Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Kebiasaan mencari, mengumpulkan, membaca buku-buku lawas sulit mengelak dari kejutan-kejutan, sulit diramalkan dan tak membongkar semua “rahasia”. Aku sering tak menggubris paras buku. Kejutan sering muncul saat melihat buku berparas jelek, lusuh, rusak. Buku itu memandangku? Aku merasa buku memandangku dulu sebelum aku membalas pandangan. Adegan ini mirip asmaranisme di kebun belakang rumah. Oh! Buku itu tentu menantiku telah lama, berjuta detik. Aku terpilih sebagai pembaca dan pemilik.

Buku kecil dan tipis, kondisi hampir rusak. Aku lekas meminta teman menggandakan buku itu agar tak hilang jejak. Buku itu berjudul Singiran Nasjiatoel-‘Aisjijah (1932), terbitan ‘Aisjijah, Soerakarta alias Solo. Buku setebal 36 halaman, berisi lagu-lagu berbahasa Jawa, Belanda, Indonesia. Ada tulisan Arab tapi tak dilagukan. Aku cuma bisa membaca lirik-lirik lagu, tak bisa melagukan. Mengejutkan! Lirik-lirik lagu mengandung pesan-pesan agama, pendidikan, sosial, politik….

Singiran 1

Halaman sambutan berisi keterangan dalam bahasa Jawa: “Sasampoenipoen koelo sadojo pangreh Nasjiatoel-‘Aisjijah ngatoeraken salamipoen lare-lare Nasjiatoel-‘Asjijah dateng poro maos, biten kasoepen kito Nasjiatoel-‘Aisjijah matoer Alchamdoe Lillah dene ing wekdal poeniko Nasjiatoel-‘Aisjijah sampoen ngedallaken boekoe sjiiran ingkang isi pitoetoer dateng poro lare-lare lan saged bingahaken manahipoen poro Nasjoatoel-‘Aisjijah.”

Aku membaca buku ini dengan ingatan hari-hari bersekolah dan Ramadhan. Murid-murid telah masuk sekolah, mencari ilmu dan jemu. Lirik-lirik lagu tentang pendidikan atau sekolah terasa sederhana, gampang dilantukan oleh bocah.

kembang gedang kembang nipah

kok seneng akoe

saiki akoe sekolah Boestanoel Atfal

biso noelis lan ngibadah

etoeng lan motjo

lan di woelang totokromo

dimen soesilo

Idealitas pendidikan berbasis Islam juga dilantunkan dalam sekian bait, mengajarkan bocah untuk rajin belajar dan optimis dalam mengamalkan ilmu. Lirik-lirik ini mengesankan ada siasat mengimpikan masa depan secara berirama, menghibur tapi mengena.

besoek jen pinter sopoto ingkang nemoe

kadjobo kito, romo sarto iboe

soemrambah mring poro mitro bangsakoe

kanti tansah ngibadah mring pangerankoe

Bersekolah dan beribadah adalah motif fundamental. Motif ini mulai tampak dalam pemberlakuan kurikulum terbaru. Aku pernah kaget saat mendapati analisis Asvi Warman Adam: “Kurikulum 2013 mengandung kehendak syariah.” Pelbagai mata pelajaran bermisi agama, tanpa penjelasan tentang relevansi dan kebermaknaan. Pembuat kurikulum cuma membuat kalimat-kalimat bernafas agama, tak memberi tafsiran-tafsiran terang.

Aku juga tertarik dengan lirik-lirik lagu mengandung pesan agama. Lagu berjudul Lagoe Nasjijah, berbahasa Indonesia, menampilkan suka cita dan pamrih berorganisasi demi agama. Aku tergoda untuk mencari tahu si penggubah lagu dan pembuat lirik. Lagu ini memberi kabar-sejarah di Solo.

kami poen bersoeka tjita

d’ini hari terpenting

menjaksini dengan njata

kepada vereeniging

Moehammadijah di Solo

tetap sepoeloeh taoen

marilah berdjoenjoeng tangan

amien kepada Toehan

amien boekan boeatan

hoofd berstuur – hoofd bestuur jang memberi iman

Aku tak tergabung di NU atau Muhammadiyah meski terus mempelajari dua organisasi-keagamaan terbesar di Indonesia, berdalih mengerti dan berinteraksi dengan mereka. Ingatanku mengarah ke polemik tak selesai tentang undang-undang ormas. Polemik di koran, majalah, televisi menimbulkan keramaian opini, membuat ketidakbecusan pemerintah dan parlemen dalam “mengerti” kesejarahan dan peran organisasi. Aku tak mau ikut emosional. Oh! Aku ingin mengutip bait tentang makna organisasi dan Indonesia di masa silam.

Moehammadijah bekerdja

dalem Indonesia

selaloe mendjadi toentoenan

hingga di ini malam

tetap teroes bekerdja

poetrinja tak ketinggalan

makalah diperkenanken

oleh Toehan jang Moelja

dengen insjaf bekerdja

marilah soedara, mendjoendjoeng Igama

Aku belum mengerti makna buku ini dalam arus kesejarahan Muhammadiyah di Solo. Buku lagu berbahasa Jawa, Belanda, Indonesia menjadi representasi kesadaran untuk mengontekstualisasikan agama berlatar zaman “kemadjoean”. Keberadaan sekolah, kontribusi organisasi, pemaknaan Indonesia, pesona bahasa bercampur dalam mendokumentasikan etos transformatif. Aku memang pernah membaca buku Alfian tentang Muhammadiyah meski belum mendapati informasi-informasi berkaitan lagu dan biografi para penggerak Muhammadiyah beraroma seni-kultural, merujuk ke Solo.

Singiran 2

Aku mengoleksi buku-buku lawas tentang Muhammadiyah tapi belum mulai merancang membuat tulisan-tulisan pendek atau panjang. Agenda membaca dan mengoleksi mesti membutuhkan informasi-informasi, perjumpaan-perjumpaan dengan  para peneliti atau pengurus. Buku-buku lawas turut memberi rangsangan mengerti Indonesia melalui organisasi, lagu, sekolah, tokoh….

Aku berdoa agar tulisan tentang buku Singiran Nashiatoel-‘Aisjijah bakal mengantarku bertemu pelaku sejarah atau peneliti tentang Muhammadiyah. Amin. Aku cuma ingin mendapat keterangan-keterangan tambahan, menggenapi penasaran dan menerangkan kebermaknaan referensi lawas agar tak membisu. Begitu.

Iklan