Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Solo pernah memiliki institusi pendidikan bernama tokoh politik moncer: H.O.S Tjokroaminoto. Aku penasaran, nama H.O.S Tjokroaminoto “diabadikan” di Solo ketimbang nama Samanhoedi untuk misi edukasi. Dua nama itu turut menentukan nasib pergerakan di Indonesia. Mereka meggerakkan Sarekat Islam, mengubah nasib dengan idiom-idiom politik, agama, ekonomi, pendidikan, sosial, kultural. Nama Samanhoedi memiliki jejak panjang di Solo tapi cuma dijadikan nama jalan. H.O.S. Tjokroaminoto justru menjadi nama untuk “perguruan tinggi Islam” atau universitas di Solo.

Pendirian Perguruan Tinggi Islam Tjokroaminoto (1955), berubah menjadi Universitas Tjokroaminoto (1956), representasi dari spirit H.O.S Tjokroaminoto selama mengusung misi-misi besar di saat kolonialisme. Amanat H.O.S Tjokroaminoto: (1) menanam benih-benih kemerdekaan sedjati; (2) menanam benih-benih kesutjian hati, setia dan ketjintaan kepada jang benar; (3) menanam benih-benih peri kebatinan jang halus, keutamaan budi dan kebaikan perangai; (4) menanam benih-benih kehidupan jang salih dan sederhana. Aku mendapatkan petikan amanat ini di buku berjudul 3 Tahun Universitas Tjokroaminoto, terbitan Jajasan Pendidikan Tjokroaminoto, 1958.

Tjokro 1

Soedibjo, Menteri Penerangan RI, memberi sambutan dengan pesan-pesan wagu: “Dan tidaklah bermaksud Universitas Tjokroaminoto mentjitak manusia-manusia jang pandai main mamboo, rock-and-roll, cowboy-cowboyan, alles terwille van de vrijheid – manusia-manusia jang hanja pandai berndendang sajang, hanja pandai mendjadi kumbang dan madunja bunga kesenangan tuan-tuan kapitalis-imperialis jang bersifat internasional.” Aku sulit mengimajinasikan kehidupan mahasiswa di masa 1950-an. Mereka bertumbuh di kota, mengerti situasi sosial-kultural di Indonesia, mendapti informasi-informasi kemajuan dunia di Eropa dan Amerika. Soedibjo menginginkan idealitas: “Maka do’aku kepada para pelajar Universitas Tjokroaminoto: siap-siaplah mendjadi ahli waris jang sah dari Tjokroaminoto.”

Aku belum pernah membaca buku sejarah pendidikan di Solo, sejarah tentang tokoh, sekolah, universitas sebagai institusi di arus pertumbuhan Solo. Pengetahuanku tentang sejarah sekolah-sekolah belum lengkap, mendapati informasi-informasi kecil dari buku sejarah, biografi, novel. Para tokoh politik, sastra, pers, pendidikan pernah bersekolah di Solo, hidup dan menjalani studi di pelbagai sekolah. Solo pernah jadi pusat pendidikan, tak berlanjut setelah kemerdekaan. Keberadaan Universitas Tjokroaminoto tentu berperan dalam realisasi pendidikan di Solo, pembentuk imaji-pendidikan bersama UNS, UMS, UNIBA, UNISRI, UNSA…. Solo di abad XXI mulai tak memiliki pamor sebagai kota pendidikan atau ruang semaian intelektualitas.

Tjokro 2

Sambutan dari Kepada Daerah Kotapradja Surakarta bernama Oetomo Ramelan perlu dikutip agar ada kesan tentang tanggung jawab pemerintah atas dunia pendidikan. Oetomo Ramelan berwajah ganteng, dianggap memihak PKI saat ada geger politik 1960-an. Aku mengutip pendapat-pendapat Oetomo Ramelan berkaitan pendidikan meski Solo pernah berjuluk “kota merah”.

Deskripsi situasi pendidikan di Solo menurut pandangan mata Oetomo Ramelan: “Seperti kita maklumi semua, maka dikota Solo ini terdapat lebih dari satu universitas. Ja ada banjak fakultas-fakultas. Dan kalau kita melihat belakangan ini dan pada waktu-waktu tertentu nampaklah didjalan-djalan banjak pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi kita jang berpakaian agak aneh. Berderet dengan naik sepeda berkeliling kota. dengan pakai topi jang bermatjam-matjam, dengan papan nama dimukanja dimana tertjantum nama jang aneh-aneh dan ada jang menggelikan orang. Maka dengan gedjala-gedjala itu, sepintas lalu seolah-ilah kota kita memberi gambaran tentang penghidupan universitair….”

Tjokro 3

Penggunaan kata-kata oleh Oetomo Ramelan aneh, mengesankan hal-hal tak biasa di mata publik sekarang. Pemandangan kota dan para mahasiswa ibarat teater beraroma kenaifan dan lelucon. Kota Solo menjelma “universitair”, mengisahkan hasrat-hasrat edukasi dan perubahan narasi jalan, pakaian, transportasi, nama…. Aku justru terkesan dengan sambutan Oetomo Ramelan, mengajak diriku “meraba” kehidupan Solo di masa 1950-an.

Keberadaan Universitas Tjorkoaminoto melibatkan kotribusi politis dan amanat dari Soekarno. Amanat dari tahun 1955 disampaikan kembalai oleh Harsono Tjokroaminoto. Amanat di hadapan para mahasiswa: “… jang terpenting bagi para mahasiswa adalah usaha keras untuk menggali apinja Islam dan bukan sekedar melihat tjahaja atau mengkilatnja api Islam itu.” Aku mulai mengingat hubungan H.O.S. Tjokroaminoto dan Soekarno, sejak masa awal abad XX. Dua tokoh itu turut membentuk imajinasi Indonesia melalui pidato-pidato dan tulisan-tulisan. Sejarah hubungan itu dijelaskan ke publik dengan Universitas Tjokroaminoto di Solo. Aku masih bingung dengan alasan-alasan memilih Solo sebagai kota untuk misi edukasi berlabel H.O.S Tjokroaminoto. Aku harus minta keterangan ke ….

Buku setebal 228 halaman ini mengandung sejarah (pendidikan) di Solo meski tak dimiliki oleh para ahli sejarah, ahli perkotaan, ahli pendidikan di Solo. Aku memang berhasrat membuta esai-esai pendek mengenai Solo dan pendidikan meski terbatas dalam lacakan sumber informasi. Solo terlalu lama diabaikan sebagai kota bersejarah di Indonesia, berkaitan sekolah dan universitas. Solo pun mulai jarang “memunculkan” sarjana atau intelektual ampuh dalam peta pemikiran di Indonesia. Begitu.

Iklan