Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Aku belum jemu untuk membaca dan menulis tentang Hamka. 7 Juli 2013, esaiku berjudul Hamka: Buku dan Dakwah tampil di Jawa Pos. Aku menulis esai itu setelah membeli buku Ayah… (2013) susunan Irfan Hamka dan Tadarus Cinta Buya Pujangga karangan Akmal N. Basral. Ingatan buku-buku Hamka bermunculan, mengajak selisik peran buku sebagai dakwah. Hamka adalah ulama dan sastrawan, rajin menulis buku dengan pelbagai tema. Aku menganggap buku-buku Hamka adalah siasat berdakwah, menghampiri umat untuk berperan sebagai pembaca. Dakwah dengan buku perlahan tak laku. Publik memilih memberi mata untuk televisi atau menghadiri pengajian dengan memberi mata-telinga. Dakwah adalah sajian di televisi dan uraian-uraian dari mimbar.

Aku memiliki ingatan ganjil saat membaca buku Hamka berjudul Revolusi Agama (Pustaka Antara, 1949). Aku mendapat cetakan kedua, edisi awal terbit di tahun 1946. Buku ini memiliki gambar ganjil di sampul. Lihatlah! Ada gambar masjid, onta, pesawat. Aku tak memandang dengan mata-semiotika berlatar akademik. Aku cuma mengimajinasikan ada “keberanian” memadukan gambar-gambar itu berdalih menjelaskan pengertian “revolusi agama”.
Revolusi agama
Hamka membuat persembahan: “Kepada tanah air-ku jang telah merdeka. Kepada bangsaku jang bangun kembali. Kepada segenap pahlawan, jang telah tewas dan masih melandjutkan perdjuangan, jang terkenal atau jang dilupakan. Kepada mereka itu semuanja aku persembahkan buah tanganku ini.” Halaman persembahan  mengesankan bahwa Hamka termasuk “revolusioner”, pejuang demi Indonesia, sejak masa kolonialisme.
Buku ini menjelaskan ikhtiar bangsa-bangsa untuk melepaskan diri dari penjajahan dan penindasan berdalih politik, ekonomi, agama, kultural. Kalimat-kalimat Hamka menimbulkan anggapan: intelektualitas dan kompetensi membuat konklusi-konklusi. Aku merasa Hamka berlaku sebagai penulis heroik, dipengaruhi bara revolusi. Penjelasan-penjelasan terasa menggugah, mencampur bahasa naif dan bahasa keras. Hamka tak sedang memberi suguhan cerita asmara tapi ajakan mengingat “sejarah”.
Hamka menulis: “Begitu terang dan njata maksud agama, tetapi sebagian manusia masih tetap memperbudak sesama manusia, dan diambilnja agama itu djadi persandaran untuk mengokohkan kekuasaan.” Aku kaget saat membaca contoh-contoh dari Hamka, menjelaskan peran agama di pelbagai bangsa: “Sebelum Luther memerdekakan akal benua Eropa, maka diatas nama agama, Paus di Roma memperkosa kemerdekaan berfikir. Sebelum Voltaire dan Rosseau, memerdekakan fikiran rakjat Perantjis, maka diatas nama agama kaum pendeta dan kaum keradjaan menindis rakjat di Perantjis. Sebelum paham Karl Marx berhasil di Ruslan, maka diatas nama agama kaum pendeta Ortodhox Ruslan memeras rakjat.” Lanjutan dari contoh-contoh semakin menunjukan bahasa-bahasa keras. Hamka tak ragu menulis secara terang dan lugas.
Jangkauan Hamka luas, menampilkan sejarah-sejarah pelbagai bangsa berkaitan revolusi agama. Aku menghormati Hamka sebaga pembelajar ampuh. Hamka menulis: “Hidup orang zaman pertengahan adalah hidup jang amat dipengaruhi oleh agama jang djatuh kepada derdjat fanatik dan sempit paham jang amat mendalam…. “Aku perlahan mengingat buku-buku tentang “zaman pertengahan”. Eropa dilanda kegelapan, pikiran-pikiran terbelenggu. Agama terlalu menjadi rujukan untuk menghukum dan menindas. Lho! Aku tergoda mengikuti bahasa-bahasa keras.
Hamka memunculkan tokoh-tokoh revolusioner, berharap ada penguatan tematik. Tokoh-tokoh dalam sejarah politik dan pemikiran agama Islam juga diajukan oleh Hamka, keteladanan dari masa silam. Hamka tampak bersemangat mengisahkan Said Djmaluddin Al-Afghani, Sjech Muhammad Abduh, Said Ahmad Chan… Tokoh-tokoh itu mengubah nasib bangsa, mengajak umat berpikir revolusioner dan beribadah. Dalil-dali agama diserukan untuk revolusi tanpa henti. Deskirispi tentang Muhammad Abduh sebagai manusia revolusioner: “Sebagai Muhammad Abduh djuga, menurut faham beliau, supaja dia menerima akan perobahan hidup. tauhidlah jang harus ditegakkan didalam djiwa lebih dahulu. Dan untuk menghilangkan kepintjangan pemerintah radja-radja sewenang-wenang, haruslah didirikan pemerintahan demokrasi.” Aku selalu mengenang Muhammad Abduh melalui buku berjudul Risalah Tauhid.
Buku ini memang menghadirkan situsasi revolusi. Hamka mengakui pengaruh revolusi dalam penulisan sekian buku. Pengakuan: “Buku-buku Revolusi Fikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Negara Islam, saja tulis boleh dikatakan disa’at masih permulaan. Fikiran sendiripun masih terpengaruh oleh perdjuangan. Ketika pena menari diatas kertas, dihalaman rumah kedengaran pemuda berbaris dengan bambu runtjing kemedan pertempuran guna menangkis pendjadjahan…” Aku jadi ingin mengetahui adegan menulis Hamka tampil dalam film: dramatis. Hamka menulis, pemuda berbaris. Hamka ke medan kata, pemuda ke medan perang. Oh!
Hamka tak gentar menulis meski perang belum rampung. Menulis mirip tindakan revolusioner, setara dengan orang memegang bedil atau bambu runcing. Aku jadi iri. Aku berharap memilik “kenekatan” menulis meski dunia sedang amburadul dan hancur. Hamka menjalani hidup untuk menulis… menulis… menulis…
Aku mengoleksi buku-buku Hamka, belum lengkap. Aku masih terus mencari, membaca, mengoleksi. Aku belum pernah menjumpai orang sebagai pemilik buku-buku lengkap garapan Hamka. Orang itu tentu bisa menjelaskan pikiran-imajinasi Hamka tanpa harus menggarap tesis ataui disertasi. Begitu.
Iklan