Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku pernah berpikiran menjadi petani, beribadah di sawah sepanjang masa. Keinginan itu berbeda dengan kabar di desa. Jumlah petani merosot, sawah-sawah sudah jadi rumah. Aku pernah menulis esai berjudul Habis Sawah Terbitlah Rumah di Suara Merdeka, sekian tahun silam. Aku belum bisa jadi petani, sawah lekas habis. Aku juga belum sempat mencatat-menulis kisah para petani di desaku, sebelum punah. Hasratku jadi petani cuma bisa terwujud ke penulisan esai-esai tentang petani, sawah, pertanian…. Aku pun mengoleksi buku tentang pertanian dan desa, ratusan buku, dari buku lawas sampai buku baru. Agenda ini bisa mengingatkanku atas biografi simbok, buruh tani saat aku masih bocah.

Buku-buku lawas tentang pertanian selalu mengandung pesona, tak habis meski waktu berlalu, jauh dan jauh. Aku terpesona buku berjudul Almanak Pertanian 1953, terbitan dari Badan Usaha Penerbit Almanak Pertanian, Jakarta, 1952. Buku dengan kemasan apik, sampul bersahaja, tebal 388 halaman. Redaksi dalam kata pengantar memberi keterangan: “… Didalam almanak ini dimuat djuga antara lainnja, dengan setjara capita selecta, beberapa karangan dari achli-achli didalam lapangan pertanian, perikanan, kehewanan, kehutanan dll, jang perlu diketahui dan oleh karenanja mendapat perhatian umum.”

Buku ini memerlukan legitimasi politis, memuat pidato-pidato dari Soekarno dan Mohammad Hatta. Kehadiran mereka tampak menguatkan pesan almanak bagi publik, berkonsekuensi besar atas pamor negara dan ambisi menggerakkan pertanian di Indonesia. Judul pidato Soekarno sensasional: Soal Hidup atau Mati?seruan Soekarno: “Setjepat mungkin kita harus membangunkan kader bangsa diatas lapangan makanan rakjat, kalau mungkin laksana tjendawan dimusim hudjan. Setjepat mungkin kita membutuhkan paling sedikit 350 insinjur pertanian, 150 ahli kehutanan, ratusan ahli seleksi, ratusan ahli pemberantas hama, ratusan ahli pemupuk, ratusan ahli tubuh-tanah, ratusan ahli irigasi-pertanian-rakjat, ratusan ahli kechewanan, – dokter-dokter chewan dan ahli-ahli pemelihara ternak….” Aku merasa ini repetisi puisi, buaian kata dalam revolusi pertanian di Indonesia.

Sambutan dari Menteri Pertanian Mohd. Sardjan terkesan biasa, wajar dan bertaburan slogan-slogan pemerintah. Judul tulisan: Kedudukan Pertanian dalam Ekonomi Indonesia dan Kemungkinan-Kemungkinannja. Kutipan penjelasan tentang nasib Indonesia di perekonomian dunia: “Indonesia harus mentjukupi seluruh kebutuhan hidupnja dari hasil produksi jang masih sangat terbatas dan masih tetap tergantung dari gelombang naik-turun harga pasar dunia jang belum pernah dapat kita kuasai dilapangan bahan mentah pertanian.” Aku ingin membandingkan penjelasan ini dengan penjelasan para pejabat di lingkungan pertanian, di masa pemerintahan SBY. Aku selalu ragu, kebijakan-kebijakan pemerintah memberi “kesejahteraan” dan “kelegaan” di Indonesia. Pertanian tak pernah beranjak dari ironi, getir, keapesan. Aduh!

Aku justru tertarik singgungan sejarah dalam tulisan Mr. Soebagjo Djojowidagdo berjudul Kedudukan Kementerian Pertanian dalam Masjarakat. Kutipan sederhana untuk mengingat jejak nasib pertanian di Indonesia, berlatar konstitusi dan institusi pemerintahan. Mr. Soebagjo Djojowidagdo menulis: “Kementerian Pertanian adalah satu kementerian baru dalam negara Republik Indonesia jang didirikan pada 16 Djanuari 1950. Sebelum waktu itu untuk Kementerian Pertanian, mulai djamam Belanda, selalu mendjadi satu dengan Kementerian Perekonomian (mula-mula Landbouw-Nijverheid & Handel, lalu Economische Zaken dan kemudian Kementerian Kemakmuran). Pemetjahan Kementerian Kemakmuran mendjadi dua kementerian ja’ni: perekonomian dan pertanian jang masing-masing dipimpin oleh seorang menteri jang bertanggung djawab penuh adalah langkah jang bidjaksana dan sesuai pertumbuhan-pertumbuhan dilapangan pertanian dalam arti kata jang luas.”

Aku mulai sangsi, publikasi buku-buku pertanian marak di Indonesia. Koleksiku memang belum berlimpah tapi kabar penerbitan buku-buku pertanian selalu sepi, dari garapan tema sejarah sampai politisasi. Aku pernah memiliki optimisme saat YOI menerbitkan serial buku tentang pertanian. Kabar itu tak berlanjut, tertinggal di masa silam sebagai memori. Pertanian jarang dianggap sebagai tema paling menentukan untuk nasib Indonesia. Aduh!

Urusan keapesan pertanian di Indonesia sering menimbulkan emosi. Aku ingin reda dengan jeda menikmati iklan-iklan dalam Almanak Pertanian 1953. Puluhan iklan hadir, memberi nuansa nalar komersial. Iklan menggoda ada di halaman 294 tentang perbedaan “pertanian modern” dan “pertanian zaman dahulu kala.” Iklan ini keterlaluan! Aku merasa ada bias, pemunculan makna dikotomik tanpa argumentasi mumpuni.

Isi iklan dari Mirandolle Voute & Co.NV: “Produksi berlipat ganda oleh karena Pak Tani memakai bahan-bahan hatsil dari kemadjuan pesat dari pada ilmu-ilmu alam….” Iklan ini menjajakan pupuk. Pembaca dipersilakan tergoda, membeli pupuk-pupuk itu di Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Pontianak. Iklan-iklan pertanian, dari dulu sampai sekarang, mengandung pesan-pesan aneh. Pesan kontradiktif justru menimbulkan resah dan destruktif.

Aku menganggap Almanak Pertanian 1953 adalah bacaan untuk mengenang “roman pertanian” di Indonesia, di masa 1950-an, saat revolusi dikumandangkan sepanjang hari. Revolusi tak sanggup memartabatkan petani atau meninggikan tema pertanian. Kisah itu berlanjut di masa Orde Baru, terjerat di nalar pembangunanisme. Begitu.

Iklan