Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

 Solo, sejak awal abad XX, sering berjuluk “kota kongres”. Sekian kongres pernah dilangsungkan di Solo, dari kongres tentang Jawa sampai kongres tentang bahasa Indonesia. Kongres-kongres terus dilangsungkan setelah Indonesia bertumbuh dengan mantra revolusi dan pembangunan. Solo adalah “kota kongres”, memuat pengertian-pengertian heboh dengan peristiwa dan kehadiran tokoh-tokoh kondang. Oh, Solo!
LIPI 1
Aku tak ingin terlalu cerewet mengisahkan Solo. Ada sejarah lain, sejarah Malang sebagai “kota kongres”. Informasi ini terdapat di buku Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama 1958, terbitan Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Kementerian Penerangan R.I. Prof. Dr. M. Sardjito, 1 Oktober 1958, memberi keterangan: “Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama jang telah dilaksanakan di Malang dari tanggal 3 sampai dengan 9 Agustus 1958 adalah usaha Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI).” Peristiwa kongres itu menggunakan dasar Undang-Undang No. 6 Tahun 1956 tentang Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, pasal 3 sub a. Misi MIPI: “Memadjukan dan membimbing dalam arti kata jang seluas-luasnja usaha dan kehidupan pada lapangan ilmu pengetahuan, dengan berpedoman kepada kepentingan nasional pada chususnja dan kepentingan perdamaian dan umat manusia pada umumnja.’
Malang? Aku cuma memiliki sedikit memori tentang Malang. Memori itu berkaitan dengan tulisan dan teater. Aku pernah ke Malang, mengikuti acara ilmiah, bertaraf nasional. Ha! Tulisanku tentang etika politik dan kartun mesti disampaikan di depan dewan juri, kumpulan orang bergelar. Aku tak bisa memberi keterangan di depan menggunakan perangkat-perangkat teknologi. Mulut dan tatapan mata jadi andalan. Dewan juri dan publik memberi perhatian, tepuk tangan. Aku terdiam, tak merasa ada “kesuksesan”. Peristiwa itu tentu berbeda dengan acara MIPI: Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional. Aku tak bergairah mengingat acara ilmiah saat aku dianggap lelaki kampungan, tak tampil parlente sebagai peneliti.
Ingatanku justru ke sepatu. Aku berangkat ke Malang dengan bekal terbatas, sepatu rusak dan pakaian-pakaian kusut. Sepatu rusak, tak bisa digunakan. Detik-detik menjelang aku berceramah, pihak pengurus kampus mengajak ke toko sepatu. Aku dibelikan sepatu agar tampak pantas. Mereka malu jika melihat aku berceramah di depan dengan sepatu jebol, menurunkan martabat kampus. Oh! Sepatu itu tak mempengaruhi “selera” juri agar memberi “kemenangan”. Aku ada di urutan 4. Aku tak mau berurusan dengan hal-hal ilmiah lagi. Aku mengingat Malang adalah sepatu baru. Hi!
LIPI 2
Peristiwaku sepele, tak setara dengan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasioanal I. Soekarno berpidato di akhir acara. Seruan Soekarno di depan kaum cendekiawan: “Saja sudah lebih dari 30 tahun didalam balairung-balairung ilmu pengetahuan, balairung jang benar-benar balairung. Tidak masuk didalam ‘halls of science’, tidak mendjadi mahasiswa lagi, tidak memberi kuliah-kuliah tiap hari sebagai mahaguru-mahaguru…” Soekarno berlagak sebagai intelektual naif, di luar dunia akademik. Aku tak pernah bertemu Soekarno saat di Malang. Perbedaan waktu tak memungkinkan kami bertemu. Lho! Aku bisa memberi salaman agar Soekarno bangga, tampil sebagai pemikir meski di luar kampus.
Mohammad Hatta, lelaki pintar dan kalem, memberi pidato berjudul Tantangan Masa kepada Ilmu-Ilmu Sosial. Aku juga tak bertemu Mohammad Hatta saat ada di Malang. Lho! Pidato panjang mengesankan Hatta adalah cendekiawan ampuh, manusia berotak cemerlang. Hatta berkata: “… dalam menetapkan tudjuan pandangan hidup dan politik terletak di muka. Berhubung dengan itu sardjana sosial Indonesia hendaklah mempunjai pandangan hidup jang djelas dan pendirian politik jang sesuai dengan itu, sebagai pendukung ilmu jang akan dipergunakan didalam djabatannja jang mengabdi serta penjuluh. Sendi bagi pandangan hidup sendiri itu tidak terutama terletak didalam partai-partai politik, melainkan didalam ideologi negara dan undang-undang dasar negara kita.”
Aku tentu setuju dengan pendata Hatta. Setuju! Orang-orang bergelar di Indonesia terlalu gampang “bersombong”, masuk partai politik dan menjadi anggota parlemen, berdalih demi menunaikan tugas atau pengabdian. Omong kosong! Mereka pasti tak pernah membaca buku Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama 1958. Bacaan mereka adalah buku-buku panduan agar sukses menjadi “manusia partai politik”.
Acara Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional diikuti oleh ratusan sarjana-intelektual dan pejabat. Mereka dibagi ke lima seksi: (1) kedokteran, kedokteran hewan, kedokteran gigi, pharmasi; (2) ilmu alam, pasti dan teknik; (3) biologi; (4) sastra dan budaja; (5) hukum, ekonomi, sosial, politik. Lima seksi bersidang, tulisan-tulisan dan rekaman acara diterbitkan menjadi laporan-laporan ke publik. Indonesia, di masa 1950-an, memiliki orang-orang cerdas, pintar, cemerlang. Hebat! Mereka bersidang di ruang-ruang sederhana, terbagi di pelbagai tempat.
Malang menjadi kota pilihan meski memiliki keterbatasan-keterbatasan: hotel, transportasi, ruang…. Mr. A.G. Pringgodigdo mengajukan permohonan maaf pada para peserta: “Terutama mengenai tempat pondokan atau penginapan saja mohon beribu-ribu ma’af, sebab mungkin sekali ada jang merasa ketjewa dapat tempat jang menurut ukurannja tidak patut bagi seorang sardjana Indonesia.” Aku tak tahu, mereka tidur di atas kasur atau tikar. Aku juga tidak tahu, selama kongres mereka makan nasi, roti, thiwul, sego jagung…. Dua kali ke Malang, aku tak tidur di hotel. Aku terima saja. Oh! Malang berhasil jadi “kota kongres”. Aku mengenang, bercampur nasib diriku selama ada di Malang: berbeda peristiwa dan waktu. Begitu.
Iklan