Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku sejak lama mempelajari tentang sejarah gereja, peran pendeta, sejarah pernerjemahan Alkitab, biografi pastor…. Aku merasa perlu membaca buku-buku untuk mendapati pelbagai informasi dan refleksi. Sejarah Indonesia tak bisa mengabaikan tema-tema gereja dan publikasi buku, majalah, jurnal berkaitan sebaran agama Kristen di pelbagai kota dan desa. Lacak sejarah mengharuskan pembacaan terhadap terbitan-terbitan lawas.

Aku menemukan Woersitagama sebagai “serat woelanan isi piwoelangan agami warni-warni”. Woersitagama diterbitkan oleh “para pandita ing Djawi Tengah”. “Serat wolenanan” ini terbit sekian nomor, di masa 1920-an dan 1930-an. Aku cuma mengoleksi dua belas nomor. Aku terpikat Woersitagama No. 1 Tahun XII, 18 Januari 1939. Keterangan di daftar isi: Taoen 1938, Pawartos saking tanah Batak, Pitakening Ngagesang, Babad Zending ing tanah Djawi.

Woersitagama 1

Terbitan berbahasa Jawa ini semakin merangsangku untuk mengetahui makna bahasa Jawa bagi sebaran agama Kristen di Jawa. Aku merasa peran bahasa Jawa sangat penting dalam misi agama, menghampiri publik melalui aura lokalitas. Aku juga mengoleksi buku-buku terbitan Muhammadijah di masa 1920-an sering menggunakan bahasa Jawa, disajikan secara populis dan akrab. Kehadiran pelbagai agama di Jawa atau Nusantara memang memerlukan perangkat bahasa-bahasa lokal. Aduh! kalimat-kalimatku seperti pengulangan dari ocehan para pakar sejarah dan agama.

Tulisan berjudul Taoen 1938 susunan J.D.W. adalah renungan meninggalkan tahun lama, berlalu. Waktu memang berlalu tapi kata-kata bisa jadi dokumentasi memori. Ingatan tahun lama adalah ingatan tentang bangsa dan dosa. Lho! Kutipan panjang: “Dosa ingkang kapanggih ing saloemahing boemi ing salebeting taoen 1938 sarta ingkang boten saged soeda, nanging malah sanget anggenipoen mindak, meh ing antawisipoen bangsa sadja poenika dosa anggenipoen ngolah raos kabangsan kesangetan. Saben bangsa nganggep manawi namoeng bangsanipoen pijambak ingkan oetami, bangsa sanes-sanesipoen poenika awon sadaja sarta kedah dipoensengiti, dipoenremehaken, dipoenmedjanani. Raos kabangsan oetawi nationalisme poenika ndjalari bilih angger pradja tjetjawis toewin samekta ing perang, ing poendi kapireng swantening pradjoerit ingkang sami baris….” Kalimat-kalimat ini lekas menghadirkan kejawaan, intimitas pengisahan melalui bahasa Jawa: bahasa merasuk ke tubuhku sejak bocah meski tak fasih.

Aku kagum dan merasa ada kewaskitaan. Urusan tahun-waktu bisa berlanjut mengurusi dosa, bangsa-nasionalisme, perang…. Renungan dalam bahasa Jawa juga mengingatkan kata impresif: sengit. Aku pernah tergoda menggunakan kata “sengit” untuk obrolan dan melantunkan lagu campur sari. Aku pun sering sesumbar ke teman-teman untuk menjuduli kolom menggunakan kata “sengit”. Ah!

Tulisan mengenai Babad Zending ing Tanah Djawi semakin mengajak diriku menelusuri lorong-lorong sejarah: menilik bacaan, tokoh, peristiwa. Aku memang tak terlalu mengerti keberlimpahan referensi tentang Zending di Jawa. Aku menduga referensi-referensi babon tentu berbahasa Belanda, Jerman, Inggris…. Bahasa-bahasa asing itu tak kerasan ada di tubuhku. Aku pun sulit membaca. Mustahil!

Pengisahan tentang zending di Jawa Tengah dan Jogjakarta menggoda keinginan mencari informasi-informasi tambahan. Aku cuma memiliki keterbatasan pengertian saat membaca kutipan-kutipan: “Rawoehipoen Dr. F.L. Bakker djoemeneng goeroe sesarengan kalijan ingkang rama ndjalari saged miwiti cursus enggal mawi basa Welandi. Dados wiwit nalika samanten wonten cursus 2, wonten ingkang mawi basa Djawi, toewin wonten ingkan mawi basa Welandi. Ingkang katjalonaken mlebet cursus Welandi poenika para moerid ingkang tamat sangking pamoelangan Mulo oetawi Chr. H.I.K ing Solo, dados ingkang saged njakep isinipoen boekoe-bokoe basa Welandi. Sarehne boekoe-boekoe ingkang magepokan kalijan agami Kristen ingkang kaseratan mawi basa Djawi taksih awis sanget wontenipoen, mila langkoeng gampil mawi basa Welandi, dados tjalonipoen langkoeng gampil kawoelang bab kawroeh roepi-roepi ingkang boten saged kawoelangaken dateng cursus Djawi, awit boten wonten boekoenipoen….”Woersitagama 2

Di masa kolonialisme, agenda belajar apa saja mengharuskan orang menguasai bahasa Belanda, bahasa penjajah. Belajar agama juga mementingkan bahasa Belanda. Buku-buku untuk belajar sering berbahasa Belanda. Murid-murid di Jawa bakal mendapat keutamaan jika dapat berbahasa Belanda. Buku-buku terbitan berbahasa Jawa masih sedikit, tak mencukupi untuk memenuhi hasrat pembelajar.

Tulisan tentang zending ini serial, hadir di sekian nomor. Aku beranggapan agar serial di Woersitagama bisa diterbitkan sebagai buku: berbahasa Jawa dan berbahasa Indonesia. Orang-orang perlu membaca agar memiliki tautan sejarah di masa 1920-an dan 1930-an, berkaitan sajian pengisahan tentang sebaran agama di Jawa. Aku bisa menerbitkan meski sederhana: garapan tanpa pengantar panjang. Buku ini bakal menarik jika memuat pengantar dari ahli sejarah dan agama. Penjelasan tentang hal-hal pokok mesti ada agar ada kelegaan bagi pembaca.

Aku cuma membaca, sungkan berbagi cerita ke teman-teman mengenai Woersitagama. Teman-teman jarang terlibat obrolan bertema gereja, pendeta, Alkitab, zending…. Aku masih menanti perjumpaan dengan orang-orang dengan minat sama atau sejalan. Aku berharap mendapat penjelasan-penjelasan, tambahan referensi, ajakan berdiskusi. Begitu.

Iklan