lawas, bernostalgia dengan imajinasi silam. Refleksi dan ketekunan mesti ada bagi pembaca produksi sastra-sastra dari masa lampau, membaca tanpa ketergesaan. Aku harus mengajak diri merasai ritus-ritus membaca sesuai adab kesilaman agar tak membaca menggunakan tubuh-mata tergesa.

Halaman-halaman tentang Abdullah dan sajian pengisahan Raffles mengajak ke lacak persesuaian sejarah dan sastra. Kutipan acak: “Sjahdan, maka adalah kira-kira dua, tiga bulan kemudian daripada mendengar chabar jang demikian itu, maka sekonjong-konjong datangalah tuan Raffles ke Malaka serta dengan isterinja dan seorang djurutulisnja Inggeris, jang bernama Mister Merlin, dan lagi seorang djurutulisnja Melaju, bernama Ibrahim, jaitu peranakan Keling dan Pulau Pinang… Maka pada suatu hari datanglah djurutulisnja, jang bernama Ibrahim itu, ke rumahku duduk bertjakap-tjakap dari hal tuan Raffles itu hendak mentjari djurutulis Melaju, jang baik bekas tangannja menulis. Dan lagi ia hendak membeli surat-surat Melaju dan hikajat-hikajat dahulu kala. Maka barang siapa ada menaruh, bawalah dikebunnja di Bandar Hilir.” Aku sejak lama mengerti: naskah-naskah di Nusantara memang “diangkut” oleh para pejabat dan intelektual ke negeri-negeri asing. Raffles adalah “pelaku”.

Aku memang mengumpulkan dan mempelajari sastra-sastra lama meski hasil dari salinan ke naskah-naskah asli di Belanda, Inggris, Rusia… Penerbitan buku-buku sastra lama sering merujuk ke koleksi di negeri-negeri asing, konsekuensi dari kolonialisme: mengangkut sastra untuk “menguasai”, “mengubah”, “menjinakkan”… Aku pantas membuat janji, mengurusi sastra-sastra masa silam berpamrih mengelak dari lupa. Begitu.

Iklan