Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

1 Juli 2013, esaiku berjudul Kota Seribu Julukan tampil di Solopos. Para pembaca Solopos memberi celotehan tentang julukan Solo sebagai “kota asmara”. Aku sengaja mengutip julukan itu di ujung esai, mengambil dari novel Tak Ada Nasi Lain (2013) karangan Suparto Brata. Aku merasa jemu dengan agenda pemberian julukan untuk Solo berdalih politik, investasi, pariwisata. Aku merasa kaget saat merampungkan novel Tak Ada Nasi Lain, memuat lakon asmara: mengharukan. Di novel tebal garapan pengarang sepuh itu tercantum julukan “kota asmara”. Aku menerima, terlena di suguhan cerita. Aku pun berurusan dengan Solo dan Suparto Brata.

Ingatanku tentang Solo tak cuma deretan nama para raja, peneliti asing, pujangga Jawa, pejabat, seniman…. Solo juga jadi kota memori untuk tokoh moncer, penggerak PKI. Lelaki itu bernama Aidit. Aku menganggap Solo pernah jadi “kota merah”, julukan ideologis sejak masa awal abad XX. Solo jadi ruang semaian ideologi, menjadi pusat dari agenda-agenda politik heboh. Aku pernah mengingat Solo melalui Haji Misbcah. Aidit pun perlu jadi memori berlatar Solo.

Aidit 1

Buku berjudul Hari-Hari Terachir Aidit (B.P. Kedaulatan Rakjat, 1966) garapan Soebekti  bisa jadi rujukan ingatan tentang PKI dan Solo. Soebekti di halaman awal menjelaskan: “Aidit dipandang orang sebagai pemimpin partai komunis nomor tiga diseluruh dunia.” Anggapan ini berlaku dalam pengertian kuantitas, jumlah anggota partai. Keterangan penting disajikan secara pendek. Aidit memilih Solo sebagai poros sebaran dan gerakan komunis. Pilihan ini memperhitungkan geografi, politik, sejarah…. Aidit justru mengalami kegagalan di Solo.

Malapetaka 1965 di Jakarta mengalami kegagalan. Aidit bergerak, meninggalkan Jakarta demi menghembuskan nafas “perlawanan” di daerah-daerah. Aidit sampai ke Solo, di hari-hari awal Oktober 1965. Keterangan Soebekti: “Di Solo, Aidit dengan Lukman segera menudju ke Lodjigandrung tempat kediaman bekas walikota (PKI) Utomo Ramelan.” Pertemuan-pertemuan di Solo menimbulkan konsekuensi pelik. Aidit ingin melanjutkan perjalanan ke Bali atau balik ke Jakarta. Keinginan itu batal. Aidit sulit keluar dari Solo.

Keterangan-keterang di buku kecil setebal 98 ini membuatku ingin menemukan gambar-gambar filmis. Aku mesti mengimajinasikan situasi Solo, 1965. Cerita-cerita tentang PKI di Solo sudah sering aku dapati meski jarang memunculkan deskrispi-gambar. Aku semakin penasaran usai merampungkan buku Harry A Poeze berjudul Madiun 1948: PKI Bergerak (2011). Uraian tentang Solo hampir separuh, mengawali episode tragedi di Madiun. Situasi menjelang 1948 dan 1965 di Solo tentu “mencekam” dan “panas”. Aku memerlukan penjelasan-penjelasan, dari pelaku dan “kolomnis Solo tempo doeloe”.

Soebekti melanjutkan pengisahan Aidit di Solo. Kalangan militer terus mencari Aidit, melacak ke pelbagai tempat di Solo. Aidit jadi incaran. Tokoh kondang itu berhasil mendapat tempat persembunyian di Gang Sidaredja, Sambeng, Mangkubumen, Solo. Deskripsi tentang rumah di Sambeng: “Rumah jang dipilih untuk bersembunji sangat ideaal. Gangnja berliku-luki sangat ketjil, dengan perumahan-perumahan antara lain terdiri dari perumahan-perumahan liar dan merupakan gang buntu, dibuntu oleh sungai ketjil atau djalan kereta-api. Rumah tempat persembunjian ini milik seorang djanda tua, Mbok Hardjo dan jang sebahagian ruang muka dan tengah disewakan kepada keluarga Pak Kasim, konon seorang pensiunan pegawai djawatan bea dan tjukai.”

Aidit 2

Aku belum pernah mencari atau melihat rumah merujuk ke deskripsi Soebekti. Foto tentang rumah memang disajikan tapi menimbulkan ajakan tak terkabulkan. Aku belum pernah mendapat cerita utuh, sulit mengimajinasikan rumah itu menjadi “titik” bersejarah mengenai keberakhiran tokoh besar di PKI. Rumah itu ada di Solo. Aku tak tahu. Aku tak tahu. Aduh!

21 November 1965, hari keberakhiran. Deskripsi agak dramatis: “Hudjan djatuh agak lebat mulai sore hari. Dan Gang Sidaredja dengan rumah ketjil ditepi sungai dekat kuburan itu sangat sunji menjeramkan dimalam hari jang gelap dan hudjan. Sudah pasti diketahui saat itu Aidit berada ditempat tersebut. Dan pengintai-pengintai telah ditempatkan sekitar rumah tadi untuk mendjaga djangan sampai Aidit dapat meloloskan diri.” Adegan ini tak pernah tampil di film. Lho!

Aidit sulit meloloskan diri, berdiam dalam rumah. Penangkapan pun terjadi dengan menegangkan. Aku merasa Soebekti tak sanggup mengisahkan secara dramatis, mengajak pembaca merasa ada situasi “gelap” dan “menegangkan”. Aku justru ingin menggarap adegan di rumah itu sebagai sajian monolog. Aku bakal menulis naskah, mengisahkan situasi jiwa-raga Aidit saat “berdiam” sampai ditangkap. Aku mesti mencari informasi-informasi, mengangankan tubuh dan wajah Aidit. Aku telah lama tak berteater, cuti tak jelas. Garapan monolog tentang Aidit tentu bisa jadi sajian beraroma sejarah.

Buku ini cuma memuat penggalan-penggalan informasi, tak utuh dan komplet. Aku juga perlu mencari buku tandingan agar buku Hari-Hari Terachir Aidit bisa dibaca secara kritis. Rencana ini memerlukan ketekunan dan kesabaran. Aku tentu menanggung misi ganjil: mempelajari PKI, Solo, Aidit. Ikhtiar berlanjut ke penulisan naskah dan pementasan monolog. Aku “terlalu” berpengharapan. Begitu.

Iklan